0

The Tree of Life (2011)


The Tree of Life, sebuah film karya sutradara Terrence Malick yang dikenal dengan filmnya The Thin Red Line, Days of Heaven dan The New World. Film yang mendapatkan penghargaan Palme d'Or di Festival Film Cannes tahun ini mendapat tanggapan yang bervariasi dari para kritikus. Bahkan pada pemutaran perdananya pun film ini selain mendapatkan pujian juga mendapat reaksi negatif dari berbagai kalangan. Tak heran bila banyak para pecinta film yang penasaran dengan film dan pastinya tidak sabar untuk menyaksikannya. The Tree of Life mengambil potret kehidupan sebuah keluarga di pinggiran kota Texas, Amerika Serikat. Sebuah keluarga yang terlihat harmonis di luar tapi memiliki rahasia besar di dalam. Film ini menelusuri kehidupan Jack, anak pertama dalam keluarga tersebut. Jack dewasa (Sean Penn) yang kini terlihat cukup sukses dalam hidupnya, namun hari itu pikirannya seolah tidak pada tempatnya, di dalam pikiran Jack merekonstruksi kembali memori-memori masa lampaunya, kehidupan masa kecilnya hingga sebuah narasi darinya "He died when he was 19", dari sinilah semuanya berawal.


Film dibuka dengan sebuah kutipan yang berbunyi "Where were you when I laid the foundation of the earth. When the morning stars sang together and all the sons of God shouted for joy", sebuah kutipan yang diambil dari kitab Ayub. Sekilas film ini seolah akan menggambarkan sebuah kisah kehidupan yang mirip apa yang dialami Ayub. Tapi jika melihat dari sisi universal tanpa melihat sisi agamis film ini, memang sedikit banyak ada kemiripan kisah walaupun tidak sepenuhnya tergambarkan. Seketika film dimulai, memori Jack mulai menceritakan kisahnya, diawali dengan sebuah narasi akan kematian adiknya, seolah penuh dengan penyesalan dalam sebuah narasi mempertanyakan keberadaan Tuhan. Dari sini scene berubah seolah-olah dibuat sedang menyaksikan tayangan ilmu pengetahuan. Sebenarnya scene ini menggambarkan bagaimana kehidupan ini terbentuk, membawa kita ke sebuah tempat di tata surya dari debu dan gas dibentuklah planet Bumi ini, letusan gunung berapi seolah membentuk muka bumi ini. Hingga muncul awal dari kehidupan, mikroba kemudian membawa kita ke jaman dinosaurus, zaman es hingga akhirnya datanglah jaman ini dimana Bumi ditempati oleh manusia. Makhluk yang terbentuk dari jutaan sperma yang salah satunya membuahi sel telur membentuk sebuah sel kecil yang tumbuh dalam rahim sang ibu hingga akhirnya membentuk manusia yang seutuhnya.

Pada akhirnya memori Jack membawanya ke kehidupan masa kecilnya, jauh sebelumnya ketika ia tinggal di sebuah rumah di pinggiran kota Texas bersama kedua adiknya dan kedua orang tuanya. Jack kecil dididik dengan kedisiplinan yang tinggi dari ayahnya (Brad Pitt) namun sifat keras ayahnya ini bukannya membuat Jack semakin disiplin malah membuatnya semakin liar. Ketika di rumah ia merasa terkekang namun saat berada di luar rumah Jack merasa dirinya bebas, bebas melakukan segala sesuatu bahkan ia tergabung dalam geng anak-anak nakal di pemukimannya. Berbeda dengan ayahnya, sang ibu (Jessica Chastain) mendidik anak-anaknya dengan lembut. Kontradiksi inilah yang seringkali membuat pertengkaran dalam keluarga. Ketika sang ayah harus pergi untuk tugas, seakan-akan kebebasan itu datang, mereka pun bebas berbuat apapun yang mereka inginkan. Terkadang kebencian pada ayahnya muncul, terkadang kelembutan sifat ibunya justru membuat kenakalan Jack seolah pudar dan seringkali ia selalu bertanya pada Tuhan tentang hidup ini. Gambaran inilah yang direpresentasikan melalui memori-memori Jack masa kini.


