0

Let Me In (2010)


Sepertinya 'remake' sedang menjadi trend di dunia perfilman Hollywood saat ini. Cukup terlihat dari banyaknya film yang diremake entah itu film Eropa, Asia atau bahkan film dari Hollywood itu sendiri. Entah mereka para pembuat film yang sedang kehabisan ide atau memang dimaksudkan untuk membuat versi lain dari film yang diremake tersebut. Sebut saja The Next Three Days yang merupakan remake dari film asal Perancis Pour Elle, atau trilogi Millenium, film Swedia yang diadaptasi dari novel karya Stieg Larsson yang rencananya akan diremake oleh David Fincher bahkan film A Nightmare From Elm Street pun dibuat remakenya dengan judul yang sama. Dari banyaknya film remake, ada yang bisa dibilang cukup sukses atau dengan kata lain hasil remake film itu tidak kalah dibandingkan dengan versi aslinya, tapi banyak juga film-film remake yang benar-benar tidak sesuai dengan yang diharapkan. Let Me In sendiri adalah remake dari film Swedia yang dirilis pada tahun 2008, Let The Right One In (Låt den rätte komma in) dari sutradara Tomas Alfredson yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama oleh John Ajvide Lindqvist. Let The Right One In sendiri mendapatkan respon yang positif dari para penontonnya serta mendapatkan penghargaan di berbagai festival film. Mungkin hal ini yang membuat Matt Reeves yang pernah menyutradarai Cloverfield tertarik untuk membuat versi Amerika dari Let The Right One In.


Dari sisi cerita sendiri hampir tidak ada perbedaan antara Let Me In dengan Let The Right One In. Beberapa perubahan pada nama karakter seperti tokoh Eli dan Oskar dalam Let The Right One In menjadi Abby dan Owen dalam Let Me In dimana hal itu masih terlihat cukup wajar terjadi mengubah nama tokoh agar terlihat lebih "Amerika". Sedangkan pada cerita sendiri bisa dibilang Let Me In mengadaptasi cerita Let The Right One In secara instan. Bercerita tentang seorang anak laki-laki yang di sekolahnya selalu dibully oleh teman-temannya serta di rumah sedang terjadi konflik antara kedua orang tuanya yang mungkin harus berujung dengan perceraian. Pada suatu malam ia bertemu dengan seorang anak perempuan yang sebenarnya adalah seorang vampir. Pertemuan itu menjadi awal dari persahabatan mereka hingga pada akhirnya mereka saling menyukai satu sama lain. Dalam Let Me In, karakter Abby diperankan oleh Chloe Grace Moretz yang pada tahun ini bisa dibilang sedang melonjak karirnya setelah perannya sebagai Hit Girl/Mindy dalam Kick-Ass serta Angie dalam Diary of Wimpy Kid, kali ini Chloe ditantang untuk memerankan karakter yang vampir yang dingin. Sedangkan untuk Owen sendiri diperankan oleh Kodi Smit-McPhee yang berperan sebagai anak laki-laki dalam The Road.

Jika keduanya dibandingkan dengan karakter Oskar dan Eli, di sini Abby terlihat lebih "cerah" bila dibandingkan dengan Eli yang terlihat lebih muram sedangkan untuk Owen dengan Oskar sendiri mungkin tidak terlalu jauh berbeda, hanya saja Owen terlihat lebih "ceria" bila dibandingkan dengan Oskar. Dengan kata lain Chloe dan Kodi memberikan warna dan karakteristik yang berbeda terhadap karakter yang mereka perankan. Selain dari perbedaan yang telah disebutkan, ada beberapa hal lagi yang menjadi perhatian saya dalam film ini. Dalam representasinya, Let Me In mungkin terlihat sedikit lebih "cerah" bila dibandingkan dengan versi aslinya dimana pada Let The Right One In, terasa suasana yang lebih gelap. Mungkin dari setting latar Let The Right One In yang berada di Swedia memberikan suasana yang lebih gelap dan dingin. Pada Let The Right One In sendiri penggambaran Eli lebih natural dengan wajah dinginnya sedangkan pada Abby saat ia harus menunjukkan sifat vampirnya terlihat menggunakan visual effect. Dan satu lagi, bagi saya Let Me In terasa lebih "berdarah" bila dibandingkan dengan Let The Right One In.

Walaupun dengan cerita yang hampir keseluruhan sama, tapi dengan representasi yang berbeda membuat saya seperti menonton sebuah film yang baru. Mungkin bagi sebagian orang yang pernah menonton Let The Right One In pastinya bisa menebak jalan cerita film ini, bahkan dialog di beberapa adegan pun hampir mirip. Walau begitu saya tetap bisa menikmati film ini secara keseluruhan. Sepertinya Matt Reeves cukup berhasil membuat kembali Let The Right One In menjadi Let Me In dengan gayanya sendiri, tetap memiliki suasana yang gelap dan menakutkan dan pastinya entertaining. Enjoy!


RATE : 4 / 5

1

Devil (2010)


Ketika pertengahan tahun ini, The Last Airbender karya M. Night Shyamalan yang diadaptasi dari serial TV Avatar The Legend of Aang yang cukup mengecewakan dengan berbagai respon negatif yang diterima film tersebut bahkan membuat kecewa banyak fans franchise serial itu, sepertinya cukup menurunkan reputasinya. The Last Airbender mungkin memang bukan untuknya atau film dengan genre seperti ini bukan keahliannya. Kemunculan Devil ini sendiri diharapkan mampu mengembalikan kualitas karyanya seperti sebelum-sebelumnya. Berkisah tentang lima orang yaitu 3 orang pria dan 2 orang wanita yang terjebak di sebuah lift yang macet hingga mereka menyadari bahwa salah satu dari mereka bukanlah manusia melainkan 'devil'. Pembukaan film yang diawali dengan sebuah narasi bercerita tentang 'devil', kedatangannya serta maksud dan tujuan kedatangan mereka. Lalu dilanjutkan dengan sebuah kasus bunuh diri, melibatkan seorang detektif untuk menangani kasus tersebut membawanya ke sebuah gedung darimana si korban tersebut meloncat. Sementara di gedung tersebut, lima orang yang tidak saling mengenal menaiki sebuah lift hingga pada saat lift tersebut macet dalam perjalanannya ke atas, teror pun dimulai. Awalnya mungkin terlihat baik-baik saja ketika dua petugas gedung tersebut mengetahui lift tersebut macet dan segera bertindak, namun saat keadaan semakin buruk, muncul rasa curiga satu sama lain hingga 'devil'-pun menyebarkan terornya kepada mereka. Lalu siapakah 'devil' di antara mereka?


Devil merupakan film pertama dari The Night Chronicles karya Shyamalan yang akan dibuat trilogi. Dalam trilogi ini, Shyamalan hanya memberikan ide cerita saja. Untuk skenario ditulis oleh Brian Nelson dan sutradara John Erick Dowdle yang sebelumnya pernah membuat Quarantine, sebuah film horor yang merupakan remake dari film horor Spanyol .REC. Memang dalam ketiga film ini nantinya Shyamalan akan melibatkan sutradara lain dan mungkin ketiganya tidak sama. Mengambil tema claustrophobic horror dalam film pertamanya ini, Shyamalan sepertinya cukup baik membangun cerita film ini walaupun mungkin secara ide cerita tidak original. Sebuah narasi serta dialog demi dialog antar karakter cukup membuat saya penasaran dan terus mengikuti jalannya cerita. Yang menarik bagi saya adalah bagaimana skenario film ini yang menempatkan kelima orang tersebut pada sebuah masalah masing-masing yang membuat mereka harus terlibat dengan 'sang iblis'. Keseluruhan cerita membuat kita selalu menebak-nebak siapakah 'devil' yang sebenarnya hingga akhir pada akhirnya terungkap 'devil' yang sebenarnya. Ada hal lain yang cukup 'mengganggu' saya yaitu scoring film ini yang bagi saya ada nuansa Hans Zimmer's Inception di dalamnya. Tapi hal tersebut bisa disampingkan ketika mendengar sound effect film ini yang cukup memberikan rasa mencekam sepanjang film.

