2

5 cm (2012)

Labels: ,


"Bangsa yang besar ini juga harus punya mimpi" - 5cm. Kalimat tersebut menjadi pembuka film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Novel 5 cm ditulis oleh Donny Dhirgantoro yang juga menjadi penulis skenario film ini. Novelnya sendiri menjadi best seller dalam negri. Pada dasarnya jika bereferensi pada kalimat pembuka film ini, tentunya 5 cm akan mengangkat tema nasionalisme selain tema persahabatan yang menjadi titik utama kisah yang diceritakan dalam film ini. Lalu sejauh apakah nasionalisme yang diangkat dalam 5 cm? Mungkin ada baiknya satu per satu kita telusuri seperti apa film yang menjadi film pertama Rizal Mantovani yang diadaptasi dari novel.

Setelah petikan pembuka film ini yang diambil langsung dari bukunya, saatnya berkenalan dengan 5 tokoh utama yang telah menjadi sahabat selama bertahun-tahun. Mereka adalah Arial (Denny Sumargo), Ian (Igor Saykoji), Genta (Fedi Nuril), Riani (Raline Shah) dan Zafran (Herjunot Ali). Bertahun menjadi sahabat dan selalu bersama setiap hari hingga terlintas di pikiran mereka untuk berpisah sementara dan bertemu lagi demi melakukan sesuatu yang menakjubkan. Tiga bulan berlalu sejak perpisahan mereka dan kelimanya bertemu kembali di Stasiun Senen demi memulai perjalanan menaklukkan puncak gunung tertinggi di Pulau Jawa, Mahameru.


Kelima sahabat yang tampil dalam film ini memiliki karakter yang berbeda-beda, Arial yang gemar fitness namun pemalu dalam menghadapi orang baru, Ian yang gendut tak lepas dengan indomie dan koleksi filmnya yang membuatnya tidak lulus, Genta yang berjiwa pemimpin, Riani yang merupakan perempuan cerdas dan Zafran yang puitis tapi sedikit 'gila'. Selain kelima orang itu, ada satu orang lagi yaitu Arinda atau Dinda yang diperankan oleh Pevita Pearce. Dinda adalah sosok perempuan polos tapi cantik dan seksi. Tak heran bila seorang Zafran bisa jatuh hati kepadanya. Dengan bermacam karakteristik tersebut bisa terbayang bagaimana jadinya jika mereka saling berinteraksi.


Separuh pertama film ini memang digambarkan dengan kisah-kisah persahabatan, mimpi dan cinta yang dibumbui lelucon yang tak hentinya menghibur. Semakin jauh ke dalam cerita, semakin dalam pula kisah persahabatan yang berusaha ditampilkan. Memang jika berbicara soal ini film ini sanggup berbicara banyak. Bisa dibilang persahabatan yang diangkat di sini cukup lengkap, senang dan sedihnya persahabatan, bahkan hubungan cinta yang harus muncul disela-sela persahabatan. Lalu bagaimana dengan nasionalisme yang serta merta diangkat pada kalimat awal film. Film ini memang berambisi untuk berbicara banyak tentang nasionalisme tapi tanpa pijakan yang kuat semua itu seolah terasa kosong. Tanpa ada alasan yang dijelaskan di awal film tapi menjelang akhir seolah nasionalisme ini tiba-tiba tumbuh dan berakar kuat.

Walaupun begitu, ada sisi yang menjadi kekuatan daripada 5 cm. Memasuki paruh kedua film saat para petualang ini mulai memasuki petualangan mereka di Gunung Semeru, 5 cm menampilkan sebuah pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Salut bagi tim sinematografi yang berhasil menyajikan gambar-gambar indah. Selain itu, sisi musik pengiring bisa menjadi salah satu kelebihan daripada 5 cm. Musik yang didukung oleh Nidji memberikan tambahan energi pada perjalanan petualang penakluk titik tertinggi di Pulau Jawa.

5 cm pada awalnya cukup ambisius untuk bisa berbicara banyak soal nasionalisme, ditunjukkan dengan sebuah petikan pembuka sebelum film. Namun apa daya ketika tak ada unsur nasionalisme yang jelas yang ingin disampaikan di sini namun tiba-tiba menjelang akhir film seolah nasionalisme sudah menjadi akar. Kisah manis persahabatan yang telah dipupuk dengan baik sejak awal seolah hilang dan kosong ketika seluruh karakter memasuki Gunung Semeru, yang disajikan hanyalah pemandangan alam indahnya Gunung Semeru tanpa berbicara banyak soal indahnya persahabatan atau hubungan cinta antar karakter. Sehingga akhirnya 5 cm hanya menjadi film yang diingat dari indahnya gambar yang disajikan dan mudah dilupakan dari sisi cerita.


RATE : 3.5 / 5

0

The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)

Labels:


Bagi fans trilogi Lord of the Rings, siapa yang tidak ingat dengan kalimat "My Precious" yang selalu diucapkan Gollum. Bernostalgia dengan trilogi tersebut adalah yang bisa dilakukan oleh fans hingga saat diumumkan bahwa The Hobbit akan dibuat filmnya oleh Peter Jackson, pastinya para fans menjadi tidak sabar untuk menyaksikannya. The Hobbit sendiri merupakan prekuel daripada Lord of The Ring. Pada awalnya The Hobbit akan dibagi menjadi 2 film yaitu An Unexpected Journey dan There and Back Again. Namun pada saat mendekati perilisan An Unexpected Journey, diputuskan bahwa The Hobbit akan dibuat dalam trilogi.

The Hobbit membawa kita kembali ke Middle Earth, kali ini kisah berputar pada Bilbo Baggins. Masih ingat kan dengan Frodo Baggins dalam trilogi Lord of the Rings, seorang Hobbit yang ditugaskan untuk membawa One Ring ke Mordor untuk dihancurkan. Bilbo Baggins adalah paman daripada Frodo Baggins. Dalam Fellowship of the Ring sendiri tokoh Bilbo Baggins juga sudah dikenalkan pada bagian awal film dimana saat itu One Ring berada di tangan dia sebelum akhirnya diberikan kepada Frodo.


Pada masa ini, Bilbo Baggins yang sudah tua duduk dengan pena di tangannya menuliskan cerita di selembar kertas. Saat kemudian Frodo datang hingga ia menghentikan tulisannya tersebut. Sesaat Frodo pergi untuk menyambut kedatangan Gandalf, Bilbo duduk termenung di kursi halaman rumahnya seraya menghisap rokoknya, ia mengenang pertemuan pertamanya dengan Gandalf. Gandalf the Gray, salah satu penyihir di Middle Earth memilih dan membuat Bilbo bergabung dengan sekelompok kurcaci dalam petualangan mereka mendapatkan kembali tanah asal mereka yang diambil oleh seekor naga bernama Smaug. Dari sinilah petualangan The Hobbit dimulai.

Meet the new Fellowship of the Journey, Mereka adalah 13 kurcaci yaitu Nori, Fíli, Dori, Bofur, Glóin, Dwalin, Balin, Óin, Bombur, Bifur, Ori, Kíli dan terakhir adalah Thorin yang merupakan pewaris dari kerajaan kurcaci yang direbut oleh Smaug. Selain tokoh baru yang disebut tadi juga ada beberapa tokoh yang pernah muncul dalam trilogi LoTR. Selain Gandalf, ada Galadriel, Elrond, Saruman dan tidak lupa Smeagol aka Gollum. Kembalinya tokoh lama tersebut juga menandakan beberapa pemeran yang kembali muncul, seperti Ian McKellen, Cate Blanchett, Hugo Weaving, Christopher Lee dan tidak lupa Andy Serkis yang memerankan Gollum dengan teknologi motion capture. Martin Freeman yang berperan sebagai Bilbo memberikan ciri khas baru, gaya dan karakter Bilbo sudah mulai melekat pada diri pemeran Watson dalam serial TV Sherlock ini.


Dari sisi teknis The Hobbit sudah tidak perlu diragukan lagi. Dengan bahan dasar dan racikan yang sama seperti LoTR pendahulunya menghasilkan sebuah tontonan yang sama menariknya. Visual The Hobbit kembali menghadirkan gambar-gambar indah daratan Middle Earth yang dibawa dari daratan Selandia Baru tempat pengambilan gambar The Hobbit, keindahan panorama alam yang dirindukan sejak kehadiran LoTR. Ditambah musik pengiring yang semakin menggambarkan megahnya dunia fantasi J.R.R. Tolkien.

Yang berbeda dari The Hobbit adalah penggunaan format 3D dan pengambilan gambar dengan frame rate 48fps. Untuk frame rate saya sendiri belum bisa berkomentar karena belum menyaksikan untuk format ini sedangkan untuk format 3D, bila berharap 3D yang eye-popping anda tidak akan menemukannya di sini. Penggunaan format 3D dalam The Hobbit lebih mengedepankan kedalaman gambar ketimbang adegan yang eye-popping. Setidaknya format 3D bisa membawa merasakan dunia Middle Earth lebih jauh.