Dari segi teknis, The Tree of Life memang sangat memukau, gambar-gambar indah yang diciptakan dan dipadukan ke dalam cerita benar-benar memanjakan mata. Hampir separuh film ini menyajikan visual yang menarik. Gambar-gambar seperti 'Discovery Channel' bukan hanya mempercantik tapi juga penuh makna, Malick seolah ingin menampilkan bagaimana dunia ini terbentuk, akar dari sebuah Tree of Life yang menjadi dasar kehidupan saat ini. Visual yang indah pastinya perlu didukung dengan musik scoring yang megah dan scoring yang diciptakan oleh Alexandre Desplate sangat cocok menemani keindahan gambar yang diciptakan oleh Malick. Teknik kamera bergerak membuat film ini bagaikan sebuah dokumentasi. Dokumentasi kehidupan masa kecil Jack yang digambarkan dari memori-memori Jack dewasa. Begitu pula detail sekecil apa pun benar-benar digambarkan dalam film ini. Hal-hal inilah yang menambah kecintaan pada film ini, bahkan bisa melupakan durasi film ini yang lebih dari 2 jam yang mungkin bisa memberikan kebosanan mengingat genre film ini adalah drama.

Selain segi teknis di atas, tidak lupa departemen akting yang memberikan totalitas dalam penampilannya. Nama-nama seperti Brad Pitt, Sean Penn dan Jessica Chastain memberikan penampilan yang sangat baik. Dan yang patut diacungi jempol adalah seorang Hunter McCracken yang dalam film ini memerankan Jack kecil yang tentunya paling disorot mengingat film ini mengeksploitasi karakter Jack dengan cukup dalam dan Hunter benar-benar bisa mendalami karakter Jack.

The Tree of Life merupakan sebuah narasi kehidupan Jack masa kecil yang digambarkan dari rekonstruksi memori-memori Jack dewasa. Memori yang membawa kita menelusuri lebih dalam masa lalu Jack. Kehidupan keluarga dengan disiplin yang tinggi yang membuat Jack menjadi liar. Selain ini The Tree of Life memberikan sisi agamis dari seorang Jack, di tengah kenakalan masa kecilnya, kerasnya sang ayah dalam mendidiknya dan kelembutan sang ibu. Jack yang mempertanyakan keberadaan Tuhannya, mempertanyakan segala kejadian yang ia lihat ataupun yang ia sendiri alami dan kebimbangan yang selama ini menemaninya hingga dewasa. Hingga pada suatu titik ketika Jack mengingat masa lalunya ia menemukan sebuah jawaban yang membuatnya terus maju bersama saudara laki-lakinya dan sang ibu yang menuntun jalannya. Akhir kata, The Tree of Life merupakan sebuah karya yang memukau dari seorang Terrence Malick, tak heran jika film ini mendapatkan penghargaan Palme d'Or walau begitu pro dan kontra tak lepas dari film ini. Setiap orang bisa memberikan pandangan masing-masing, di luar baik dan buruknya tentu bagi mereka yang melihat The Tree of Life baik dari sisi agamis maupun sisi universal. Fabulous...!


RATE : 4.5 / 5

0

Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 (2011)


Harry Potter, sebuah franchise film yang diangkat dari novel karya JK Rowling. Setidaknya membutuhkan waktu 10 tahun dengan menghasilkan 8 film untuk menyelesaikan franchise ini. Pada tahun 2001, film pertama Harry Potter yang berjudul Harry Potter and the Sorcerer's Stone pun dirilis. Kehadiran film ini menandakan lahirnya sebuah franchise besar yang hingga saat ini memiliki basis penggemar yang sangat besar di berbagai belahan dunia. Lahirnya franchise ini juga melahirkan bintang-bintang baru hollywood, sebut saja Daniel Radcliffe, Emma Watson dan Rupert Grin yang masing-masing memerankan Harry, Hermione dan Ron. Dulu mungkin tak banyak orang yang mengenal mereka, sekarang siapapun pecinta ini film pasti mengenal mereka. Dalam perjalanannya, Harry Potter sempet beberapa kali berganti sutradara. Dua film pertamanya, Harry Potter and the Sorcerer's Stone dan Harry Potter and the Chamber of Secrets disutradarai oleh Chris Colombus, kemudian digantikan oleh Alfonso Cuarón yang menangani film ketiga, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban. Sedangkan film keempat, Harry Potter and the Goblet of Fire ditangani oleh Mike Newell. Baru mulai film kelimanya Harry Potter disutradarai oleh David Yates hingga film terakhir Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2.