Secara keseluruhan, apa yang disajikan oleh Devil tidaklah buruk bahkan cukup baik apalagi bagi Shyamalan untuk kembali pada jalurnya. Ya, mungkin ini bisa menjadi awal kebangkitan baginya untuk membuat sesuatu yang lebih baik lagi walaupun dia sendiri di sini tidak terlibat dalam pembuatan film hanya sebagai penulis cerita saja. Melihat apa yang ditampilkan dalam Devil, mungkin cukup pantas bagi kita untuk menunggu kelanjutan trilogi
The Night Chronicles yang dalam film keduanya nanti rencananya akan disutradarai oleh Daniel Stamm (The Last Exorcism) dan film ketiganya yang konon merupakan sekuel dari Unbreakable.


RATE : 3.5/5

2

Incendies (2010)

Labels: , ,


Incendies adalah sebuah film drama asal Kanada yang ditulis dan disutradarai oleh Denis Villeneuve yang pernah menggarap Maelström (2000), bercerita tentang dua bersaudara yang kembar, Jeanne dan Simon Marwan dimana mereka mendapatkan pesan dari surat wasiat ibunya, Nawal Marwan untuk menyampaikan 2 surat masing-masing untuk saudara laki-laki mereka dan ayah mereka yang hingga saat ini mereka pun tidak tahu keberadaannya. Jeanne pun melakukan pencarian sendiri tanpa kehadiran Simon ke sebuah tempat di Timur Tengah. Bermodalkan sebuah foto ibunya, Jeanne mengawali perjalanan dari Daresh, sebuah kota di Timur Tengah. Dari sini Jeanne mendapatkan informasi untuk pergi ke daerah selatan, tempat dimana ibunya lahir dan di daerah selatan pula tempat dimana foto itu diambil, sebuah penjara bernama Kfar Ryat. Namun yang terjadi ketika penduduk di tempat asal ibunya itu mengetahui bahwa Jeanne adalah anak dari Nawal, mereka tidak memperbolehkan Jeanne untuk berada di sana. Melanjutkan perjalanan ke Kfar Ryat, Jeanne pun mendapatkan berbagai informasi tentang kehidupan ibunya, sebuah masa lalu yang bisa dikatakan jauh dari sebuah kehidupan "normal", Jeanne menghubungi Simon yang berada di Kanada, berharap saudaranya itu membantunya untuk menemukan saudara laki-laki dan ayah mereka.


Selain menceritakan tentang perjalanan dua bersaudara Jeanne dan Simon, film ini juga menceritakan sebuah masa lalu yang dialami oleh Nawal Marwan. Diawali dari masa lalu Nawal di sebuah desa kecil di Timur Tengah, kehamilan dari seorang laki-laki tanpa ikatan pernikahan membuat Nawal dianggap telah memalukan nama keluarga Marwan. Mereka pun menunggu hingga anak yang dikandungnya lahir. Saat kelahiran anak itu yang ternyata adalah seorang anak laki-laki, Nawal membuat tato di kaki anak itu dan berjanji untuk menemukan anak itu suatu saat nanti, anak itu pun dibawa untuk diasuh oleh orang lain. Setelah kelahiran anak itu, Nawal pergi ke kota untuk tinggal dan disekolahkan oleh pamannya. Namun perang yang terjadi di negara itu membuat tempatnya belajar ditutup mengharuskan mereka untuk mengungsi dari kota itu. Nawal memutuskan untuk tidak ikut mengungsi dan pergi mencari anaknya di daerah selatan yang merupakan daerah konflik pada saat itu. Tapi saat ia sampai di sana desa tersebut telah hancur akibat serangan yang dilakukan oleh salah satu pihak militan. Tidak menemukan anaknya, membuat Nawal memutuskan untuk bekerja dengan salah satu organisasi yang terlibat pada perang itu. Mulai dari situ, segala kehidupan gelap yang dia alami pun dimulai.


Incendies yang mendapatkan penghargaan pada Toronto International Film Festival sebagai Best Canadian Feature, juga terpilih untuk mewakili Kanada dalam ajang Academy Award 2011 untuk kategori Best Foreign Language. Saya sendiri tidak terlalu berekspektasi banyak terhadap film ini mengingat genre film ini adalah drama. Tapi yang ditemukan sepanjang film adalah kejutan demi kejutan yang tidak terduga. Film ini memiliki dua alur cerita yang berjalan secara bersamaan. Cerita yang pertama adalah tentang perjalanan Jeanne dan Simon untuk memenuhi wasiat ibunya memberikan dua surat untuk saudara laki-laki yang mereka sendiri pun tidak tahu kalau itu ada dan satunya untuk ayah mereka. Sementara yang kedua menceritakan asal usul kehidupan Nawal Marwan, ibu mereka di sebuah daerah di Timur Tengah dimana daerah tersebut sedang terjadi konflik agama. Dari kedua alur tersebut, Denis Villeneuve mengkombinasikan keduanya menjadi sebuah jalan cerita yang padu dan kombinasinya tersebut sangatlah mulus. Dua alur cerita ini justru mendukung satu sama lain. Segala macam pertanyaan yang mungkin muncul pada kisah Jeanne dan Simon selalu terjawab pada saat penceritaan masa lalu dari Nawal. Ide cerita dari film ini sebenarnya cukup sederhana, tetapi Villeneuve cukup berhasil memanfaatkan potensi yang ada. Mengangkat konflik agama yang terjadi di Timur Tengah dan memasukkannya ke dalam cerita justru memberikan pandangan tersendiri terhadap film ini. Setidaknya cukup membuka mata kita tentang bagaimana perang antar agama itu sendiri dan akibat yang ditimbulkan di berbagai sisi baik itu korban maupun mereka yang terlibat dalam konflik.

Incendies mungkin tidak seperti film drama kebanyakan yang dipenuhi oleh adegan 'ala sinetron' yang berusaha membawa perasaan penonton kedalamnya. Tapi yang menjadi kekuatan film ini adalah penceritaan film itu sendiri, mulai dari konflik serta pencarian Jeanne dan Simon yang dalam perjalanan cerita mereka menemukan sesuatu yang tidak terduga. Hal-hal seperti itulah yang justru membuat bagaimana emosi yang terdapat dalam film bisa disampaikan kepada kita yang menontonnya bahkan setiap adegan justru membuat saya tertarik untuk terus mengikuti perjalanan film ini. Dengan berbagai twist demi twist yang disajikan, serta alur cerita non-linear dari film ini, Incendies menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik dan selalu memberikan kejutan hampir di sepanjang film.


RATE : 5 / 5

0

Unstoppable (2010)


Story : Sebuah kereta barang yang memiliki muatan bahan kimia berbahaya berjalan dengan kecepatan tinggi tanpa ada masinis yang mengendarainya akibat kesalahan yang dilakukan oleh Dewey yang turun pada saat kereta berjalan untuk mengubah tuas pada rel. Kereta tak bermasinis itu meluncur dengan kecepatan tinggi menuju daerah pemukiman penduduk dan pada jalur yang sama juga terdapat kereta yang membawa rombongan anak sekolah yang sedang darma wisata. Sementara di tempat lain, Frank (Denzel Washington), seorang masinis yang sudah berpengalaman mendapat rekan kerja baru, Will (Chris Pine) yang baru pertama kali memulai pekerjaannya sebagai kondektur. Keduanya membawa kereta barang yang berada pada jalur yang sama dengan kereta tak bermasinis. Sementara berbagai usaha dilakukan oleh perusahaan pemilik kereta tersebut, Frank yang tidak yakin usaha itu akan berhasil memutuskan untuk menghentikan kereta liar itu dari kereta yang berbeda. Sementara itu, kereta tak bermasinis itu terus melaju menuju Stanton, sebuah kota yang padat penduduk.


Review : Unstoppable sebuah film karya Tony Scott yang juga membuat Taking Pelham sebuah film yang memiliki setting yang mirip yaitu di atas kereta. Unstoppable cukup menjanjikan dengan memberikan ketegangan sepanjang film layaknya kita yang berada di atas kereta tersebut. Dua pemeran utama film ini yang mungkin sudah tidak asing lagi keterlibatan mereka dalam film-film penuh aksi yaitu Denzel Washington dan Chris Pine. Dimana keduanya berperan sebagai masinis kereta yang berusaha menghentikan kereta liar tersebut. Pastinya banyak yang membandingkan film ini dengan Taking Pelham 123, mengingat sutradara kedua film tersebut sama dan setting yang hampir mirip. Tapi Unstoppable jauh lebih baik dibandingkan Taking Pelham, lebih tegang, lebih penuh aksi dan lebih seru pastinya.