The Hobbit yang pada awalnya cukup diragukan apakah bisa menjadi sehebat seri LoTR hingga banyak yang menurunkan ekspektasinya tak disangka tetap dapat menghasilkan sebuah tontonan yang hebat. The Hobbit: An Unexpected Journey membuka trilogi baru dari buah karya J.R.R. Tolkien. Dengan durasi hampir 3 jam, film ini sama sekali tidak membosankan, dengan petualangan yang lebih berwarna dan kisah yang lebih jenaka, Peter Jackson benar-benar menjadikan An Unexpected Journey sebagai kisah petualangan bagi semua umur.


RATE : 4.5 / 5

2

Life of Pi (2012)

Labels: ,


"You have a story that makes me believe in God", sebuah kalimat yang terlontar dari seorang penulis kepada seorang pria India yang duduk di hadapannya. "As for God, I can only tell you my story" jawab pria India tersebut. Suasana percakapan santai di meja makan itu seketika menjadi serius. Piscine Molitor Patel nama pria India itu atau biasa dia dipanggil Pi. Pi lahir dan dibesarkan dalam keluarga Hindu di Pondicherry, sebuah wilayah Perancis di India. Walaupun besar dalam keluarga Hindu tidak menutup ia mempelajari agama lain, seperti Kristen dan Islam.

Beranjak remaja, Pi mendapati keluarganya harus pindah meninggalkan India ke Kanada membawa seluruh penghuni kebun binatang milik keluarganya. Menumpang kapal kargo Jepang, siapa sangka itu menjadi perjalanan terakhir mereka bersama, Pi menjadi satu-satunya manusia yang selamat dari tenggelamnya kapal itu, walau di atas sekoci penyelamat itu ia tidak sendiri. Ada makhluk hidup lain yaitu seekor harimau Benggala bernama Richard Parker yang menemaninya. Ini bukanlah perjalanan mencari Tuhan, tapi membuktikan bahwa Tuhan itu ada.


Sebuah opening title yang indah digambarkan dengan hewan-hewan penghuni kebun binatang diiringi musik berjudul Pi's Lullaby membuka gerbang menuju petualangan kisah Pi. Life of Pi sendiri diangkat dari novel karya Yann Martel. Novelnya sendiri cukup sukses, terbukti dengan diraihnya penghargaan Man Booker Prize pada tahun 2001 saat novel itu dirilis di Inggris. Berangkat dari situ, David Magee menulis screenplay yang kemudian dituangkan dalam film Life of Pi oleh Ang Lee.

Sebagai Pi remaja, Ang Lee menunjuk Suraj Sharma yang merupakan penampilan perdananya. Suraj sendiri pada awalnya hanya menemani sang kakak untuk casting namun tak disangka malah dirinya yang terpilih. Sedangkan Pi yang menjadi narator dalam kisah ini diperankan oleh Irrfan Khan. Selama terdampar di lautan pasifik, Pi ditemani oleh seekor harimau Benggala, namun pada aslinya tak satu adegan pun Suraj Sharma bersama harimau tersebut saat pengambilan adegan. Sepenuhnya Richard Parker merupakan hasil teknologi CGI dan hanya sedikit adegan di film ini yang menggunakan harimau asli.



Dibuat dalam format 3D, Life of Pi seolah menjawab keraguan penggunaan format 3D untuk genre drama seperti ini. Keindahan visual Life of Pi yang menjawab itu semua. Film ini membawa penontonnya ke petualangan yang benar-benar nyata. Gambar-gambar indah yang dihasilkan serta kepandaian dalam memanfaatkan format 3D yang sebenar-benarnya seakan membuat tak henti-hentinya mulut ini berkata "WOW". Sepenuhnya Life of Pi akan membawa menyelami alam imajinasi buatan Ang Lee.

Bukan hanya keindahan visual yang ditawarkan oleh Life of Pi tapi juga cerita tentang teologi secara universal. Hampir setiap dialog dari film ini meninggalkan bekas dalam bagi mereka yang menontonnya. Alhasil tidak cukup sekali menyaksikan film ini, bukan sekedar menikmati keindahan visualnya melainkan juga demi mendalami makna dari setiap dialog yang terucap. Akhir kata Life of Pi menyajikan tontonan yang lengkap baik dari sisi drama maupun visual membawa penontonnya ke dalam sebuah pengalaman cinematic yang tentunya tak akan terlupakan.


RATE : 5 / 5

1

The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2 (2012)

Labels: ,


Menutup sebuah saga Twilight, Breaking Dawn yang merupakan bagian akhir dari tetralogi Twilight Saga dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama yang menceritakan pernikahan Bella Swan dengan Edward Cullen hingga kehamilan dan kelahiran anak setengah manusia setengah vampir. Dimana pada bagian pertama ini lebih menekankan sisi drama dan pengembangan beberapa karakter penting sebelum mencapai tingkat akhir dari franchise Twilight.

Bagian kedua ini melanjutkan apa yang terjadi pada bagian pertama dimana Bella (Kristen Stewart) setelah melahirkan diubah menjadi vampir oleh Edward (Robert Pattinson) agar ia bisa tetap hidup. Dengan kehidupan barunya sebagai vampir, Bella harus membiasakan dirinya dengan memburu mangsa demi setetes darah dan juga menahan nafsunya terhadap darah manusia dan perubahan menjadi vampir ini juga menjadikan Bella yang terkuat di antara vampir keluarga Cullen. Sementara itu, anak Bella dan Edward yang baru lahir Renesmee mengalami pertumbuhan dengan cepat dan Volturi yang menganggap Renesmee adalah "Immortal Child" menyatakan keluarga Cullen telah melanggar peraturan dan mereka harus dihakimi.


Fokus cerita pada bagian kedua ini adalah Renesmee, anak dari pasangan Edward dan Bella, selain itu ada beberapa karakter baru yang diperkenalkan satu per satu. Karakter baru ini bukanlah hanya sekedar tempelan, tapi satu per satu coba digali baik latar belakang mereka maupun kekuatan masing-masing. Berbicara tentang Bella yang telah berubah menjadi vampire, dalam bagian awal dari Breaking Dawn Part 2 ini menegaskan bagaimana seorang Bella dengan kekuatan barunya dan bila dibandingkan dengan Bella yang dulu, kali ini karakter Bella lebih ter-eksplor dengan baik, hanya lebih baik tapi bukan berarti yang terbaik.

Tentunya tidak mudah bagi Bill Condon sebagai sutradara bagian akhir dari Twilight Saga untuk menutup franchise ini dengan baik. Bagian pertama dari Breaking Dawn yang terasa datar tanpa pengembangan karakter yang baik membuat penikmat franchise ini menaruh harapan pada Breaking Dawn Part 2. Tetap menyajikan romansa cinta yang dinanti penonton remaja tapi tak membuat Breaking Dawn Part 2 sepenuhnya membosankan di paruh pertama film ini. Beberapa adegan dan dialog yang dibumbui lelucon pada akhirnya bisa membuat penonton tersenyum simpul bahkan tertawa.


Memasuki paruh kedua hingga ke akhir film merupakan bagian paling menarik dalam Breaking Dawn Part 2. Dalam sekejap Bill Condon mengubah genre drama menjadi total action film. Apalagi kalau bukan kontra antara dua kubu vampire yang mendukung keluarga Cullen ditambah kumpulan werewolf berhadapan dengan kelompok Volturi. Menutup film ini, Breaking Dawn Part 2 memberikan sebuah sajian manis yang akan menjadi kenangan penikmat franchise ini, sebuah ending credit yang diiringi lagu A Thousand Years dari Christina Perri menjadi persembahan terakhir franchise ini.

Menutup Twilight Saga, Breaking Dawn Part 2 menjadi sebuah film yang dicintai dan juga dibenci. Dicintai bagi mereka penikmat franchise ini atau mereka yang sekedar menjadi penikmat film, dibenci bagi para fans berat Twilight karena mereka harus berpisah dengan Edward, Jacob dan juga Bella. Namun pada akhirnya seorang Bill Condon berhasil membuat Breaking Dawn Part 2 bisa menjadi yang terbaik dari seri Twilight sekaligus menutup perjalanan panjang franchise ini. Jadi, saatnya mengucapkan salam perpisahan pada Bella, Edward dan Jacob.


RATE : 3 / 5

0

Atambua 39° Celsius (2012)

Labels: ,


Cukup lama sudah duet Mira Lesmana dan Riri Riza sebagai produser dan sutradara menelurkan hasil buah karya mereka. Hampir semua film yang dihasilkan oleh duet ini sukses di pasar film Indonesia. Sebut saja Petualangan Sherina yang menjadi titik awal kerjasama mereka, atau Ada Apa Dengan Cinta, film drama cinta fenomenal yang masih digandrungi hingga saat ini. Film terakhir duet ini adalah Sang Pemimpi yang sekuelnya bukan mereka lagi yang menangani. Jadi sudah sekitar 3 tahun mereka vakum sejak Sang Pemimpi dan kini akhirnya mereka kembali lagi ke kancah perfilman Indonesia dengan Atambua 39° Celsius.

Atambua 39° Celcius mengangkat konflik sosial di Atambua, sebuah kota kecil di dekat perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste, tepatnya di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Sudah 13 tahun berlalu sejak referendum Timor Timur yang menyebabkan propinsi itu lepas dari NKRI dan membentuk negara baru bernama Timor Leste. Mereka yang memilih agar Timor tetap berada di bawah NKRI memilih untuk mengungsi dan tinggal di Atambua. Sedang bagi mereka yang memilih merdeka kembali ke tanah mereka Timor Leste. Konflik perbatasan yang berkepanjangan ini mungkin tak ada bedanya dengan yang terjadi di perbatasan Kalimantan atau perbatasan Papua.