Melanjutkan bagian pertama dari Harry Potter and the Deathly Hallows, petualangan Harry, Hermione dan Ron untuk mencari dan menghancurkan Horcrux agar bisa mengalahkan Voldemort. Harry dan teman-temannya memulai perjalanan mereka berdasarkan info-info yang mereka dapat selama ini. Harry pun tidak mau ada korban lagi dalam pencarian mereka serta dalam upaya mereka untuk bisa mengalahkan Voldemort. Memulai perjalanan mereka di Gringotts untuk menemukan benda yang terdapat di kotak penyimpanan milik Bellatrix. Dengan bantuan Griphook, Harry dan teman-temannya memasuki Gringotts. Setelah menemukan apa yang mereka cari, Horcrux selanjutnya yang tidak dapat mereka temukan dimana pun juga. Harry memutuskan untuk kembali ke Hogwarts karena menurutnya di sanalah sisa dari horcrux itu berada. Di Hogwarts inilah pertempuran terakhir dunia sihir akan terjadi dimana Voldemort berusaha menemukan dan membunuh Harry demi menjadi satu-satunya diantara mereka berdua yang tersisa untuk bisa menjadi penyihir yang terhebat. Voldemort yang telah mendapatkan Elder Wand salah satu dari Deathly Hallows pun tanpa ragu menyatakan bahwa dia sudah punya kekuatan untuk mengalahkan seorang Harry Potter.

Sama dengan film sebelumnya, film kedelapan Harry Potter ini juga ditangani oleh David Yates sebagai sutradara. Dalam dua film terakhir Harry Potter yang diadaptasi dari buku terakhirnya Harry Potter and the Deathly Hallows, J.K. Rowling sebagai penulis novel turut ambil bagian dalam memilih bagian mana dari buku yang akan difilimkan. Memang hasil kerja Yates pada bagian pertama film bisa dikatakan cukup baik, walaupun di bagian pertama dari film terakhir ini lebih banyak mengedepankan unsur drama dibandingkan unsur sihirnya. Dalam bagian kedua ini, Yates akan lebih banyak menyajikan unsur sihir dan juga aksi-aksi yang pastinya penuh dengan visual effect. Apalagi film ini merupakan film terakhir dari franchise Harry Potter yang pastinya sangat ditunggu penggemarnya. Dari segi cerita, mungkin bagi mereka yang mengikuti novelnya dari awal hingga terakhir akan merasakan beberapa perbedaan di film ini, begitu juga ada bagian-bagian yang dianggap penting tapi tidak ditampilkan di film ini. Walau begitu tidak merusak cerita yang ada bahkan bagi mereka yang tidak membaca bukunya mungkin akan lebih mudah menangkapnya. Pada akhirnya, Yates berhasil merepresentasikan isi buku sesuai dengan apa yang dibayangkan oleh para pembacanya walaupun tidak sesempurna yang dibayangkan tapi Yates berhasil memberikan sentuhan drama dan juga adegan sihir yang memukau.

Dalam seri terakhir harry potter yang dibagi menjadi dua bagian ini pada awalnya direncanakan rilis dalam bentuk 3D baik bagian pertama maupun yang kedua. Namun pada akhirnya hanya bagian kedua saja yang disajikan versi 3D. Untungnya pada bagian kedua ini lebih banyak adegan sihir dengan visual effect yang menyihir mata dan tentunya sangat cocok bila disajikan dalam 3D. Tidak keseluruhan dari film ini bisa dinikmati dengan 3D, diawal film hingga pertengahan tidak banyak visual effect yang disajikan tetapi ketika masuk ke dalam Battle Hogwarts mulai pertengahan film, di sini yang namanya visual effect ditampilkan dengan habis-habisan oleh Yates. Di sinilah sebagai penonton akan dapat menikmati film ini dengan sajian 3D. Selain dari segi teknis tersebut, sentuhan cerita yang diadaptasi dari novel karya J.K. Rowling kali ini dibalut dengan scoring dari Alexandre Desplat yang menyentuh pastinya akan memberikan kesenangan tersendiri dan dengan scoring inilah film ini menjadi lebih memberikan sentuhan perasaan bagi mereka yang menontonnya. Tak heran bila mereka bisa menitikkan air mata apalagi bagi mereka yang mengikuti perjalanan film ini.