Ketegangan pun dimulai sejak awal film, ketika bagaimana kereta tak bermasinis itu lepas kendali dan ketika kereta itu berpapasan dengan sebuah kereta yang membawa rombongan anak sekolah, seakan-akan kita dibuat menahan nafas sejenak. Semakin jauh film berjalan semakin tegang pula kita dibuatnya, usaha untuk menghentikan kereta serta aksi Denzel dan Chris di atas kereta semakin menambah ketegangan. Di luar semua ketegangan yang disajikan, Unstoppable juga dibumbui oleh sedikit drama, latar belakang kehidupan Frank dan Will diceritakan di sini. Walaupun itu cuma sekilas saja tapi cukup memberikan waktu untuk menghela nafas sejenak dari ketegangan yang ada.

Bila kita membandingkan Unstoppable dengan film sejenis seperti Speed 1 dan 2 tentunya film ini masih lebih baik dibandingkan keduanya. Kombinasi antara Taking Pelham dengan Speed justru memberikan hasil yang lebih memuaskan. Dengan segala elemen ketegangan yang ada dalam film ini, Unstoppable mungkin menjadi salah satu film breathtaking tahun ini. Jadi, bersiaplah untuk merasakan ketegangannya.


RATE : 4/5

1

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1 (2010)


Story : Pasca kembalinya Lord Voldemort dan kematian Dumbledore dunia sihir kini diselimuti ketakutan. Rufus Scrimgeour, menteri sihir yang baru berjanji akan menangkap Voldemort. Sementara itu, Harry yang belum berumur 17 tahun berencana untuk keluar dari rumah keluarga Dursley. Dibantu teman-temannya Harry keluar dari rumah itu menuju rumah keluarga Weasley, namun kedatangan Death Eater memaksa mereka kembali dalam pelarian. Petualangan mereka dimulai, dengan mencari Horcrux dan menghancurkannya, tapi Harry menemukan rahasia lain. Deathly Hallows, 3 benda paling berbahaya di dunia sihir, dan Voldemort mencari benda tersebut.


Review : Harry Potter memasuki seri yang ketujuh yang merupakan seri terakhir franchise ini. Untuk seri yang ketujuh ini, Harry Potter and the Deadly Hallows dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama yang awalnya direncanakan untuk tayang dengan format 3D juga akhirnya batal. Sementara untuk bagian kedua yang akan ditayangkan Juli tahun depan tetap akan menggunakan format 2D dan 3D. Untuk sutradara sendiri, adalah David Yates yang juga menjadi sutradara di beberapa seri sebelumnya. Menjadi sebuah keharusan bagi David Yates yang tentunya sudah mengenal baik franchise ini untuk menjadikan seri penutup Harry Potter sebagai film yang memorable bagi para fansnya. Pada awalnya sedikit meragukan apakah film ini akan lebih baik dari sebelumnya dan keraguan pun terjawab setelah menyaksikannya. Bagian pertama dari Deathly Hallows menyajikan petualangan yang berbeda dimana sepanjang film kita disajikan oleh sebuah petualangan yang menegangkan dan kali ini hubungan emosional antara ketiga tokoh utama, Harry, Hermione dan Ron akan menjadi penghias perjalanan mereka. Cerita kali ini berkisar pada perjalanan ketiga tokoh ini sepeninggalan Dumbledore untuk menemukan Horcrux untuk mengalahkan Voldemort. Bermula dari pelarian Harry dari rumah keluarga Dursley hingga sampai ke rumah keluarga Weasley dimana pada akhirnya mereka harus lari karena kedatangan Death Eaters. Dari sinilah masalah demi masalah terjadi serta berbagai rahasia mulai terungkap. Ditambah konflik diantara ketiganya yang semakin menyulitkan perjalanan mereka. Di sini kita dapat melihat bagaimana hubungan antara ketiganya berkembang. Memang untuk bagian pertama ini lebih banyak drama ketimbang pertarungan adu ilmu sihir, tapi semua itu memang layak untuk diikuti.

Dalam seri terakhir ini, muncul beberapa karakter baru, seperti Menteri Sihir Rufus Scrimgeour yang diperankan oleh Bill Nighy, kemudian ayah dari Luna Lovegood, Xenophilius Lovegood yang diperankan oleh Rhys Ifans serta Mundungus Fletcher yang diperankan oleh Andy Linden dan beberapa karakter minor lainnya. Walaupun kemunculan mereka cukup jarang, tapi memegang peranan cukup penting dalam cerita. Sekarang apabila kita melihat relevansi cerita di film dan novel, ada bagian yang tidak terdapat di novelnya tapi bisa ditemukan di film. Begitu juga sebaliknya, beberapa bagian dari novel ada yang tidak muncul di film, mungkin saja untuk mempersingkat durasi mengingat betapa tebalnya novel seri terakhir ini.

Dengan dibaginya seri terakhir ini menjadi 2 bagian, memberi kesempatan bagi Yates untuk bisa mengeksplor potensi dari seri terakhir ini, sehingga tidak terkesan terlalu terburu-buru. Tentunya tidak sabar menunggu bagian kedua dari seri ini yang akan hadir July tahun depan. Deathly Hallows Part 1 cukup berhasil membuka seri terakhir Harry Potter yang akan menjadi epic finale perjalanan panjang seri ini.


RATE : 4/5

0

Monsters (2010)


Story : 6 tahun berlalu sejak kemunculan makhluk asing di Bumi, kini perbatasan Amerika dan Meksiko menjadi wilayah terinfeksi dan terlarang. Pasukan dari kedua negara itu terus menghadapi invasi makhluk asing yang semakin meluas. Di perbatasan Amerika pun dibuat tembok besar untuk menghalangi makhluk tersebut. Sementara itu, Andrew Kaulder, seorang jurnalis bertugas untuk membawa pulang seorang gadis anak dari pimpinan koran tempat dia bekerja, Samantha dari Meksiko menuju Amerika. Awalnya semua terlihat mulus, kemudian masalah berlanjut ketika mereka gagal menaiki perahu ke Amerika sehingga mereka terpaksa harus melalui wilayah terlarang. Dari sini perjalanan mereka dimulai, dimana mereka akan menghadapi berbagai masalah. Sejalan dengan itu, hubungan antara keduanya pun tumbuh dan berkembang.


Review : Mungkin yang diharapkan dari sebuah film sci-fi ini adalah makhluk asing yang menyerang kota lalu manusia yang terancam musnah oleh keberadaan mereka. Sayangnya bukan hal seperti itulah yang ditampilkan oleh Monster, melainkan sebuah drama hubungan antara seorang pria dan wanita dalan perjalanan mereka untuk melewati sebuah daerah terlarang. Makhluk asing dan sci-fi disini justru hanya menjadi aksesoris semata. Gareth Edwards, sutradara sekaligus penulis skenario, menggarap film ini dengan dana yang tergolong sangat rendah untuk sebuah film bertaraf internasional. Oleh karena itu, aktor dan aktris yang berperan dalam film ini pastinya biasa saja, begitu pula visual effect yang digunakan tergolong cukup sederhana. Beberapa pemain tambahan yang muncul di film juga adalah orang-orang yang berada di tempat itu saat pembuatan film. Hal lain yang menarik adalah film ini diambil hanya dengan menggunakan satu kamera saja dan cukup terlihat sekali bagaimana pengambilan gambar yang terlihat sedikit amatir walau begitu scene demi scene terlihat cukup mulus.

Dari segi cerita sendiri, tentunya banyak yang mengira film ini akan seperti District 9 atau Cloverfield, tapi Monsters justru memberikan porsi yang lebih besar pada drama. Disini kita disajikan hubungan antara Sam dan Andrew dalam perjalanan mereka melewati daerah yang sudah terinfeksi. Sepanjang film digambarkan bagaimana chemistry mereka tumbuh dan berkembang. Makhluk asing di sini hanya sebagai penghias mewarnai perjalanan mereka. Sebagai film dengan budget yang cukup minim, Gareth Edwards cukup berhasil mengeksekusinya menjadi sebuah film drama sci-fi yang sederhana tapi tetap berkualitas. Tidak mengherankan bila film ini mendapat respon positif dari penonton dan kritikus film di berbagai tempat.