Mereka warga Timor memang diberi pilihan tapi tidak semuanya bisa memilih, ada juga yang terpaksa. Joao (Gudino Suares) adalah salah satu dari warga Timor yang terpaksa tinggal di Atambua karena Ronaldo (Petrus Beyleto), ayahnya yang membawanya ke tempat itu. Ronaldo sendiri menginginkan tanah Timor berada di bawah NKRI tapi bagi Joao itu tidak penting. Keinginan dirinya hanya satu, yaitu bisa bertemu kembali dengan ibunya yang bertahan di Timor Leste bersama anggota keluarganya yang lain. Kini yang bisa ia lakukan hanya mendengarkan rekaman kaset yang berisi suara ibunya memohon agar Ronaldo membawa pulang Joao. Hal ini membuat hubungan ayah dan anak tidak berjalan dengan baik, Ronaldo yang sering mabuk-mabukan dan kadang membuat onar seolah tidak peduli dengan Joao. Joao sendiri lebih disibukkan dengan aktivitasnya bersama teman-temannya.

Di tempat lain ada Nikia (Putri Moruk) yang memutuskan kembali ke Atambua untuk mengunjungi makam kakeknya Mathius. Menempati rumah yang ditinggalkan sang kakek yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal Joao. Selama di tempat itu Nikia bermaksud untuk merawat makam sang kakek, tapi apa daya bayangan sang kakek selalu muncul saat Nikia berada di rumah tersebut. Di sisi lain, Joao yang sepertinya memiliki hubungan masa lalu dengan Nikia mulai menaruh perhatian pada dirinya.

Dalam momen kembalinya Riri Reza ke perfilman Indonesia, ketimbang membuat film yang bernuansa drama murni, ia lebih memilih membawa gaya dokumenter ke dalam Atambua 39° Celcius. Di film ini Riri membawa penontonnya ke dalam perjalanan kehidupan 3 tokoh fiksi yang dibuatnya yaitu Joao, Ronaldo dan Nikia. Sebagai penonton, kita akan dibawa bermain ke dalam pemikiran mereka, mencoba merasakan apa yang mereka rasakan. Memang sejak awal kita akan dibuat bingung apa arti dari ketiga tokoh ini lakukan, pertanyaan demi pertanyaan akan muncul, apa dan kenapa. Tapi seiring dengan berjalannya film yang berdurasi sekitar 87 menit ini semua akan terjawab.


Sepertinya sudah menjadi kewajiban bagi film yang mengangkat tema sosial suatu daerah untuk juga mengangkat kehidupan sosial budaya yang sudah melekat di daerah tersebut. Begitu juga dengan Atambua 39° Celcius (2012), film ini tidak hanya mengikuti perjalanan ketiga tokohnya tapi juga mengkaitkannya dengan budaya kota tersebut. Atambua merupakan kota yang mayoritas penduduknya beragama Katolik, tentu upacara keagamaan Katolik sangat erat dengan kota ini. Hal ini diangkat Riri dan menghubungkannya dengan situasi yang dialami tokoh di film ini. Jadi bukan tak ada maksud saat ditampilkannya upacara perayaan Paskah, sebuah penampilan yang sederhana tapi justru memiliki makna yang cukup dalam. Bahasa yang digunakan di film adalah Tetun, bahasa yang banyak digunakan oleh masyarakat Atambua.

Untuk penampilan masing-masing pemeran, ketiga pemeran utama tokoh di film ini yaitu Gudino Suares, Petrus Beyleto dan Putri Moruk memainkan perannya dengan sangat baik. Tidak banyak interaksi percakapan yang terjadi antar masing-masing tetapi bahasa tubuh mereka berhasil menyampaikan apa yang ingin disampaikan kepada penonton.

Membawa ke sebuah kota yang berada di dataran tandus bukan berarti Atambua tidak bisa memanjakan mata penontonnya. Adalah seorang Gunnar Nimpuno yang bertindak sebagai director of photography. Walau dengan dataran yang tandus dan berdebu dimana jarang sekali terlihat pepohonan hijau tapi gambar-gambar yang disajikan tetap membuat kita mengatakan betapa indahnya tanah Atambua. Apalagi sudut pengambilan gambar di beberapa adegan berhasil membuat adegan yang sederhana menjadi dalam maknanya.

Atambua 39° Celcius sebagai comeback Riri Reza dan Mira Lesmana bagi sebagian orang mungkin mengecewakan. Timbul pertanyaan mengapa saat mereka kembali harus mengangkat film dengan tema sosial seperti ini. Bisa jadi ini merupakan opini personal mereka yang ingin mengkritik dan mengangkat konflik sosial masyarakat Atambua. Film yang serba sederhana baik dari sisi cerita maupun pembuatannya, namun dibalik kesederhanaan itu ada makna dalam yang ingin disampaikan oleh Riri dan Mira dalam Atambua 39° Celcius.


RATE : 4 / 5

0

Jakarta Hati (2012)

Labels: , ,


Jakarta, Kota metropolitan, ibukota negara kita tercinta, Indonesia, tempat orang dari berbagai latar belakang budaya, suku, agama, pendidikan dan pekerjaan berkumpul mengadu nasib demi memenuhi kebutuhan hidup. Hati, Tempat berbagai macam perasaan berkumpul, ada rasa suka, duka, senang, sedih, cinta, rindu, benci menjadi satu. Jakarta Hati merupakan sebuah film omnibus dari seorang Salman Aristo yang bercerita tentang Jakarta yang menjadi tempat dimana warganya menemukan dan mencurahkan hati masing-masing. Jakarta Hati sendiri terdiri dari 6 segmen yang masing-masing bercerita dari sudut kecil ibukota yang luas ini. Keenam segmen itu adalah Orang Lain, Masih Ada, Kabar Baik, Hadiah, Dalam Gelap dan Darling Fatimah.

Jakarta Hati dibuka oleh segmen Orang Lain yang bercerita tentang seorang pria dan seorang wanita yang menjadi korban perselingkuhan pasangan masing-masing. Kemudian keduanya saling bercerita, berjalan bersama menyusuri gemerlap malam kota Jakarta menemukan apa arti 'orang lain' bagi kisah cinta mereka.

Cerita kedua, Masih Ada mengkisahkan perjalanan seorang anggota dewan ke sebuah tempat 'pertemuan' di Senayan. Dalam perjalanannya ia mendengarkan keluh kesah warga Jakarta berkaitan dengan wakil rakyatnya yang duduk di gedung DPR. Kebimbangan dalam hati, ketika ia harus berhadapan dengan perbuatan kriminal dan naluri hatinya yang tergugah untuk membantu rakyat kecil dalam posisinya sebagai wakil rakyat.


Kabar Baik yang merupakan segmen ketiga membawa penontonnya ke dalam lika-liku hubungan ayah dan anak. Ketika seorang anggota polisi, Bana yang bertugas memproses BAP tersangka kriminal yang baru tertangkap. Hingga suatu waktu ia mendapatkan ayahnya menjadi tersangka kasus penipuan. Sekarang dia harus berhadapan dengan profesionalitas-nya sebagai polisi dan juga hatinya sebagai seorang anak.

Seorang penulis skenario film dihadapkan dengan masalah keuangan disaat ia harus memenuhi kebutuhan keluarganya tetapi sampai saat ini belum ada tawaran pekerjaan dari rumah produksi film manapun. Hatinya pun dihadapkan dengan tawaran pekerjaan dari temannya untuk menulis film dengan judul 'Pocong Impoten' yang berlawanan dengan prinsipnya untuk selalu menulis karya yang terbaik. Di sisi lain, anaknya meminta untuk membelikan hadiah bagi temannya yang berulang tahun, sementara sisa uang di dompetnya pun makin menipis. Cerita ini direpresentasikan pada segmen keempat, Hadiah.


Dalam Gelap, segmen keempat Jakarta Hati menceritakan percakapan pasangan suami istri di kamar saat terjadi pemadaman listrik. Awal dari percakapan yang biasa seketika berubah menjadi luar biasa, ketika masing-masing dari mereka mulai mencurahkan isi hatinya.

Segmen terakhir berjudul Darling Fatimah yang mengkisahkan seorang wanita penjual kue di pasar bernama Fatimah yang merupakan keturuan Arab. Darling atau dadar gulingnya yang terkenal membuat banyak pelanggan mendatanginya, baik memang untuk mencicipi kue buatannya ataupun pria yang bermaksud menggodanya. Sementara itu, seorang pria keturunan Cina datang menghampirinya, kemudian keduanya mulai berbicara tentang hati.