Harry Potter,sebuah franchise yang pada akhirnya tumbuh menjadi sebuah franchise besar, pada akhirnya ditutup dengan sebuah penutupan yang cukup epic. Bagi mereka yang mengikuti film ini mulai dari yang pertama Sorcerer's Stone hingga Deathly Hallows pastinya akan merasakan menjadi bagian dari generasi penyihir Harry Potter. Petualangan di dunia sihir bersama Harry Potter dan teman-temannya pasti akan menjadi kenangan tersendiri yang tak akan terlupakan. Kesuksesan mereka para sutradara yang telah merepresentasikan novel karya J.K. Rowling inilah yang patut diacungi jempol. Membuat franchise Harry Potter menjadi salah satu franchise film tersukses sepanjang masa. Dan tidak lupa penghargaan tertinggi diberikan kepada J.K. Rowling yang dengan imajinasinya melahirkan sebuah franchise yang hebat. Beruntunglah bagi mereka yang bisa tumbuh bersama franchise ini. Akhirnya dengan film terakhir ini, Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 menutup perjalanan panjang Harry Potter. Finally, It all ends here...


RATE : 4.5 / 5

1

Kung Fu Panda 2 (2011)

Labels: , ,


Shen (Gary Oldman) adalah anak dari Kaisar Merak yang ahli dalam kembang api mencoba memanfaatkan kembang api tersebut demi niat jahatnya. Orang tua Shen meminta seorang peramal untuk meramal masa depan anaknya dan melihat bahwa ambisi jahat Shen akan dihancurkan oleh pendekar hitam putih. Shen yang diam-diam mengetahui hal tersebut kemudian memusnahkan seluruh panda yang ia kira mereka adalah pendekar hitam putih yang dimaksud tersebut. Mengetahui hal itu, orang tua Shen kemudian mengusirnya dari kerajaan. Shen dengan penuh kekecewaan berjanji akan kembali untuk mendapatkan apa yang seharusnya ia dapatkan. Prolog tersebut membuka deretan cerita Kung Fu Panda 2 dimana kali ini pahlawan kita Po akan berhadapan dengan musuh barunya yang pastinya lebih kuat dan lebih berbahaya.

Kembali pada pahlawan kita Po (Jack Black) yang kini sebagai Dragon Warrior, tugasnya adalah melindungi Valley of Peace. Po masih tetap ditemani oleh The Furious Five, Tigress (Angelina Jolie), Monkey (Jackie Chan), Mantis (Seth Rogen), Viper (Lucy Liu) dan Crane (David Fross). Sebagai Dragon Warrior, Po tetap berlatih untuk meningkatkan Kungfu-nya, bersama Master Shifu (Dustin Hoffman) ia belajar untuk menguasai "Inner Peace". Sayang latihannya diganggu oleh kedatangan sekelompok serigala yang datang mencari logam bagi Shen untuk membuat senjata yang akan digunakan untuk menguasai Cina. Mengetahui hal itu, Po dan teman-temannya tidak tinggal diam. Atas perintah Master Shifu, Po bersama Furious Five memulai perjalanan mereka untuk menghadapi Shen dengan senjata yang bisa mengalahkan Kungfu. Po harus menemukan cara untuk bisa mengalahkan Shen sementara ia sendiri berjalan untuk menemukan jati dirinya.