RATE : 3.5/5

0

The Social Network (2010)


Story : Mark Zuckerberg, seorang mahasiswa universitas harvard memiliki ide untuk membuat sebuah website dengan mencuri data para mahasiswi dari jaringan harvard. Sebuah situs bernama FaceMash.com menarik para mahasiswa membuat jaringan harvard down. Ia pun mendapat hukuman berupa 6 bulan masa percobaan, tapi apa yang ia lakukan justru menarik perhatian Cameron dan Tyler Winklevoss yang kemudian mengajaknya untuk bergabung bersama mereka membuat Harvard Connection. Pada saat yang bersamaan, Mark bersama Eduardo Saverin membuat suatu situs lain yang mereka beri nama TheFacebook yang menjadikan mereka terkenal di kampus dan membuat Winklevoss bersaudara marah karena Mark dianggap mencuri ide mereka. Dari sinilah perseteruan mereka dimulai dan bagaimana TheFacebook berkembang menjadi situs besar seperti saat ini.


Review : Tentunya siapa yang tidak tahu Facebook, sebuah situs pertemanan yang sedang booming saat ini. Tapi berapa orang yang tahu bagaimana Facebook berdiri dan apa saja yang terjadi dibalik sejarah situs ini. The Social Network menceritakan konflik yang terjadi dibalik sejarah Facebook berdiri, serta menceritakan bagaimana Mark Zuckerberg bisa menemukan Facebook dan membangunnya menjadi sebuah situs yang besar. Kali ini David Fincher yang pernah sukses menyutradarai Seven duduk sebagai sutradara film ini, sedangkan Screenwriter ditangani oleh Aaron Sorkin. Fincher menggaet Jesse Eisenberg sebagai Mark Zuckerberg dan Andrew Garfield sebagai Eduardo Saverin serta penyanyi Justin Timberlake sebagai Sean Parker. The Social Network menyajikan sebuah screenplay yang sangat menarik dengan perpaduan cerita antara masa lalu dengan masa kini, Fincher berhasil menggabungkan keduanya dengan baik dan sangat halus, cukup membuktikan bagaimana skenario film ini ditulis dengan cukup matang. Dialog yang disajikan pun terlihat cukup cerdas, membuat film yang berdurasi sekitar 2 jam ini menjadi tetap asik untuk dinikmati. Sedikit joke yang diselipkan disela-sela percakapan pun membuat film yang didominasi oleh pembicaraan ini menjadi tidak membosankan.

Dari jajaran cast sendiri, setiap pemain cukup berhasil memainkan peran beserta karakternya masing-masing. Eisenberg memerankan Mark dengan sangat baik. Dengan karakter yang serius terlihat cukup natural. Andrew Garfield menggambarkan Eduardo sebagai seorang yang ambisius namun lebih mementingkan egonya sendiri. Di sisi lain Justin Timberlake dengan gayanya sendiri cukup berhasil memerankan Sean Parker. Sementara Winklevoss bersaudara digambarkan sebagai seorang yang ambisius. Setiap karakter melengkapi The Social Network sebagai sebuah film yang ambisius dan penuh makna. Perjalanan seorang mahasiswa biasa dengan kemampuan luar biasa menjadi salah satu milyuner, serta menunjukkan bahwa "Money is The Root of Evil"

Akhir Kata, The Social Network merupakan sebuah film biopic yang tertata dengan rapi mulai dari awal hingga akhir menjadikannya sebagai suatu tontonan yang menarik dan dengan script yang matang serta dialog yang cerdas membuat 2 jam menonton film ini terasa lebih bernilai. Oscar? Umm... Maybe.


RATE : 4.5/5

1

A Barefoot Dream (2010)

Labels: , ,


Story : Kim Wan-Kong seorang mantan pemain sepakbola Korea, memulai bisnis di Indonesia. Sayangnya ia ditipu sehingga membuat bisnisnya bangkrut dan ia menjadi buruan penagih hutang. Hingga ia melihat tayangan televisi tentang Timor Leste, negara yang baru merdeka. Berharap menemukan peluang bisnis, Kim pergi ke negara itu, tapi yang ditemukan di sana hanyalah perang dan kemiskinan. Saat ingin keluar dari negara itu, Kim memutuskan untuk membuka toko olahraga, sayangnya toko itu tidak ada pembelinya. Kim melihat anak-anak yang bermain bola memutuskan untuk memberikan kredit sepatu kepada mereka, namun apa daya mereka tak sanggup membayar. Dengan rasa iba, Kim mengizinkan mereka memakai sepatunya dan melatih mereka untuk menjadi pemain sepak bola pro seperti apa yang mereka impikan.


Review : A Barefoot dream, sebuah film korea bertemakan olahraga dengan setting Timor Leste, sebuah negara yang baru saja merdeka dimana di negara itu masih terjadi konflik. Kim, seorang mantan pesepakbola korea yang mencari peruntungan di negara itu malah berakhir dengan melatih anak-anak Timor Leste bermain sepak bola. Film yang diangkat berdasarkan kisah nyata seorang pemain sepak bola dari Korea yang membawa tim Timor Leste menjadi juara di sebuah kompetisi di Jepang pada tahun 2004. Walau masih belum bisa dipastikan kebenarannya mengingat di film pun tidak disebutkan dengan lebih jelas. Tae-gyun Kim, sutradara film ini berhasil mengemas film ini dengan sangat baik. Sepanjang film penonton disajikan drama dan konflik masing-masing karakter serta konflik yang terjadi di negara itu pasca kemerdekaan, dimana terjadi perseteruan antara pro kemerdekaan dan yang kontra ditambah kemiskinan yang melanda negara itu digambarkan dengan cukup baik. Selain itu, kita juga disajikan oleh permainan sepak bola anak-anak, mulai dari pertandingan "kampung" hingga pertandingan resmi. Semua itu digarap dengan apik, disajikan dengan tehnik-tehnik bermain bola membuat penonton seperti menonton pertandingan sepak bola sungguhan.

A Barefoot Dream memang film Korea, tapi dialog dalam film ini tidak hanya menggunakan bahasa Korea. Total sekitar 5 bahasa digunakan dalam film ini, seperti bahasa Indonesia dan Portugal yang digunakan oleh para penduduk Timor Leste, bahasa Inggris dan Jepang yang digunakan oleh seorang Jepang dan warga asing yang ada di sana. Bahkan Hie-sun Park yang berperan sebagai Kim dituntut untuk mempelajari bahasa Indonesia dan bahasa Timor Leste. Memang terlihat aneh saat Kim mengucapkan bahasa Korea dicampur dengan Indonesia tapi hal ini justru membuat saya tertawa saat ia mengucapkan kedua bahasa ini. Walaupun sulit dalam berbicara bahasa Indonesia, tapi Park menyampaikannya dengan baik sehingga apa yang ia katakan dapat dimengerti.

Secara keseluruhan, A Barefoot Dream menjadi sebuah drama tentang sepak bola yang memberikan sebuah pesan yang inspiratif dan memberikan motivasi kita untuk terus maju mencapai mimpi. Sebuah pencapaian yang sangat baik dari film ini adalah bagaimana menggambarkan konflik yang terjadi di Timor Leste saat itu disela-sela film. Film yang juga menjadi wakil dari Korea Selatan untuk nominasi Oscar Best Foreign Language tentunya sangat menghibur dan pastinya wajib untuk ditonton.