Jakarta Hati menjadi film kedua dari Salman Aristo yang berkisah seputar kota Jakarta. Setelah sebelumnya Salman hadir dalam Jakarta Maghrib yang menceritakan kisah di sudut kota Jakarta pada waktu Maghrib, kali ini Salman kembali bercerita dari sudut kota yang sama tapi kali ini ia bercerita tentang hati. Secara keseluruhan, sebagai film omnibus masing-masing segmen memang terasa timpang, artinya tidak semua merata baik dalam hal skenario maupun pemain. Ada beberapa nama besar dalam Jakarta Hati, seperti Slamet Rahardjo, Roy Marten, Surya Saputra, Dwi Sasono, serta beberapa artis muda yang cukup sering tampil di layar lebar seperti Andhika Pratama dan Dion Wiyoko. Masing-masing memerankan peran utama dalam setiap segmen.

Sebagai pembuka Orang Lain yang diperankan oleh pasangan Surya Saputra dan Asmirandah. Cerita pertama ini sendiri terasa naik turun baik secara emosi maupun chemistry antar kedua karakter. Ada kesan canggung antara Surya Saputra dan Asmirandah sehingga keduanya kurang maksimal bermain dalam segmen ini. Masih Ada yang merupakan cerita kedua kali ini bermain dari sisi politik dan sosial. Selain Slamet Rahardjo yang memainkan peran utama ada peran pembantu Didi Petet serta Agus Kuncoro. Bermain dengan kritik politik dan sosial, segmen kedua ini terasa gagal membawa ke hati yang lebih dalam tentang permasalahan ini walau begitu penampilan Slamet Rahardjo berhasil menyelamatkannya. Memasuki Kabar Baik, kali ini giliran skenario dari Salman Aristo dan penampilan ke-bapak-an Roy Marten yang membuat segmen ketiga ini menarik. Sangat disayangkan penampilan Andhika Pratama di sini terkesan dipaksakan.

Memasuki pertengahan film, mulai dari sini masing-masing cerita semakin membaik. Hadiah yang merupakan cerita keempat mungkin bersifat personal bagi sebagian orang. Bisa jadi ini merupakan curahatan hati seorang Salman Aristo dan kritiknya terhadap industri film Indonesia. Kehadiran Bastian 'Cowboy Junior' yang mendampingi Dwi Sasono dalam segmen ini bukanlah hanya tempelan biasa, penampilan anak unyu ini setidaknya memberikan makna sebenarnya dari segmen Hadiah. Cerita selanjutnya adalah Dalam Gelap, yang menampilkan Agni Pratistha dan Dion Wiyoko, walau mungkin sulit mengenali mereka dalam kegelapan. Menariknya segmen ini adalah menggunakan long take, jadi pengambilan gambar hanya dilakukan satu kali sepanjang cerita tanpa putus. Bagi saya, segmen ini cukup berkesan karena menggelitik kehidupan sosial yang sedang maraknya. Mau tahu itu apa? mungkin sebaiknya anda menyaksikannya sendiri. Jakarta Hati pun ditutup oleh Darling Fatimah yang bercerita dengan sangat sederhana tapi dalam maknanya.

Sebagai film omnibus bila harus membandingkan Jakarta Hati dengan Jakarta Maghrib dimana keduanya merupakan hasil karya Salman Aristo, saya jauh lebih menyukai Jakarta Maghrib ketimbang Jakarta Hati tentunya dari skenario dan pemain. Walaupun begitu secara keseluruhan Jakarta Hati tetap menjadi film yang patut dan layak untuk ditonton. Jakarta Hati, sebuah kisah tentang curahan hati dari berbagai sudut kota Jakarta menunjukkan bahwa warganya masih punya hati.


RATE : 3.5 / 5

1

Test Pack: You're My Baby (2012)

Labels: ,


Melihat judulnya saja pasti sebagian besar orang sudah membayangkan kalau ini adalah film dewasa. Kali ini anda harus membuang jauh-jauh pikiran tersebut. Jangan bandingkan Test Pack dengan film berjudul agak dewasa lainnya. Test Pack diadaptasi dari novel dengan judul yang sama dari penulis Ninit Yunita. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya tapi beberapa mengatakan banyak perbedaan dari novelnya yang katanya cukup bagus. Test Pack sendiri memang merupakan drama dewasa. Kata dewasa di sini bukan berarti ada adegan dewasa melainkan cerita yang diangkat berada pada ruang lingkup kehidupan yang sudah dewasa, seperti contohnya pernikahan.


Rahmat (Reza Rahadian) dan Tata (Acha Septriasa) adalah pasangan suami istri yang sudah cukup lama menikah namun mereka belum mempunyai anak. Walau begitu kehidupan pernikahan mereka tetap mesra. Lain halnya dengan Shinta (Renata Kusmanto), popularitas dan kecantikan tidak dapat membuatnya terhindar dari perceraian akibat dirinya yang tidak mampu memberikan anak bagi Heru (Dwi Sasono). Shinta pun berusaha untuk melupakan masalah dengan kesibukannya. Di sisi lain, pasangan Rahmat dan Tata yang mulai putus asa karena belum juga dikaruniai seorang anak mencari solusi dimana insan ini akan terhubung satu sama lain.


Test Pack disutradarai oleh Monty Tiwa yang beberapa waktu lalu juga menyutradarai Sampai Ujung Dunia. Beberapa pemeran di film ini seperti Dwi Sasono, Renata Kusmanto dan Gading Marten yang sempat menjadi pemeran utama dalam Sampai Ujung Dunia dan bermain lagi dalam Test Pack walau kali ini hanya Renata yang mendapatkan salah satu peran utama. Berangkat dari bagaimana saya menyukai Sampai Ujung Dunia dan tanpa mengetahui sedikit pun bahwa film ini diadaptasi dari novel, ekspektasi saya cukup tinggi apalagi melihat nama Reza Rahadian dan kembalinya Acha Septriasa di layar lebar.

Secara cerita memang Test Pack mungkin tak jauh berbeda dengan FTV kebanyakan yang mengedepankan dramanya. Namun berkat kepiawaian Monty Tiwa membuat Test Pack tidak pantas dibandingkan dengan FTV kebanyakan yang bercerita hal yang sama. Apalagi duet Reza Rahadian dan Acha Septriasa menampilkan chemistry yang pas. Bagi Acha, penampilannya dalam Test Pack bagi saya ini merupakan yang terbaik darinya. Mengingat saya sendiri tidak pernah menyukai Acha di film-film dia sebelumnya, apalagi ketika berduet dengan Irwansyah.

Test Pack merupakan drama yang mengangkat kehidupan pernikahan yang secara keseluruhan menyegarkan tanpa harus bertele-tele dalam bercerita namun bukan berarti harus menggampangkan segala konflik dan masalah. Gambaran masalah dalam pernikahan dalam Test Pack mungkin hanya sebagian kecil saja tapi sungguhlah banyak makna yang dapat diambil dari film ini. Akhir kata, Test Pack adalah salah satu film Indonesia wajib tonton di tahun 2012 ini.


RATE : 4 / 5

0

The Thieves (2012)

Labels: , ,


Sekelompok pencuri profesional bekerja sama mencuri sebuah barang antik. Mereka adalah Popeye (Lee Jung Jae), Anycall (Jeon Ji-hyun), Chewingum (Kim Hae-sook) dan Zampano (Kim Soo-hyun). Keberhasilan misi mereka membuat Popeye berambisi untuk mencuri sesuatu yang lebih besar lagi. Sebuah permata yang dikenal dengan Tears of the Sun menjadi incarannya. Bekerja sama dengan Macao Park (Kim Yeon-seok), mantan rekan kerjanya dulu yang mengajak beberapa pencuri profesional Hongkong dan ditambah Pepsi (Kim Hye-soo) yang baru saja bebas dari penjara, mereka mencoba menerobos keamanan ketat hotel tempat permata itu berada. Dan ternyata masing-masing dari mereka memiliki tujuan sendiri-sendiri dibalik misi tersebut.


The Thieves merupakan film produksi Korea Selatan yang disutradarai oleh Choi Dong-hun dan skenario ditulis sendiri olehnya bersama Lee Gi-cheol. Choi Dong-hun sendiri beberapa filmnya hampir selalu sukses di dalam negeri, seperti The Big Swindle, Tazza: The High Rollers dan Jeon Woo Chi. Begitu juga dengan The Thieves, film dengan genre action comedy ini juga meraih kesuksesan di negara asalnya. Bayangkan saja, hanya dengan 6 minggu bisa meraih lebih dari 12 juta penonton dan berada di urutan kedua film terlaris di Korea Selatan menggeser Taegukgi dan berada di bawah The Host yang masih menjadi jawara.

Sejak beranjak dari awal film, The Thieves langsung menyajikan aksi pencurian yang seru dan dramatis. Memang secara keseluruhan film ini akan memberikan aksi pencurian yang menegangkan tanpa memberikan waktu bagi penonton untuk menghela napas. Aksi 2 wanita cantik dan seksi Kim Hye-soo dan Jeon Ji-hyun akan membuat para pria termasuk saya tak melepaskan pandangannya dari layar. Walau sebagai film dengan tema pencurian, bukan berarti The Thieves menghindari unsur drama dan komedi. Tentunya sang sutradara Choi Dong-hun tak melupakan dialog-dialog lucu yang bisa membuat anda tertawa dan hubungan cinta antar karakter menjadi bumbu aksi pencurian mereka.