The Whole Team is Back! Kung Fu Panda kali ini kembali dengan filmnya yang kedua, setelah film pertamanya dengan cukup sukses mengocok perut penontonnya pada 2008 lalu dan bersiaplah untuk dibuat tertawa oleh Po dan teman-temannya. Untuk film keduanya ini, Kung Fu Panda 2 disutradarai oleh Jennifer Yuh menggantikan Mark Osborne dan John Stevenson. Jennifer Yuh sendiri pada Kung Fu Panda pertama bertanggung jawab sebagai story artist saja dan Kung Fu Panda 2 merupakan film panjang pertamanya. Ia kini bertanggung jawab dalam mengeksekusi skenario yang ditulis oleh Jonathan Aibel dan Glenn Berger. Sementara di jajaran pengisi suara, masih diisi oleh nama-nama seperti Jack Black, Angelina Jolie, Jackie Chan, Lucy Liu dan lainnya serta beberapa nama baru seperti Gary Oldman sebagai Shen, Michelle Yeoh sebagai peramal hingga seorang Jean-Claude Van Damme yang di sini ia mengisi suara Master Croc. Melihat jajaran nama baru yang mengisi suara karakter baru tentunya semakin yakin bagaimana kualitas Kung Fu Panda 2 ini.

Kung Fu Panda 2 masih tetap dengan formula cerita yang sama, masih tetap mengajak bagaimana perjalanan seorang Po untuk bisa mengalahkan musuh utamanya. Walaupun begitu tidak serta merta membuat franchise ini berjalan ditempatnya dalam hal kualitas. Patut diacungi jempol bagaimana peningkatan kualitas animasi Kung Fu Panda 2 yang kali ini terlihat lebih halus dan lebih berwarna, dengan menggabungkan antara animasi 3D dengan 2D pastinya membuat animasi film ini jauh lebih menarik. Hal ini juga dimanfaatkan oleh Yuh untuk lebih dalam mengenal Cina. Kalau di film pertama bersetting di Valley of Peace, kali ini Kung Fu Panda 2 membawa ke sebuah kota baru yaitu Gongmen City. Di kota inilah secara tidak langsung menggambarkan kebudayaan masyarakat Cina dalam bentuk lain. Sebagai film bertemakan kungfu, film ini menampilkan aksi yang tak kalah serunya bila dibandingkan dengan film kungfu non animasi. Kombinasi aksi yang ditampilkan Po dan Furious Five dalam mengalahkan musuh-musuhnya menggambarkan bagaimana seharusnya sebuah film animasi musim panas.

Ketika kita berbicara sisi humor dari Kungfu Panda pastinya akan teringat bagaimana film pertamanya berhasil mengocok perut. Dan dalam film kedua ini, lagi-lagi Po dan teman-temannya berhasil melakukan hal yang sama dengan aksi-aksi konyol dan kocak mereka. Semua itu tidak lain karena peran Jack Black yang di sini bertindak sebagai pengisi suara Po. Peran Jack Black di sini seolah memberikan nyawa kepada karakter Po untuk tetap menyajikan kekonyolannya. Jack Black sendiri yang sebelumnya gagal menampilkan komedi segar dalam Gulliver's Travel tapi kini sebagai Po, ia kembali menempatkan dirinya sebagai seorang komedian hebat. Sepertinya peran sebagai Po memang sangat tepat bagi seorang Jack Black.

Sebagai sebuah sekuel, Kung Fu Panda 2 berhasil menepis mitos bahwa sebuah sekuel tidak pernah lebih baik dari pada pendahulunya. Walaupun dengan formula cerita yang masih sama dan terlihat biasa, tetapi peningkatan animasi dan tetap hadirnya film sebagai pengocok perut justru membuat Kung Fu Panda 2 masih lebih baik dibandingkan pendahulunya. Tidak salah bagi Dreamworks menunjuk Jennifer Yuh sebagai sutradara, yang akhirnya berhasil membawa franchise ini ke tingkat yang lebih tinggi. Akhir kata, Kung Fu Panda 2 tidak hanya sebuah hiburan untuk anak-anak saja tetapi juga bagi mereka yang sudah dewasa. Tidak ada salahnya jika mengajak keluarga untuk menyaksikan film ini dan pastinya sebuah sekuel ketiga akan sangat dinanti mereka yang mulai mencintai franchise ini.