RATE : 4.5/5

0

Legend of The Guardians: The Owls of Ga'Hoole (2010)

Labels:


Story : Soren, seekor burung hantu muda yang tinggal bersama kedua orang tuanya serta Kludd dan Eglantine, kakak dan adiknya. Ia sangat menyukai legenda para penjaga dan mengidolakan Lyze of Kiel sebagai pahlawannya. Suatu saat saat sedang bersama Kludd, mereka diculik oleh kelompok The Pure Ones. Sebuah kelompok yang menganggap merekalah yang terkuat dan berkeinginan untuk menguasai dunia. Mereka menculik burung hantu lain untuk dijadikan budak dan bekerja untuk mereka. Di sana Soren bertemu dengan Gylfie, seekor burung hantu kecil. Mereka pun berencana untuk melarikan diri dan menuju Ga'Hoole untuk menemukan para penjaga dan meminta bantuan mereka. Sebuah perjalanan pun dimulai dimana Soren dan Gylfie bertemu dengan teman baru yang menemaninya dalam perjalanan mencari para penjaga.



Review : Legend of The Guardians adalah sebuah film yang diangkat dari sebuah novel dengan judul yang sama, menceritakan perjuangan seekor burung hantu muda yang ingin membebaskan burung hantu lain yang diculik The Pure Ones. Zack Snyder yang ada dibalik pembuatan film ini, yang terkenal juga dengan karyanya 300 dan Watchmen, mengemas film ini dalam bentuk 3D. Tentunya ini adalah film 3D pertama bagi Snyder dan ia cukup baik melakukannya. Keberhasilannya membuat film bertema kepahlawanan yang di dalamnya terdapat adegan-adegan pertarungan dalam film 300 dapat dilakukannya juga di film ini. Dalam bentuk 3D semakin membuat setiap adegan terlihat dramatis. Penambahan efek slow motion pada adegan yang tepat membuat penggunaan 3D menjadi semakin sempurna.

Dari segi cerita, memang cerita Legend of The Guardians mudah ditebak. Sangat identik sekali dengan cerita-cerita dongeng. Walaupun begitu, film ini tetap dapat dinikmati bagi siapa saja. Kekurangan lain dari film ini adalah kurangnya pendalaman masing-masing karakter serta hubungan antar karakter. Seperti hubungan antara Soren dan Gylfie serta Soren dan Ezylryb sebenarnya dapat digali lebih dalam lagi. Begitu juga ikatan emosi antara Soren dan Kludd yang merupakan saudara harusnya bisa lebih diperdalam.

Legend of The Guardians merupakan sebuah film yang cocok sebagai tontonan keluarga. Cerita yang cukup menghibur serta adegan pertarungan yang seru dikemas dalam bentuk 3D. Ini menjadi awal yang baik bagi Zack Snyder yang baru memulai menggunakan 3D dalam filmnya. Mungkin sebuah sekuel? Have a safe flight...


RATE : 4/5

0

The Last Exorcism (2010)

Labels: ,


Story : Marcus Cotton, seorang pendeta yang berprofesi sebagai exorcist atau pengusir iblis mendapat tugas dari keluarga Sweetzer. Louis Sweetzer beserta kedua anaknya Caleb dan Nell, bermasalah dengan hewan ternaknya yang menghilang setiap malam. Louis menyangka ada sesuatu dengan Nell. Cotton pun melakukan Exorcist terhadap Nell. Namun apa yang terjadi selanjutnya diluar perkiraan mereka. Kondisi Nell malah semakin memburuk, hingga Louis meminta Marcus untuk melakukan Exorcist untuk kedua kalinya.


Review : Tentunya The Last Exorcism merupakan salah satu film horor yang ditunggu. Beberapa film bertema Exorcism sebelumnya, selalu menghadirkan nuansa horor yang baik walau terkadang lemah dalam cerita. The Last Exorcism menggunakan setting mockumentary yang akhir-akhir ini sedang banyak digunakan oleh film-film horor. Sebut saja .rec, Paranormal Activity, sebuah horor Jepang Noroi atau film Indonesia Keramat. Beberapa film tersebut memang terbukti cukup baik dalam menerapkannya, menambah nuansa horor di dalam film. Tapi apakah The Last Exorcism berhasil seperti film-film tersebut? Jawabannya adalah tidak. Memang dari sisi mockumentary, penyajiannya sudah cukup baik. Semua terkesan mengalir secara natural, mulai dari penceritaan sampai pengambilan gambar oleh kamera. Tapi jika melihat sisi horor film ini, nuansa horor yang disajikan sangatlah kurang. Akibat terlalu banyak bagian yang lebih mengedepankan sisi dokumenter membuat cerita terkesan terlalu dipanjangkan sehingga mengurangi porsi horornya, mungkin kurang dari setengah dari film saja.

Di luar dari cerita dan nuansa horor yang masih kurang, yang patut diacungi jempol adalah akting para pemainnya. Mereka berhasil memerankan karakternya masing-masing dengan baik. Bahkan Ashley Bell yang berperan sebagai Nell cukup baik memberikan kesan Nell sebagai seorang gadis yang mengalami masalah mental. Hal kedua yang menjadi pembahasan di sini adalah perkembangan masing-masing karakter. Mulai dari Marcus yang pada awalnya adalah seorang pendeta yang tidak percaya akan hal-hal gaib menjadi seorang yang benar-benar religius dan semua itu mengalir begitu saja sejalan dengan berjalannya cerita.

Secara keseluruhan, The Last Exorcism merupakan sebuah film mockumentary yang baik, tapi kurang memuaskan sebagai film horor yang pastinya membuat kecewa para pecinta horor yang telah setia menunggu kehadirannya. Pastinya Eli Roth telah gagal mengemas horor ala Exorcism menjadi sebuah film mockumentary.


RATE : 3.5/5

0

Resident Evil: Afterlife (2010)

Labels: ,


Story : Beberapa tahun setelah tragedi di Racoon City, T-Virus mulai menyebar ke seluruh dunia. Di Tokyo, Jepang, T-Virus membuat kota itu menjadi kota mati dan di kota ini juga terdapat salah satu markas Umbrella Corp. Alice bersama kloningnya melakukan infiltrasi pada tempat tersebut dan berhasil menemukan Wesker. Sayangnya ia berhasil lolos dan bertemu dengan Alice asli, dimana kemudian dia kehilangan kekuatannya dan Wesker meledakkan markas Umbrella sehingga seluruh klon Alice mati.

Beberapa bulan setelah itu, Alice mendengar ada sebuah tempat di Alaska yang bebas dari infeksi, yaitu Arcadia. Tidak menemukan tempat itu tapi ia bertemu dengan Claire yang hilang ingatan. Kemudian mereka pergi ke Los Angeles dimana mereka bertemu dengan sekelompok orang yang masih selamat dan terjebak oleh sekelompok besar zombie. Di sana mereka melihat Arcadia dan bersama mereka merencanakan untuk keluar dari tempat itu menuju ke Arcadia, dimana sesuatu menunggu mereka di sana. Sementara itu bahaya mulai mendekati mereka.


Review : Resident Evil, sebuah film yang diadaptasi dari game dengan judul yang sama, kini menjadi salah satu franchise film yang serinya dinanti bukan hanya oleh fans gamenya sendiri tetapi juga para movie mania. Mungkin diangkatnya game ini ke film menambah penggemar franchise ini. Diserinya yang ke 4, tentunya para penggemarnya berharap adanya peningkatan kualitas baik dari segi cerita maupun karakter. Disutradarai oleh Paul W.S. Anderson yang juga menjadi sutradara sekaligus penulis skenario di 3 film sebelumnya, Afterlife kini disajikan dalam bentuk 3D. Mengikuti penggunaan 3D yang akhir-akhir ini banyak digunakan.

Jika kita melihat Afterlife dari segi cerita, tentunya orang akan membandingkan film ini dengan cerita pada game aslinya. Memang cerita dari Afterlife sedikit mirip dengan Resident Evil 5, tapi di sini kita coba melihat tanpa membandingkan dengan gamenya. Mulai dari awal hingga akhir cerita, Afterlife terlihat cukup kedodoran, alur yang berjalan terkesan cepat dan terlihat agak dipaksakan. Serta hal lain yang cukup mengganggu adalah adegan dengan efek slow motion yang cukup banyak, mengurangin esensi film serta menambah panjang durasi film yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menambah detail cerita. Yang bisa menjadi nilai tambah dari Afterlife hanya adegan action yang cukup menghibur, namun hal ini belum dapat menutup kekurangan film ini di berbagai aspek.