Bagi saya, wajar bila The Thieves mendapatkan sambutan yang sangat baik di negara asalnya Korea Selatan. Film ini memang menyajikan sebuah tontonan yang benar-benar menghibur. Semua itu tak luput dari skenario yang ditulis Choi Dong-hun daan Lee Gi-cheol serta kemampuan akting ensemble cast yang memukau. Kisah cinta antar karakter yang menjadi bumbu tambahan seakan melengkapi sebuah hidangan yang menjadikannya sempurna. Pastinya The Thieves menjadi salah satu tontonan wajib yang tidak mungkin anda lewatkan.


RATE : 4.5 / 5

0

Perahu Kertas (2012)

Labels: , ,


Lulus dari SMA, perahu yang ditumpangi Kugy (Maudy Ayunda) kemudian berlabuh menuju Bandung dimana perahu tersebut akan mengarungi bangku kuliah. Di sinilah Kugy bertemu dengan Keenan (Adipati Dolken) yang merupakan sepupu dari Eko (Fauzan Smith), pacar dari Noni (Sylvia Fully R) teman dekat Kugy sejak kecil. Dalam satu perahu keempat orang ini mengarungi samudra. Kugy dan Keenan yang kemudian saling mengagumi atas bakat Keenan dalam melukis dan Kugy yang pandai sebagai penulis. Kugy yang diam-diam jatuh hati pada Keenan tetapi di sisi lain dirinya sudah memiliki Ojos (Dion Wiyoko). Saat perahu sedang merapat bertambah satu penumpang lain, Wanda (Kimberly Ryder) yang dimaksudkan untuk dijodohkan dengan Keenan. Mengetahui hal ini, Kugy yang mengurungkan niatnya untuk dekat dengan Keenan mulai menarik diri melabuhkan kapalnya ke arah yang berbeda. Mulai dari sini terjadi konflik di antara mereka berempat yang membuat masing-masing mengambil jalan yang berbeda.


Perahu Kertas diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Dewi Lestari. Dalam film ini pun Dewi Lestari sendiri yang bertanggung jawab dalam skenario dan ia sendiri yang mempercayakan Hanung Bramantyo untuk merepresentasikan Perahu Kertas ke dalam sebuah film. Novel Perahu Kertas sendiri katanya merupakan salah satu novel kisah cinta remaja yang bagus bagi mereka yang telah membacanya. Saya sendiri belum pernah membacanya sama sekali jadi tidak bisa menilai seperti apa novelnya sendiri. Berangkat dari situ saya menyaksikan Perahu Kertas sebagai film yang berdiri sendiri tanpa harus terpaku pada novelnya. Filmnya sendiri dibagi menjadi 2 bagian karena panjangnya skenario yang dibuat oleh Dewi Lestari memaksa Perahu Kertas dibagi menjadi 2 bagian agar tidak banyak mengurangi isi dari novel sehingga penggemar novel bisa melihat representasi visual novel Perahu Kertas lebih dalam.


Bagi pembaca novelnya, banyak yang mengatakan bahwa pemilihan Maudy Ayunda sebagai Kugy dan Adipati Dolken sebagai Keenan jauh dari apa yang mereka bayangkan saat mereka membaca novel Perahu Kertas. Tapi bagi saya sebagai orang awam, dari bagaimana Hanung membangun Perahu Kertas terlihat sekali memang film ini menggambarkan kisah cinta remaja, walau nantinya kedua tokoh utama Kugy dan Keenan akan beranjak dewasa tapi momen-momen yang dihadirkan dalam Perahu Kertas sebagian besar ke arah cinta remaja. Oleh karena itu pemilihan Maudy dan Adipati sebagai Kugy dan Keenan masih dibilang wajar. Beberapa berkata kalau Nicholas Saputra dan Dian Sastro yang paling tepat memerankan keduanya. Ya memang benar, seandainya jika film ini dibuat 10 tahun yang lalu.

Secara durasi, Perahu Kertas dibilang cukup panjang yaitu hampir 2 jam. Apalagi bila digabungkan dengan bagian kedua, hampir 4 jam untuk sebuah drama romantis. Pada bagian pertama ini, Hanung membawa Perahu Kertas-nya berlabuh menyusuri romantika kisah cinta remaja yang tak habis-habisnya dibahas oleh film Indonesia atau sinetron. Tapi ya gimana lagi, memang kisah cinta remaja ya itu-itu saja. Sekarang kembali bagaimana Perahu Kertas bisa merepresentasikan itu. Dan kali ini saya tidak merasa bosan dengan apa yang dihadirkan dalam Perahu Kertas. Masalah yang rumit serta hubungan personal antar karakter membuat kisah cinta dalam Perahu Kertas menarik untuk diikuti.

Tanpa berekspektasi banyak pada Perahu Kertas dan sama sekali belum pernah membaca novelnya membuat saya bisa menikmati Perahu Kertas sebagai salah satu tontonan kisah cinta yang menghibur, manis dan indah. Tak lepas dari gambar-gambar yang disajikan. Mungkin bagi anda yang ingin mencoba kisah cinta remaja yang rumit dan belum pernah membaca novel Perahu Kertas, bisa dipastikan anda akan bisa menikmati Perahu Kertas. Namun bila anda penggemar setia novelnya, mungkin saatnya anda sedikit menurunkan ekspektasi agar tidak kecewa. Untuk bagian kedua yang akan menyusul dirilis, tentu saya akan menontonnya demi mengetahui kemana si Perahu Kertas ini berlabuh, apakah menuju tempat tujuan sesuai yang diinginkan? atau karam diterpa gelombang atau menabrak karang?


RATE : 3.5 / 5

0

Seven Something (2012)

Labels: ,


Ada pernyataan menarik tentang planet Uranus, yang jelas ini bukan berhubungan dengan alien atau sejenisnya, melainkan tentang astrologi yang katanya bentuk Uranus berubah setiap 7 tahun. Nah, katanya setiap 7 tahun ini berhubungan dengan kehidupan manusia dimana dalam 7 tahun akan ada perubahan. Contohnya ketika berumur 14 tahun seseorang jatuh cinta pada pertama kalinya dan seterusnya. Seven Something, film produksi rumah studio GTH menceritakan tentang kehidupan percintaan manusia di umur kelipatan 7 tersebut. Film yang dirilis dalam memperingati ulang tahun studio GTH yang ke-7 ini terdiri dari 3 film pendek. Masing-masing film pendek bercerita menggambarkan pengalaman cinta di umur kelipatan 7, ketiga cerita itu adalah "14", "21/28" dan "42.195".

Film pertama yang berjudul "14" dibintangi oleh Jirayu La-ongmanee dan Sutatta Udomslip dan disutradarai Paween Purijitpanya. Jirayu sendiri sudah sering kita saksikan di berbagai film produksi GTH dan Sutatta Udomslip yang dikenal dengan PunPun pernah berperan dalam LaddaLand. Film pertama ini membawa anda ke percintaan anak remaja dimana mereka baru mulai beranjak dewasa atau puber. Bercerita tentang 2 anak remaja Puan dan Milk. Puan adalah seorang anak lelaki yang gemar bermain dengan social media seperti facebook, selain itu ia juga gemar berfoto dan membuat video dari kamera dan ponselnya. Ketika mulai menjalin hubungan dengan Milk, Puan masih gemar mengupdate status facebook-nya serta mengambil foto dan video dengan Milk sebagai modelnya. Video yang diambil oleh Puan pun dimuat dalam youtube dan hal inilah yang mengubah hubungan mereka.


Cerita pertama ini bisa dibilang yang paling 'rame' dan berwarna bila dibandingkan dengan dua cerita lainnya, sama seperti kisah cinta remaja yang berwarna. Dalam menggambarkan cerita pertama ini, anda akan dibawa ke kehidupan remaja pada umumnya yang masih labil dan 'tampil' di social media. Uniknya bagaimana Paween membawa penontonnya adalah kita akan dibuat bermain-main dengan teknologi. Bisa dibilang gambar-gambar yang disajikan bahkan lebih menarik dibandingkan kisah cinta mereka, namun tetap saja kisah cinta remaja ini bisa menyentuh anda.

Beranjak dari kisah pertama, kisah kedua kali ini membawa anda ke kehidupan cinta yang lebih dewasa. Kisah yang berjudul "21/28" membawa ke dalam kisah cinta dewasa yang lebih rumit. Kali ini disutradarai oleh Adisorn Tresirikasem dan diperankan oleh Cris Howrang sebagai Mam dan Sunny Suwanmethanont sebagai Jon. Untuk peran Jon ini, Sunny diharuskan menaikkan berat badannya agar sesuai dengan kebutuhan perannya. Cerita kedua ini mengisahkan kisah cinta Jon dan Mam yang diawali sejak mereka berperan bersama dalam film Sea You. Namun apa daya kecemburuan Jon pada Mam yang semakin terkenal sebagai artis karena berperan dengan pria lain membuat hubungan mereka harus berhenti.


7 tahun berselang sejak perpisahan mereka, Jon yang kini bekerja di Siam Ocean World didatangi oleh Mam yang memintanya untuk bermain bersama di sekuel Sea You. Pertanyaannya apakah Jon bersedia kembali berperan bersama Mam di sekuel film mereka? Apakah dengan bertemu kembali mereka bisa saling mencintai lagi? Mungkin banyak yang pernah mengalami kisah cinta yang dialami oleh Jon dan Mam. Berpisah kemudian bertemu kembali dengan mantan pasangan kita lalu ada kemungkinan mengenang masa-masa indah dahulu bahkan bersatu kembali. Menariknya cerita kedua ini adalah bagaimana Adisorn menggabungkan gambaran masa lalu hubungan Jon dan Mam dengan masa kini, seolah membawa penonton larut untuk menelusuri lebih dalam kisah cinta mereka.