RATE : 4 / 5

9

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2010)

Labels: , ,


Penasaran dengan 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, film yang berhasil masuk ke dalam daftar nominasi penghargaan film di Indonesia seperti Festival Film Indonesia 2010. Tidak hanya satu atau dua nominasi saja yang didapatkan melainkan 6 nominasi sekaligus dalam FFI dan berhasil membawa pulang 1 penghargaan yaitu Pemeran Pendukung Wanita Terbaik yang ditujukan pada Happy Salma. Selain itu film ini juga berhasil meraih 2 penghargaan dalam Indonesia Movie Award 2011 untuk kategori Pendatang Baru Pria Terbaik yaitu Rangga Djoned dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik yaitu Happy Salma. Berangkat dari banyaknya nominasi dan penghargaan yang diraihnya tentunya membuat penasaran seperti apakah film ini. Pemutaran perdana 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita sendiri dilakukan di Melbourne, Australia pada bulan Agustus 2010. Selanjutnya tayang di Balinale Film Festival di Bali pada bulan Oktober 2010 sebelum akhirnya tayang secara reguler untuk masyarakat umum di jaringan bioskop Blitzmegaplex mulai 18 Mei 2011. Hampir satu tahun waktu yang dibutuhkan bagi 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita untuk bisa ditayangkan kepada masyarakat umum.


7 Hati 7 Cinta 7 Wanita bercerita tentang Kartini (Jajang C. Noer), seorang wanita berumur 45 tahun yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Kartini sendiri belum menikah karena pengalaman masa lalunya yang membuatnya ragu untuk menikah. Sebagai seorang dokter kandungan, Kartini menghadapi berbagai macam pasien dengan latar belakang yang berbeda. Bahkan terkadang Kartini mengetahui cerita lain wanita-wanita yang menjadi pasiennya. Ada 6 wanita yang menjadi pasien Kartini dan film ini menceritakan latar belakang masalah masing-masing secara flashback dan dinarasikan sendiri oleh Kartini. Wanita pertama adalah Ningsih (Patty Sandya) yang mengharapkan kehadiran seorang anak laki-laki yang kuat dan berpendirian tidak seperti suaminya selama ini yang lemah dan tak berpendirian. Wanita kedua adalah Yanti (Happy Salma) yang bekerja sebagai penjaja seks. Yanti ditemani oleh Bambang (Rangga Djoned) yang menjadi anjelo-nya (antar jemput lonte). Yanti sendiri bermasalah dengan kanker rahimnya yang membuatnya putus harapan untuk hidup, namun dibalik itu Bambang sebenarnya ingin membantunya agar ia terbebas dari penyakitnya tersebut. Wanita ketiga adalah Rara (Tamara Tyasmara) yang masih berumur 14 tahun. Rara masih duduk di bangku kelas 2 SMP dan kini ia hamil akibat perbuatannya dengan Acin (Albert Halim). Wanita keempat adalah Lastri (Tizza Radia) yang sampai saat ini belum hamil, tapi Lastri memiliki Hadi (Verdi Solaiman), suaminya yang sangat setia. Wanita kelima adalah Lili (Olga Lidya), wanita hamil satu ini selalu mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya namun Lili selalu menyangkal suaminya melakukan ini dengan sengaja. Wanita keenam adalah Ratna (Intan Kieflie), seorang wanita yang bekerja keras demi mendapatkan uang untuk kelahiran anaknya nanti. Ratna memiliki Marwan (Achmad Zaki) sebagai suaminya yang seringkali pulang larut karena harus lembur dengan pekerjaannya.


Film ini tak hanya bercerita hanya tentang masalah yang dialami keenam wanita tersebut, tetapi juga kehidupan pribadi Kartini. Sebagai seorang dokter Kartini tentunya mempunyai rekan kerja. Dokter Anton (Henky Solaiman), seorang dokter kandungan lain di rumah sakit itu memiliki kedekatan dengan Kartini. Anton selalu mencoba agar Kartini bisa menerimanya, tetapi karena masa lalunya tersebutlah Kartini masih belum bisa menerima Anton. Rumah sakit tempat Kartini dan Anton bekerja pun kedatangan dokter kandungan baru. Dokter Rohana (Marcella Zalianty), dokter baru ini kemudian hadir di antara kehidupan Kartini dan Anton. Kartini mempunyai pandangan tersendiri tentang wanita dan pria dan Rohana pun juga memiliki pandangan lain tentang wanita dan hubungannya dengan pria, siapa yang harus dipersalahkan dalam hubungan pria dan wanita. Dari sinilah mulai memicu konflik baru antara Kartini dan Rohana ketika dua wanita dengan pendapat yang berbeda ini harus bertemu.