Beberapa karakter yang muncul dalam Afterlife diadaptasi langsung dari gamenya, seperti Wesker yang menjadi tokoh antagonis dalam film ini sudah cukup sering muncul dalam beberapa seri RE, sehingga tidak asing lagi bagi fans. Karakter Claire dan Chris yang menjadi tokoh utama dalam beberapa seri RE pastinya sudah cukup melekat dihati fans. Karakter-karakter inilah yang memang berperan dalam Afterlife, disamping Alice yang sebagai karakter utama. Anderson memang cukup baik mengadaptasi mereka, sayangnya kemunculan salah satu musuh, The Executioner yang cukup singkat. Dan yang menjadi kekurangan di sini adalah bagaimana penggambaran zombie yang kali ini lebih banyak menggunakan CGI yang terkesan agak kasar.

Secara keseluruhan, Afterlife memang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan seri pendahulunya. Tapi penggunaan 3D mungkin bisa menjadi salah satu peningkatan film ini. Semoga kehadiran seri selanjutnya bisa lebih baik dari ini, mungkin dengan melibatkan fans bisa membuat seri ini terasa lebih 'RE'


RATE : 3/5

0

Sang Pencerah (2010)

Labels: ,


Story : Muhammad Darwis dilahirkan di Yogyakarta. Dibesarkan di daerah Kauman, Yogyakarta dengan lingkungan muslim yang mulai melenceng dari ajaran Islam yang sebenarnya. Ketika menganjak remaja, Darwis yang ingin belajar lebih banyak tentang Islam kemudian pergi ke Mekkah untuk naik haji. Sepulang dari Mekkah, nama Muhammad Darwis diganti menjadi Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan berusaha mengubah ajaran Islam yang selama ini menurutnya salah, mulai dari arah kiblat yang tidak tepat hingga penggunaan sesajen atau persembahan yang selama ini ada di lingkungan Kauman. Hal ini membuatnya dianggap kafir dan melenceng dari ajaran Islam, sehingga langgar tempatnya mengajar agama dihancurkan. Walaupun dihancurkan, Ahmad Dahlan tetap berjuang mengajarkan agama Islam, bersama kelima muridnya yang tetap setia menemaninya.


Review : Sang Pencerah, sebuah film karya Hanung Bramantyo yang menceritakan kehidupan KH Ahmad Dahlan sang pendiri Muhammadiyah. Film yang direncanakan akan dibuat dalam bentuk trilogi oleh Hanung, untuk cerita kali ini berkisar antara kehidupan Ahmad Dahlan sepulang dari naik haji di Mekkah hingga bagaimana ia mendirikan Muhammadiyah. Sebagai film biografi, penceritaan film ini tidak terlalu bertele-tele, namun pada bagian akhir memang sedikit kurang memuaskan sehingga memberikan kesan anti klimaks. Padahal seharusnya bagian akhir inilah dimana pada bagian ini menceritakan pembentukan Muhammadiyah yang seharusnya menjadi klimaks dari film ini. Walaupun dengan penyelesaian yang terkesan kurang, secara keseluruhan Sang Pencerah menyajikan alur cerita yang cukup baik dan tidak membosankan.

Sang Pencerah memang merupakan film tentang agama Islam, tapi yang menjadi menarik disini adalah penggunaan bahasa yang lebih universal sehingga film ini tidak hanya bisa dinikmati oleh penonton muslim saja, penonton non muslim pun juga bisa ikut menikmati film ini. Setiap dialog dipenuhi dengan pesan moral yang dapat diambil, tidak hanya pesan tentang agama tapi juga pesan sosial. Di sini Hanung sepertinya ingin menggambarkan seperti apa Islam itu sebenarnya untuk mengubah pandangan orang tentang Islam. Penggambaran konflik yang terjadi dalam Islam itu sendiri, jadi bukan hanya dengan penjajah tapi juga di dalam Islam itu sendiri dan konflik ini digambarkan dengan cukup nyata dan dengan penjelasan yang cukup mendetail. Dari segi pemeran sendiri, Lukman Sardi yang berperan sebagai Ahmad Dahlan memerankan perannya dengan cukup baik. Logat jawa yang digunakan walaupun kurang kental tapi masih bisa terlihat. Sedangkan beberapa pemain pendukung lain seperti Giring Nidji, Dennis Adishwara, Ricky Perdana dan pemeran lainnya tidak kalah dengan aktor senior lainnya. Hanya saja dimana film ini berlatar lingkungan jawa yang pada beberapa dialog disisipkan bahasa jawa, beberapa dari mereka terlihat agak kaku ketika mengucapkan dialog bahasa jawa.

Sebagai sebuah film yang memiliki unsur agama Islam, mungkin saat lebaran memang waktu yang tepat untuk menayangkan film ini. Suasana yang tepat dimana orang dapat mengisi libur lebarannya dengan menonton film ini. Tentunya Sang Pencerah bisa menjadi tontonan bagi keluarga, mengingat banyaknya pesan moral yang dapat diambil dan tokoh Ahmad Dahlan yang bisa sebagai teladan. Sang Pencerah menambah daftar film Indonesia berkualitas yang patut ditonton dan melihat banyaknya film Indonesia yang bagus tahun ini sepertinya cukup menggambarkan kualitas film Indonesia yang semakin lama semakin membaik dan tentunya kehadiran sekuel film ini patut ditunggu. Enjoy.


RATE : 4/5

0

Hello Stranger (2010)

Labels: , ,


Story : Seorang gadis Thailand memiliki kesempatan untuk berlibur ke Korea sekaligus menghadiri pernikahan seorang temannya dengan berbohong pada pacarnya bahwa ia pergi dengan temannya. Sementara itu, seorang pria yang "terbuang" mengikuti tour ke Korea sendirian, hingga keduanya secara tidak sengaja bertemu saat sang pria "tersesat" di malam hari. Kemudian ketika sang pria tertinggal rombongan tournya, keduanya pun kemudian pergi bersama hingga mereka menjadi saling mengenal lebih dekat sampai tumbuh suatu perasaan di antara mereka.


Review : Bagaimana jika seorang sutradara yang terkenal dengan film horor membuat film bernuansa romance-comedy, Hello Stranger adalah jawabannya. Menyusul kesuksesan Bangkok Traffic Love Story, sebuah film dengan genre romantic comedy yang dirilis tahun lalu di Thailand yang sempat menjadi box office di sana, studio GTH tahun ini kembali dengan film bergenre sama yaitu Hello Stranger. Dengan Banjong Pisanthanakun yang duduk di bangku sutradara film ini, mungkin lebih dikenal dengan karya-karya horornya seperti Alone, Shutter, 4Bia dan Phobia 2. Mungkin dari segi komedi tidak terlalu diragukan, mengingat segmen Phobia 2 yang disutradarainya lebih mengarah ke komedi daripada horor. Tapi bagaimana dengan romance ? Ternyata Bangjong cukup berhasil memberikan jiwa romantis ke dalam film ini. Sepanjang film penonton akan disajikan oleh dialog-dialog yang romantis dan juga kocak.

Kalau melihat dari segi cerita, secara keseluruhan cerita Hello Stranger lebih mirip kepada serial TV drama Korea, yang mungkin cerita seperti ini sudah tidak asing lagi bagi penggemarnya. Bercerita tentang seorang pria dan seorang wanita yang dipertemukan secara kebetulan kemudian saling dekat hingga saling jatuh cinta. Alur cerita Hello Stranger mengalir dengan baik hingga pada bagian pertengahan film agak sedikit kasar, sehingga terkesan sedikit dipaksakan. Selebihnya dapat mengalir dengan baik dan memberikan kesan hubungan antara keduanya lebih natural. Konflik yang terjadi juga digambarkan dengan cukup baik. Masalah yang dialami keduanya serta bagaimana hubungan mereka bisa lebih dekat tergambarkan dengan baik dan tentunya berhasil membawa penonton ke dalamnya. Dialog dalam film ini juga terasa lebih berwarna. Tidak dipenuhi dengan dialog-dialog romantis yang terkesan berlebihan, tetapi terkesan cerdas dan diselingi jokes sehingga tidak terasa membosankan. Selain itu cukup inspiratif sehingga ada beberapa pesan moral yang dapat diambil dari film ini. Dari segi pemain, Chantawich Tanasewi dan Nuengtida Sopon cukup baik memainkan perannya masing-masing dan mereka terlihat serasi dalam film ini. Jadi tidak salah sutradara Banjong Pisanthanakun memasangkan keduanya dalam film ini.