Cerita terakhir yang berjudul "42.195" mengkisahkan seorang wanita yang diperankan oleh Suquan Bulakul yang bertemu dengan seorang remaja yang menabraknya ketika remaja tersebut berlatih maraton di taman. Remaja ini diperankan oleh salah satu anggota boyband 2PM asal Thailand yaitu Nichkhun Horvejkul. Cerita ketiga disutradarai oleh Jira Maligool. Kali ini menggambarkan hubungan yang lebih rumit, yaitu kisah cinta antara usia yang jauh berbeda. Sang wanita yang baru saja ditinggal suaminya meninggal ini sudah menginjak usia 42 tahun. Bisa dibilang ini merupakan puber kedua bagi wanita tersebut. Lalu apa makna sebenarnya dari kisah ini? Dalam cerita ketiga ini digambarkan kedua orang pria dan wanita ini sedang dalah tahap "move on" alias berubah menjadi diri yang berbeda. Dan dengan lari maraton Jira menggambarkan bagaimana kedua orang ini bisa menjadi pribadi yang baru. Dan dalam kisah ketiga ini, dilatari oleh narasi seorang wanita yang menuntun penonton ke dalam cerita.

Secara keseluruhan Seven Something menghadirkan cerita yang tak kalah menarik bila dibandingkan dengan film romantis Thailand lainnya. Walau dari segi komedi memang tak banyak yang disajikan mengingat film ini lebih fokus pada pembangunan karakter dan kisah cinta di masing-masing cerita. Masing-masing cerita juga memiliki keunikan tersendiri, seperti pada "14" dengan visual yang menarik, kemudian "21/28" dengan alur paralelnya dan "42.195" dengan narasi yang menuntun penontonnya. Menariknya lagi bila anda merupakan penggemar film Thailand terutama produksi studio GTH, anda akan menemukan cameo dari banyak artis yang pernah berperan dalam film-film mereka. Coba anda temukan siapa saja mereka?


RATE : 3.5 / 5

3

The Cabin in the Woods (2012)

Labels: , ,


Lima orang remaja berencana menghabiskan akhir pekan mereka ke sebuah kabin di tengah hutan milik sepupu salah satu dari mereka, namun bukan kesenangan yang mereka temukan melainkan sebuah mimpi buruk yang mengancam nyawa mereka. Kemunculan 'mimpi buruk' inilah yang membuat mereka harus bertahan hidup, lari ataupun mengungkap mister di balik kabin tempat mereka tinggal. Sekilas plot cerita di atas tak ada bedanya dengan film bergenre slasher/thriller pada umumnya. Bahkan tanpa melihat nama besar pemeran di dalamnya, film ini terlihat sebagai film kelas B. Tapi justru dengan ekspektasi seperti inilah anda akan dapat menikmati The Cabin in the Woods. Tanpa membahas lebih jauh unsur cerita yang bisa mengurangi kenikmatan menonton film ini, mari kita bahas gambaran film ini secara umum.


The Cabin in the Woods sendiri sebenarnya sudah memulai proses produksi sejak tahun 2009, namun baru pada tahun 2012 baru dirilis secara luas. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari rencana konversi ke 3D hingga masalah finansial yang dialami studio yang membuat rilisnya ditunda. Film yang di sutradarai oleh Drew Goddard dan skenarionya ditulis oleh Drew Goddard dan Joss Whedon serta diproduseri oleh Joss Whedon. Joss Whedon sendiri namanya mungkin sedang dikenal luas sejak kesuksesan The Avengers yang disutradarainya, sedang bagi Drew Goddard ini merupakan film panjang pertamanya. Tapi bukan berarti ini pertama kalinya mereka berduet, sebelumnya mereka pernah bekerja sama dalam serial TV Buffy the Vampire Slayer.


Lalu apa yang menarik dari The Cabin in the Woods hingga cukup banyak orang yang penasaran dan menantikan kehadiran film ini. Bila anda menyaksikan trailer film ini, mungkin tidak ada yang unik tapi memang lebih baik tidak menyaksikan trailernya sama sekali untuk menambah unsur kejutan ketika pertama kalinya menonton The Cabin in the Woods. Dari segi pemeran, mungkin tidak banyak yang anda kenal selain Chris Hemsworth tentunya. Dan itulah yang saya alami ketika menyaksikan film ini, hingga membuat saya menutup sebelah mata akan sebagus apa The Cabin in the Woods. Pada kenyataannya Ensemble Cast yang terdiri dari Chris Hemsworth, Kristen Connolly, Anna Hutchison, Fran Kranz dan Jesse Williams ini menampilkan performa yang cukup baik walaupun adegan percintaan atau hubungan antar karakter terkesan klise. Tapi untuk film bergenre horor, hal tersebut bisa dikesampingkan.

The Cabin in the Woods merupakan film dengan ciri khas tersendiri, sebuah film yang dinanti oleh penggemar genre horor. Mungkin jarang bisa ditemukan film dengan genre kombinasi horor, thriller dan juga fantasy. Ketika anda memasuki The Cabin in the Woods, berarti anda telah masuk ke dalam dunia puzzle yang dibuat oleh Whedon dan Goddard dimana film ini akan memberikan kejutan-kejutan serta memberikan 'mimpi buruk' bagi anda pecinta horor. Ya, mungkin The Cabin in the Woods adalah salah satu film yang akan membuat anda mengatakan 'Watdefak!' sepanjang film.


RATE : 4.5 / 5

2

The Dark Knight Rises (2012)

Labels:


Setelah 4 tahun sejak dirilisnya The Dark Knight dan 7 tahun sejak dimulainya trilogi Batman versi Christopher Nolan yang diawali dengan Batman Begins, akhirnya film terakhir dari trilogi ini, The Dark Knight Rises pun dirilis. Dalam film ketiga ini, Nolan melanjutkan kisah legenda Batman sang pelindung kota Gotham berdasarkan 2 film sebelumnya. 8 tahun sejak kisah The Dark Knight, Batman menghilang tak menunjukkan wujudnya lagi dan Bruce Wayne mengurung dirinya dalam rumahnya. Kali ini kota Gotham diteror oleh sekelompok pasukan bawah tanah yang dipimpin oleh Bane, seorang tentara bayaran yang datang ke Gotham untuk sebuah maksud tertentu membuat Wayne keluar dari sarangnya dan kembali beraksi sebagai Batman melindungi kota yang menganggapnya sebagai seorang kriminal besar akibat tuduhan pembunuhan pada salah seorang ikon pahlawan kota Gotham, Harvey Dent.


The Dark Knight Rises masih dibintangi oleh beberapa pemeran film sebelumnya, seperti Christian Bale, Michael Caine, Gary Oldman dan Morgan Freeman yang masing-masing berperan sebagai Bruce Wayne, Alfred, James Gordon dan Fox serta beberapa karakter film sebelumnya yang muncul sebagai cameo di film ini. Nolan mengajak beberapa aktor dan aktris yang pernah bekerja bersamanya dalam Inception. Mereka adalah Tom Hardy, Marion Cotillard dan Joseph Gordon-Levitt, serta mengajak Anne Hathaway yang masing-masing memerankan karakter Bane, Miranda Tate, John Blake dan Selina Kyle atau Catwoman melengkapi Ensemble Cast yang terdiri dari nama-nama besar.


Melihat nama-nama pemeran di atas tentunya tak perlu ragu akan kemampuan akting mereka dan memang dalam The Dark Knight Rises semuanya tampil dengan sangat baik. Anne Hathaway sendiri yang tadinya sempat diragukan saat mendapatkan peran Catwoman ternyata malah membuat banyak orang mengacungkan jempol padanya. Namun bagi saya yang paling mencuri perhatian adalah seorang Joseph Gordon-Levitt yang kali ini memerankan anggota kepolisian Gotham bernama John Blake yang mendapatkan porsi yang cukup banyak dalam The Dark Knight Rises. Tak lupa seorang Tom Hardy yang berperan sebagai Bane, musuh besar Batman dalam film ini. Masih dalam bayang-bayang Joker, tentunya banyak yang membandingkan keduanya, namun Bane juga tak kalah dengan karakteristik dan gaya berbicaranya menjadi ciri khas villain yang satu ini.

Berbicara soal teknis, yang menjadi perhatian di sini adalah bagaimana Nolan memutuskan untuk mengambil beberapa adegan yang dikhususkan untuk IMAX. Sekitar lebih dari 60 menit adegan diambil khusus untuk IMAX. Apabila menikmati film ini di layar IMAX, akan terasa perbedaan antara IMAX dan reguler terlihat dari perubahan rasio layar di beberapa adegan walaupun secara keseluruhan tidak mengganggu. Sebagian besar adegan yang diambil khusus untuk IMAX memang cukup tepat, walaupun bukan dalam 3D tapi memang sepantasnya melihat penutup trilogi ini di layar IMAX. Dari segi music score memang tidak perlu diragukan lagi kemampuan seorang Hans Zimmer yang sudah berkali-kali bekerja bersama Nolan.

Sulit untuk mendeskripsikan bagaimana megahnya penutup dari perjalanan panjang legenda sang ksatria berjubah hitam. Sebagaimana tujuan awal Nolan untuk mempersembahkan The Dark Knight Rises bagi para pecinta komik Batman dan tentunya mereka tidak akan kecewa. Pada akhirnya The Dark Knight Rises menyajikan sebuah finale yang epic with more hearts dan tetap pada ciri khas Nolan yaitu twist yang tidak diduga. Dari sisi entertainment mungkin The Dark Knight Rises merupakan salah satu yang terbaik dari seorang Christopher Nolan dan bagi saya ini adalah yang terbaik dari trilogi Batman versi Christopher Nolan. Tentunya anda tidak ingin melewatkan "perang" Batman di layar lebar bukan?


RATE : 4.5 / 5

2

The Amazing Spider-Man (2012)

Labels:


Reboot, lagi-lagi ini yang terjadi pada sebuah franchise. Sebelumnya trilogi Spider-Man yang ditangani oleh Sam Raimi dibintangi oleh Tobey Maguire sebagai Peter Parker berencana untuk dilanjutkan namun harus terhenti pada film keempat akibat masalah skenario. Sony Pictures pun memutuskan untuk me-reboot franchise ini ketimbang harus mencari sutradara baru untuk melanjutkan franchise sebelumnya. Marc Webb, sutradara yang pernah membesut 500 Days of Summer pun dipercaya untuk membangun ulang franchise ini. Reboot ini pun membawa Spider-Man kembali ke masa SMA-nya. Sebagai Peter Parker ditunjuk Andrew Garfield dan bukan Mary Jane yang akan menjadi pacar Peter, melainkan Gwen Stacy, pacar Peter saat ia duduk di bangku SMA.


Berawal dari masa kecil Peter Parker (Andrew Garfield) yang harus ditinggal kedua orang tuanya akibat sebuah penelitian yang dilakukan ayahnya, Peter harus tinggal bersama Paman Ben dan Bibi May. Beranjak dewasa saat duduk di bangku SMA, Peter merupakan salah satu anak yang pandai, berteman dengan Gwen Stacy (Emma Stone) gadis cantik yang satu kelas dengannya. Berbeda dengan Spider-Man sebelumnya dimana Peter Parker mendapat kekuatannya akibat gigitan laba-laba saat ia mengunjungi museum. Kali ini penelitian ayahnya yang membawa Peter Parker ke laba-laba yang menjadikannya Spider-Man. Dr. Curt Connors merupakan rekan kerja ayahnya yang meneliti tentang penggabungan DNA yang berbeda untuk penyembuhan. Akibat percobaannya ini salah satu laba-laba mengubah Peter menjadi manusia super dan percobaan Dr. Connors pula yang mengubah dirinya sendiri menjadi Lizard.

Tentu dengan reboot dan pergantian sutradara akan menjadikan perbedaan antara The Amazing Spider-Man dengan Spider-Man versi sebelumnya. Selain bagaimana dijelaskan Peter Parker menjadi manusia laba-laba, The Amazing Spider-Man versi Webb ini lebih menekankan pada bagaimana kekuatan Peter Parker berkembang. Seperti pada jaring laba-laba yang dimiliki Spider-Man dalam versi Raimi merupakan hasil perubahan DNA sehingga Peter Parker bisa mengeluarkan jaring dari tangannya, sedangkan dalam versi Webb jaring milik Spider-Man merupakan artificial buatan yang dibuat sendiri oleh Peter Parker. Secara cerita memang film ini memberikan porsi drama yang lebih banyak ketimbang pendahulunya. Webb tidak hanya menampilkan sisi superhero dari seorang Spider-Man tapi juga sisi humanisnya serta hubungan percintaan antara Peter dengan Gwen. Perkembangan hubungan antara Peter Parker dengan Gwen Stacy digambarkan dengan cukup jelas, selain itu hubungan dengan karakter lain seperti Paman Ben, Bibi May dan Dr. Curt Connor juga digambarkan dengan cukup baik.

Melihat lebih dalam hubungan antara Peter Parker yang diperankan oleh Andrew Garfield dan Gwen Stacy yang diperankan Emma Stone, dibandingkan dengan pasangan Peter-Mary Jane oleh Tobey Maguire dan Kirsten Dunst, Webb cukup berhasil menampilkan chemistry yang lebih baik pada Peter-Gwen ketimbang Peter-Mary Jane. Sangat disayangkan bila nantinya karakter Gwen Stacy harus digantikan dengan Mary Jane. Setidaknya Webb harus menemukan pemeran Mary Jane yang bisa menampilkan chemistry yang lebih baik ketimbang Emma Stone pada Andrew Garfield.

Keputusan yang tepat bagi Sony Pictures memilih Marc Webb sebagai sutradara, apalagi pemilihan Andrew Garfield dan Emma Stone merupakan keputusan yang sangat tepat, secara keduanya mampu menampilkan chemistry yang baik. Dengan teknologi 3D, The Amazing Spider-Man akan membawa penontonnya ikut berayun di antara gedung-gedung tinggi New York. Sudah sepantasnya para fans tidak sabar untuk menunggu aksi selanjutnya dari The Amazing Spider-Man atau Spider-Man versi Marc Webb dengan musuh-musuh barunya. Akhir kata, Marc Webb berhasil menciptakan awal yang cukup baik untuk sebuah franchise yang di-reboot.


RATE : 4 / 5

1

Di Timur Matahari (2012)

Labels: ,


Sekilas Di Timur Matahari mengingatkan pada sebuah lagu karangan W.R. Supratman yang dulu sering dinyanyikan saat sekolah. Tapi yang dibahas di sini Di Timur Matahari adalah sebuah film yang menceritakan kisah di tanah Papua, bagian dari NKRI yang akhir-akhir ini makin sering diterpa konflik. Alenia Pictures, rumah produksi yang dibawahi oleh Ari Sihasale yang juga menjadi sutradara di film ini dan Nia Zulkarnaen memang seringkali memproduksi film yang mengambil latar daerah timur Indonesia, sebut saja Denias atau Tanah Air Beta dan dalam Di Timur Matahari ini, Ari Sihasale berusaha mengangkat potret kehidupan tanah Papua yang penuh dengan konflik.


Mazmur adalah seorang anak Papua. Sama seperti anak lainnya, Mazmur harus bersekolah namun saat itu guru pengganti yang ditunggu-tunggu belum juga datang hingga akhirnya murid sekolah tersebut memutuskan untuk bernyanyi dan bermain, malah seringkali mereka berkeliaran di kampung saat jam belajar. Masalah ini menjadi salah satu dari berbagai permasalahan yang diangkat dalam Di Timur Matahari, selain itu masih ada hal lain seperti hukum adat yang masih diterapkan di zaman yang modern ini, konflik pribadi yang memicu peperangan antar desa dan masih banyak lainnya. Banyaknya konflik yang ingin diangkat oleh Ari Sihasale sayangnya membuat cerita Di Timur Matahari menjadi tidak fokus. Bahkan seperti taglinenya 'A Better Education' yang seharusnya lebih mendalami tentang sulitnya pendidikan di Papua malah hanya diceritakan secara sekilas.


Film ini dibintangi oleh artis berpengalaman seperti Lukman Sardi yang berperan sebagai Pendeta Samuel, kemudian Ririn Ekawati sebagai Dokter Fatimah, Ringgo Agus sebagai Ucok dan Laura Basuki sebagai Vina. Dari tanah Papua sendiri ada Michael Jakarimilena yang merupakan jebolan Indonesian Idol serta pemeran anak-anak Papua oleh Simson Sikoway dan Abetnego Yogibalom. Selain yang disebutkan di atas masih banyak karakter lain di film ini, sebut saja Blasius dan Alex serta masih banyak lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu. Banyaknya karakter ini berefek pada pengembangan masing-masing karakter yang hampir tidak terlihat bahkan beberapa karakter pun bisa dihilangkan tanpa mempengaruhi jalannya cerita. Namun begitu, akting anak-anak Papua ini memang patut diacungi jempol dan bisa disandingkan dengan mereka yang sudah berpengalaman.

Dalam durasi yang hampir 2 jam, Di Timur Matahari harus terkatung-katung saat bercerita. Terlalu banyak konflik yang ingin disajikan dan diselesaikan yang berujung pada penyelesaian yang terlalu dimudahkan. Untungnya kisah jenaka anak-anak Papua serta nyanyian mereka masih bisa menghibur penonton. Ditambah keindahan alam Papua menjadi salah satu sajian apik yang menghiasi perjalanan film ini. Sangat disayangkan bila kita mengabaikan tanah yang indah ini di tengah konflik yang tak kunjung usai. Seandainya saja menyelesaikan segala konflik itu semudah membalikkan telapak tangan seperti apa yang disajikan dalam Di Timur Matahari.