Secara keseluruhan Hello Stranger berhasil menggabungkan nuansa romantis dan juga komedi secara bersamaan. Menjadikan film ini cukup menghibur dan juga bisa membawa perasaan ke dalamnya sehingga penonton akan dibuat tertawa dan juga sedih di saat yang bersamaan. Dengan hadirnya film ini dapat menjadikan Thailand salah satu "kiblat" baru film dengan genre komedi romantis di Asia.


RATE : 4/5

0

The Sorcerer's Apprentice (2010)

Labels: ,


Story : Penyihir Merlin yang memiliki 3 orang murid, Balthazar, Veronica dan Horvath harus menghadapi kekuatan penyihir jahat Morgana. Dimana salah satu muridnya, Horvath berkhianat memihak pada Morgana. Balthazar pada akhirnya berhasil mengurung Morgana dengan bantuan Veronica. Merlin memerintahkan Balthazar untuk menemukan penerusnya dan memberikan cincin naga kepadanya. Bertahun-tahun Balthazar mencari penerus Merlin hingga secara kebetulan bertemu dengan Dave yang juga tanpa sengaja membuka segel yang kemudian membebaskan Horvath. Beberapa tahun kemudian Horvath yang terkurung bersama Balthazar dalam sebuah guci kembali mencari Dave untuk membebaskan Morgana. Balthazar pun mengajarkan sihir kepada Dave sebagai penerus Merlin untuk mengalahkan Morgana.


Review : Jerry Bruckheimer kembali berkolaborasi dengan Walt Disney membuat sebuah film yang diangkat dari sebuah film karya Disney, Fantasia. Dengan Jon Turteltaub pada kursi sutradara, The Sorcerer's Apprentice berkisah tentang seorang pemuda yang terpilih untuk menghadapi penyihir jahat Morgana. Dari segi cerita, The Sorcerer's Apprentice memiliki alur yang sederhana ala disney, tapi masih banyak kekurangan beberapa bagian. Seperti plot yang terkesan agak dipaksakan sehingga film ini memiliki cukup banyak plot hole di dalamnya. Sedangkan kalau kita melihat dari judul film itu sendiri, tentunya di sini menceritakan tentang seorang murid penyihir yang pastinya memiliki hubungan dengan gurunya. Tapi yang lebih menjadi sorotan di sini adalah bagaimana perebutan Grimhold antara Balthazar dengan Horvath. Justru bagian bagaimana Dave belajar ilmu sihir tidak begitu banyak. Jadi hubungan emosional antara guru dan murid yang harusnya terjadi, sangat tidak terasa di film ini. Tapi ada satu daya tarik dari film ini, dimana ilmu sihir dihubungkan dengan science, seperti penjelasan sihir serta penggunaan sihir yang digabungkan dengan ilmu pengetahuan.

Bila kita berbicara mengenai special effect film ini, tentunya sudah tidak perlu diragukan lagi mengingat Jerry Bruckheimer Films yang menggarap film ini sudah cukup dikenal dengan special effect yang mengagumkan, seperti Pirates of The Carribean series dan Prince of Persia. Setiap penggambaran sihir digambarkan dengan cukup halus. Sedangkan dari cast sendiri, Jay Baruchel sebagai pemeran Dave di film ini sepertinya agak kurang pas. Berbeda dengan karakternya dalam How To Train Your Dragon atau memang karakter Dave yang ia perankan menuntutnya untuk berperan seperti itu. Nicolas Cage sendiri tidak menampilkan performa yang cukup baik. Sedikit aneh dengan rambutnya yang panjang itu. Dan juga Monica Bellucci yang awalnya mungkin akan sering muncul dalam film ini ternyata tidak. Ia hanya muncul beberapa menit di awal dan di akhir film saja.

Walaupun dengan adegan-adegan pertarungan yang penuh dengan special effect dan aksi-aksi yang menghibur khas disney, tetap saja The Sorcerer's Apprentice gagal memberikan sesuatu yang istimewa. Tapi kalau melihat keseluruhan cerita film ini, mungkin Disney bisa menjadikannya sebuah ikon tersendiri dengan membuat sekuelnya. Secara keseluruhan film ini memang hanya cukup sebagai hiburan semata, jadi jangan terlalu berharap banyak.


RATE : 3/5

0

Inception (2010)

Labels: , ,


Story : Cobb (Leonardi DiCaprio), seorang extractor mimpi yaitu mencuri "sesuatu" melalui mimpi mendapat tawaran dari Saito (Ken Watanabe) untuk menanamkan sebuah insepsi kepada ahli waris saingannya Robert Fisher (Cillian Murphy) untuk menjatuhkan kerajaan ayahnya. Dengan imbalan dia bisa kembali pulang untuk bertemu anaknya, Cobb bersama Arthur (Joseph Gordon-Levitt) mengumpulkan timnya yang terdiri dari Ariadne (Ellen Page), Eames (Tom Hardy) dan Yusuf (Dileep Rao) untuk menyelesaikan misi tersebut. Di lain hal Cobb harus berhadapan dengan masalahnya sendiri yang berhubungan dengan kehidupannya di masa lalu.


Review : Selamat datang di dunia mimpi ala Christopher Nolan. Mungkin itu kalimat yang tepat untuk menggambarkan saat dimulainya film ini. Nolan yang dikenal dengan 2 karyanya Memento dan The Dark Knight dan beberapa karya lainnya kembali hadir dengan Inception yang merupakan salah satu film paling ditunggu di tahun 2010 ini. Inception bersetting tentang pencurian lewat mimpi, suatu ide cerita yang bisa dibilang berbeda dari Nolan. Pada trailer yang dirilisnya pun Nolan tidak memberikan plot secara detail sehingga cukup membuat penonton penasaran seperti apa alur cerita film ini. Inception menyajikan alur cerita yang terkesan rumit, dimana banyak dialog dan adegan yang harus diperhatikan dengan baik tentunya, agar anda tidak ketinggalan setiap momen dalam film. Setiap adegan berhubungan satu sama lain sehingga memberikan petunjuk pada adegan berikutnya bahkan hingga akhir film. Mungkin memang ada beberapa film yang mengambil mimpi sebagai latar belakang ceritanya, namun Inception berbeda, dimana penggambaran tentang mimpi terasa lebih nyata. Inception memberikan plot yang cukup detail hampir tidak ada plot hole didalamnya, seandainya ada tidak begitu dirasakan oleh penonton. Yang menjadi daya tarik lain dari Inception adalah Nolan berhasil membawa penonton ke dalam alam mimpinya sehingga seakan-akan penonton ikut terbawa berpikir dan merasakan apa yang ada di dalam film. Pendalaman masing-masing karakter juga cukup baik, walaupun karakter Cobb mendapatkan porsi lebih di film ini. Terlihat sekali bahwa alur cerita sebenarnya berkisar padanya.

Sebagai suatu film, Inception menghadirkan segalanya. Mulai dari
action yang ciamik, dialog yang cukup cerdas serta didukung dengan special effect yang menawan. Sebagian besar film dipenuhi dengan dialog-dialog yang cukup cerdas, bisa dibilang dialog yang dihasilkan tidak mubazir. Pada bagian special effect, Nolan menggambarkan dunia mimpi dengan sangat baik seperti hal-hal yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata kini digambarkan di dalam dunia mimpi dengan penampilan grafis yang memukau. Selain itu Inception juga dibumbui oleh adegan action yang membuat film ini terasa lebih lengkap. Kalau kita berbicara mengenai music score Inception, mulai dari awal hingga akhir film anda disajikan dengan karya-karya Hans Zimmer yang cukup menawan. Scoring yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan adegan yang dimainkan. Serta memberikan nuansa drama penuh misteri yang menegangkan.

Melihat jajaran cast Inception yang tentunya tidak asing lagi, nama-nama seperti Leonardo DiCaprio (Titanic, Shutter Island), Joseph Gordon-Levitt (500 Days of Summer), Ken Watanabe (Letters From Iwo Jima) dan Ellen Page (Juno, Hard Candy) yang sudah tidak diragukan lagi kemampuan akting mereka. Bahkan Leo yang penampilannya kurang memukau dalam Shutter Island kini kembali tampil dengan baik. Masing-masing karakter memiliki peran sendiri dan kesemuanya berhasil memberikan porsinya masing-masing dalam film.

Secara keseluruhan, Inception memberikan hiburan tersendiri yang berhasil membawa penonton untuk ikut berperan di dalam film bahkan penonton dapat memberikan persepsi masing-masing selama berjalannya film bahkan hingga film selesai, banyak yang bisa diperdebatkan mengenai alur cerita dari film. Nolan berhasil memberikan penontonnya untuk memiliki persepsi masing-masing terhadap film. Mungkin butuh lebih dari sekali bagi anda agar benar-benar dapat menemukan setiap detail film. Akhir kata, Inception merupakan salah satu masterpiece dari Christopher Nolan yang dengan idenya yang original menjadikan Inception salah satu calon peraih Oscar tahun depan.


RATE : 5/5

0

Despicable Me (2010)

Labels: ,


Story : Sebuah piramid berhasil dicuri oleh seorang penjahat, Gru yang memiliki obesesi untuk menjadi penjahat nomor satu merasa tertantang untuk sesuatu yang lebih besar. Bersama pasukannya, para minion, Gru berencana untuk mencuri bulan. Untuk itu ia butuh bantuan dana dari bank, sayangnya bank tidak menyetujui rencananya karena ternyata ia belum memiliki senjata pengecil yang akan digunakan untuk mencuri bulan. Untuk membuktikan bahwa ia mampu, ia mengambil senjata pengecil itu, namun Vector, penjahat lain berusaha menggagalkan rencananya dengan mengambil senjata itu darinya dan menyimpannya di rumahnya. Gru yang mencoba mengambil kembali senjata selalu gagal menembus pertahanan rumah hingga ia melihat tiga orang anak panti berhasil masuk rumah itu dengan mudah. Gru mengadopsi ketiga anak itu (Margo, Edith, Agnes) dan menggunakan mereka untuk mencuri senjata pengecil dari rumah Vector untuk mencuri bulan.


Review : Kalau kita melihat semakin banyak film yang memanfaatkan teknologi 3D dalam penayangannya. Beberapa film animasi seperti How To Train Your Dragon, Shrek Forever After dari Dreamworks dan Toy Story 3 dari Pixar yang menggunakan teknologi 3D, kali ini Universal Studios hadir dengan Despicable Me garapan Illumination Entertainment. Dengan tema cerita tentang seorang villain, Despicable Me berusaha menampilkan seorang penjahat tapi tidak dengan gayanya sebagai seorang penjahat, melainkan seseorang yang lucu dan kocak, tentunya tanpa mengurangin esensinya sebagai seorang penjahat. Film ini memiliki alur cerita yang sederhana dan ringan agar dapat mudah dicerna penontonnya yang tentunya kebanyakan anak-anak. Tapi bukan berarti tanpa pengawasan orang tua mengingat film ini berkisar tentang penjahat tentunya ada sisi negatif dari film ini.

Pada sisi humor film ini, Despicable Me menyajikan humor yang mungkin sering kita melihatnya pada kartun televisi seperti Looney Tunes ataupun sejenisnya. Sebuah humor yang bisa dibilang klasik untuk ukuran kartun, tapi dengan humor seperti inilah yang membuat film ini terlihat lucu bagi penonton seperti anak-anak. Namun bukan berarti penonton dewasa tidak terhibur. Cukup banyak penonton yang dibuat tertawa terbahak-bahak. Tentunya ada karakter yang memegang perannya dalam menghibur penonton, adalah para minion yang dengan aksi-aksi mereka membuat para penonton tertawa. Bahkan bahasa berbicara mereka yang terdengar aneh terkadang terbawa penonton hingga film selesai. Dan satu lagi yaitu Agnes, salah satu anak panti yang terlihat lucu dan menggemaskan dan kepolosannya sebagai seorang anak membuat penonton terhibur.

Sebagai film yang bertujuan menghibur penonton, bukan berarti Despicable Me tidak memiliki pesan moral di dalamnya. Sebagaian besar film menceritakan seorang penjahat yang tentunya dapat berdampak negatif bagi anak-anak. Namun seiring berjalannya film, setelah interaksi antara Gru dengan ketiga anak panti, memunculkan sisi lain dari Gru yang ternyata seorang penyayang. Anak panti yang tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua, menemukannya ketika mereka bertemu dengan Gru. Begitu pula Gru yang menemukan sisi lain dari hidupnya yang mungkin karena selama ini ia hidup sendiri dan mengingat masa kecilnya yang penuh impian. Sementara untuk bagian soundtrack film ini yang diisi oleh Pharrell Williams memberikan nuansa hip hop ke dalam film sehingga memberikan rasa "fun".

Jika dibandingkan dengan film-film lain yang menggunakan teknologi 3D dalam penyajiannya, Despicable Me benar-benar memanfaatkannya dengan sangat baik. Banyak adegan yang mendukung dalam 3D membuat efek 3D ini sangat dirasa oleh penonton. Bahkan mereka menunjukkan bagaimana kecanggihan teknologi 3D mereka pada bagian akhir film. Jadi sangat disayangkan bila anda tidak menyaksikan versi 3D film ini. Secara keseluruhan Despicable Me berhasil tampil sebagai film yang menghibur dengan menyajikan cerita yang sederhana dan lucu menjadikan Despicable Me cocok untuk ditonton bersama keluarga dan anak-anak apalagi di saat musim liburan. Have Fun!


RATE : 4/5

0

Predators (2010)

Labels: , ,


Story : 8 orang manusia yang ahli di bidangnya masing-masing, mulai dari pembunuh bayaran, mantan anggota pasukan khusus, mafia hingga seorang dokter terdampar di suatu tempat asing yang dipenuhi oleh hutan belantara. Mencoba untuk menemukan jalan keluar dari hutan tersebut, hingga mereka sadar bahwa ada maksud tertentu mereka diculik dan dibawa ke tempat itu. Ternyata di sana mereka tidak sendiri, ada makhluk lain yang ternyata mengincar mereka. Mereka pun sadar bahwa ternyata mereka sedang berada dalam permainan antara pemburu dan mangsanya dan di sinilah mereka bertindak sebagai mangsanya. Mencari jalan keluar dari tempat tersebut sambil mencoba melawan para pemangsa mereka.


Review : Pada awalnya banyak yang mengira Predators merupakan remake atau reboot dari seri Predator. Film ini bermaksud mengembalikan sisi original dari seri Predator. Di mana sebelumnya Predator muncul dalam dua seri Alien vs Predator yang pada dua film tersebut mengurangi ciri khas predator sebagai pemburu sejati. Dengan kembali mengambil hutan belantara sebagai latar film ini yang sempat berubah pada predator 2, Predators berusaha mengembalikan kita pada suasana Predator 1. Sayangnya, mulai dari awal hingga pertengahan film, sisi Predator sebagai pemburu sejati yang terus mengintai mangsanya kurang terasa.

Dari segi cerita, Predators menampilkan jalan cerita yang terkesan standar apabila dibandingkan dengan seri pendahulunya. Dan yang menjadi daya tarik kali ini, di mana penonton dibawa ke dalam suasana yang menegangkan seperti dalam film. Didukung dengan scoring yang tepat, sebagian besar adegan menampilkan suasana yang cukup mencekam. Sayangnya, lagi-lagi kemunculan Predator yang merupakan inti film dirasa kurang. Hanya beberapa kali pada pertengahan film dan menjadi banyak pada penghujung film. Jadi karakter manusia lebih ditekankan di sini. Selama cerita, Predators menyajikan twist-twist yang tentunya dimaksudkan untuk menambah warna pada alur ceritanya. Tapi beberapa twist justru sudah tidak asing lagi sehingga mudah ditebak.

Secara keseluruhan, Predators bukanlah sekuel yang buruk tapi cukup bagus bila ditonton apabila sebagai hiburan semata, cukup memberikan ketegangan pada penonton. Predators cukup mengobati para penggemarnya yang rindu pada keaslian dari seri Predator.


RATE : 3/5