RATE : 2.5 / 5

2

Snow White and the Huntsman (2012)

Labels: , ,


Siapa yang tidak mengenal dongeng Snow White, dongeng tentang seorang putri seputih salju dan ibu tirinya yang jahat yang memiliki cermin ajaib serta 7 kurcaci yang bersama dengan Snow White. Dongeng ini diangkat oleh Rupert Sanders dalam Snow White and the Huntsman. Tapi jangan berharap anda akan menemukan cerita Snow White sepert yang ada dalam dongeng. Di sini Rupert mengangkat Snow White terlihat lebih dewasa dan kuat layaknya wanita petarung lainnya. Kisah Snow White berawal ketika seorang Ratu terluka jarinya ketika menyentuh setangkai mawar di musim salju. Ratu itu melahirkan seorang anak yang kulitnya seputih salju, bibirnya semerah mawar dan rambut yang hitam yang bernama Snow White. Sang ratu meninggal dunia membawa kesedihan bagi sang raja yang akhirnya menemukan seorang wanita dan menjadikannya Ratu. Sayangnya wanita jahat itu membunuh sang raja dan mengambil alih tahta serta mengurung Snow White di sebuah menara di kastil tersebut.


Snow White yang beranjak dewasa kecantikannya mungkin dapat mengalahkan sang Ratu hingga ia menyuruh seorang pemburu untuk menemukan Snow White yang berhasil lolos dari penjaranya. Di sini bukannya sang pemburu malah membantu Snow White untuk mengambil kembali tahta milik ayahnya dimana dalam perjalanannya Snow White bertemu dengan 7 kurcaci yang nantinya membantu Snow White. Dibintangi oleh Kristen Stewart sebagai Snow White dan Chris Hemsworth sebagai sang pemburu serta Charlize Theron yang memerankan ratu jahat Ravenna.

Kisah Snow White sendiri dalam setahun ini sudah diangkat sebelumnya oleh Tarsem Singh dalam Mirror Mirror. Kedua film ini memang tidak secara murni menangkat kisah Snow White namun melakukan perubahan di sisi cerita. Mirror Mirror mengubah dongeng Snow White menjadi sajian komedi dan Snow White and the Huntsman ini mengubah Snow White menjadi kisah kerajaan yang lebih seru. Bayangkan saja seorang Snow White yang polos dan lugu berubah menjadi wanita petarung yang kuat dan siap mengambil kembali tahta kerajaannya. Dalam Snow White and the Huntsman, Rupert Sanders akan membawa penontonnya ke dalam dunia Snow White penuh dengan petualangan. Perjalanan Snow White bersama sang pemburu dan 7 kurcaci ini seakan mengingatkan pada kisah Lord of the Rings Fellowship of the Ring. Apalagi tampilan visual yang disajikan membuat dunia Snow White jauh lebih berwarna dan menarik. Warna warni visualnya memang seolah bisa mengalihkan kebosanan daripada beberapa bagian cerita yang terkesan tidak penting.

Sebagian besar orang mungkin akan mengingat bagaimana peran Kristen Stewart sebagai Bella Swan dan bila anda mengharapkan penampilan Kristen Stewart yang lebih baik anda tidak akan mendapatkannya di film ini. Apa yang seharusnya ditampilkan seorang Snow White yang berjiwa kuat bagai ksatria tapi yang didapatkan justru Snow White dengan ekspresi yang datar dan seolah mau tak mau. Kristen Stewart masih sangat jauh dari apa yang diharapkan. Untungnya Charlize Theron bisa menutupi keburukan itu, mungkin Theron merupakan ratu terjahat yang pernah ditemui. Penampilannya sebagai Ravenna memang benar-benar memukau. Terlalu banyak karakter di film ini memang seolah menjadi tidak fokus, perkembangan karakter Snow White dan Huntsman yang diperankan oleh Chris Hemsworth masih jauh dari harapan.

Snow White and the Huntsmen menjadi salah satu adaptasi dongeng Snow White dengan improvisasi yang cukup baik. Dibandingkan dengan Mirror Mirror memang film ini seolah bertolak belakang, Mirror Mirror lebih menekankan sisi komedi sedangkan Snow White and the Huntsman lebih menekankan petualangan Snow White yang lebih gelap. Di luar penampilan buruk Kristen Stewart, film ini masih dapat menghibur dengan visualnya yang cantik, seolah mengingatkan kita pada dunia Lord of the Ring.


RATE : 3 / 5

1

Prometheus (2012)

Labels: , ,


Prometheus adalah seorang titan yang diangkat dari mitologi Yunani dan kali ini Prometheus dijadikan nama sebuah kapal luar angkasa dengan misi penelitian ke LV-223. Berawal dari penemuan lukisan di dinding oleh Elizabeth Shaw (Noomi Rapace) dan Charlie Holloway (Logan Marshall-Green) yang menerangkan ada suatu tempat di jauh di sudut luar angkasa sana yang merupakan asal usul umat manusia. Atas dasar ini, Weyland Corp. di bawah Peter Weyland (Guy Pearce) membentuk suatu tim yang terdiri dari ilmuwan-ilmuwan dengan kapal penelitian Prometheus berangkat ke tempat tersebut. Dua tahun perjalanan, akhirnya tim tiba di tempat yang dituju, LV-223 dan di tempat itu mereka menjelajah sebuah bangunan dimana di dalamnya mereka menemukan sebuah patung berbentuk kepala manusia, jasad makhluk asing yang mereka sebut sebagai Engineers dan beberapa tabung aneh. Mulai dari sinilah ancaman terjadi, sebaliknya bukan asal usul manusia yang mereka temukan tetapi jalan menuju pemusnahan manusia.

Prometheus sekilas mengingatkan kita seri Alien yang film pertamanya juga dibuat oleh Ridley Scott bahkan beredar kabar bahwa Prometheus merupakan prekuel dari Alien Saga. Dalam Prometheus, Ridley ditemani oleh Jon Spaihts dan Damon Lindelof sebagai penulis skenario. Jon Spaihts dikenal dalam The Darkest Hours sedangkan Damon Lindelof yang juga menjadi Executive Producer di film ini merupakan penulis di beberapa episode serial Lost.


Kisah Prometheus sendiri berawal dari pencarian asal usul manusia atau mencari siapa pencipta manusia dari premis awal inilah cerita dikembangkan hingga memunculkan banyak misteri, apa, siapa dan darimana. Lalu apa hubungan antara Prometheus dengan Alien? Memang ada beberapa kemiripan antara Prometheus dan Alien, seperti tujuan awal misi tersebut antara Prometheus dan Nostromo, kapal dalam film Alien keduanya memiliki tujuan untuk penelitian. Lalu Elizabeth Shaw yang dalam film ini mengingatkan pada tokoh Ellen Ripley dalam seri Alien. Namun begitu tidak ada hubungan langsung antara Prometheus dan Alien walau bila dikaji lebih jauh Prometheus bisa dibilang merupakan prekuel tidak langsung dari seri Alien.

Dari jajaran cast ada beberapa nama besar seperti Noomi Rapace, Charlize Theron, Michael Fassbender dan beberapa nama lainnya. Noomi Rapace yang dikenal dengan perannya sebagai Lisbeth Salander dalam trilogi Millenium kali ini memegang peran utama dalam film ini sebagai Elizabeth Shaw. Berperan sebagai wanita yang kuat mungkin itu sudah jadi nature seorang Noomi Rapace, setelah Lisbeth Salander menjadi Elizabeth Shaw adalah tantangan Rapace selanjutnya dan kali ini pun ia melakukannya dengan sangat baik, jadi tak salah Ridley memilih Rapace untuk memerankan Shaw. Dalam tim ekspedisi Prometheus sendiri selain manusia, ada seorang android yang ikut serta, yaitu David, android yang dibuat untuk menjalankan kapal selama para kru sedang dalam hypersleep. Michael Fassbender yang berperan sebagai David mungkin adalah android terbaik, bukan terbaik karena lebih canggih tapi Fassbender berhasil membuat seolah dirinya adalah robot. Mulai dari mimik, gaya bicara dan sikap memang terlihat seperti robot dan robot satu ini bisa memiliki perasaan dan mempelajari sifat manusia yang membuat dirinya berkembang seiring berjalannya cerita. Selain dua tokoh yang menonjol tersebut ada tokoh lain seperti Meredith Vicker yang diperankan oleh Charlize Theron dan di sini anda akan melihat versi tua dari Guy Pearce yang berperan sebagai Peter Weyland.

Dengan teknologi yang ada saat ini, jelas Ridley Scott memiliki kemampuan untuk menghadirkan sisi visual yang memukau. Dalam layar IMAX, Prometheus akan membawa anda ke dalam petualangan luar angkasa yang menakjubkan. Walaupun banyak beredar bahwa Prometheus merupakan prekuel dari Alien, namun tidak memiliki hubungan secara langsung dengan Alien, walau begitu film ini tetap mampu menghadirkan sisi thrill yang hampir sama dengan Alien, walaupun tujuan mencari 'sang pencipta' itu bisa dikatakan terlalu berlebihan. Mungkin bila pemikiran film ini adalah prekuel Alien itu dibuang jauh-jauh dan menempatkan Prometheus sebagai film tersendiri, bisa dibilang Prometheus adalah dimulainya Alien Saga yang baru dengan Elizabeth Shaw sebagai Ellen Ripley dan Noomi Rapace adalah Sigourney Weaver di era saat ini.


RATE : 4 / 5