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita ditulis dan disutradarai oleh Robby Ertanto, seorang sutradara muda. Sebelum membuat film ini, Robby terlebih dahulu terlibat dalam pembuatan anthology horor Takut: Faces of Fear untuk segmen The List dan 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita merupakan feature film pertamanya. Saat tayang perdana di Australia, film ini awalnya berdurasi 125 menit namun saat akan ditayangkan reguler di sini, durasi film ini lebih pendek menjadi sekitar 94 menit saja. Jadi hampir 30 menit bagian dari film yang dipotong. Bagian yang dipotong tersebut menurut Robby sendiri adalah bagian-bagian dengan adegan yang berdurasi cukup lama dan tidak mempengaruhi keseluruhan cerita, jadi untuk mengurangi kebosanan nantinya bagian tersebut dipotong. Untungnya proses editing dilakukan dengan baik sehingga ketika film berlangsung bagian yang dipotong ini hampir tidak terasa sama sekali.

Film ini memiliki konflik dan alur yang cukup kompleks, masing-masing wanita memiliki konflik tersendiri dan kesemua konflik tersebut diceritakan secara bersamaan, jadi bisa dibilang alur film ini berjalan secara paralel. Dari banyaknya konflik ini nantinya muncul sebuah benang merah yang akan menghubungkan semuanya. Cukup banyak memang film dengan multi konflik yang berjalan secara bersamaan, banyak film yang berhasil menceritakannya dengan cukup baik tapi ada juga yang masih terkesan kasar. Untungnya film ini berhasil memadukannya dengan baik. Hanya saja setiap adegan yang menggunakan scoring yang berbeda cukup mengganggu ketika film ini harus berpindah dari cerita satu ke cerita lainnya dan kembali lagi ke cerita sebelumnya. 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita juga dibalut dengan narasi yang dibawakan oleh tokoh Kartini yang diperankan oleh Jajang C. Noer. Narasi itu sendiri dibawakan dengan cukup baik sehingga seolah-olah tokoh Kartini inilah yang bercerita di dalam film. Lalu tak lupa balutan komedi yang membuat film ini jauh dari kata bosan, membawakan tema yang serius tetapi tetap bisa membuat penontonnya tertawa.

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita didukung oleh beberapa artis kenamaan seperti Jajang C. Noer, Marcella Zalianty, Happy Salma, Olga Lidya, Henky Solaiman dan beberapa artis lainnya dimana kesemuanya berhasil memerankan peran masing-masing dengan cukup baik. Jajang C. Noer membawakan peran seorang dokter kandungan yang juga peduli dengan masalah yang dialami pasien-pasiennya. Marcella Zalianty yang hadir memberikan suasana baru ditengah-tengah banyaknya konflik. Walaupun peran tokoh Rohana di film ini sebenarnya tidak terlalu berperan penting. Selain nama-nama tersebut, film ini juga kedatangan beberapa nama baru di dunia film walaupun beberapa nama pernah hadir dalam sebuah film tetapi peran mereka di film ini bisa dibilang lebih menonjol. Nama-nama tersebut seperti Tamara Tyasmara, Rangga Djoned, Novi Sandrasari, Albert Halim dan Intan Kieflie. Penampilan mereka di film ini patut diacungi jempol, sanggup beradu peran dengan mereka yang sudah berpengalaman. Intan Kieflie sendiri, selain berperan sebagai Ratna di film, ia juga berperan sebagai produser dan juga pengisi soundtrack film ini.

Berawal dari film pendek Aku Perempuan, 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, feature film pertama sutradara muda Robby Ertanto yang mengangkat sisi lain wanita, ketika mereka harus berhadapan dengan hati dan cinta mereka. Walaupun berangkat dengan tema yang serius tapi film ini tetap bisa menampilkan sisi humornya dan hadir sebagai film yang tidak hanya bisa diambil pesan moralnya saja, tetapi juga bisa menjadi suatu hiburan. Dengan dukungan nama-nama yang sudah tidak asing di dunia perfilman dan beberapa nama baru yang menampilkan penampilan mereka yang cukup bagus di film ini. Tidak salah bila film ini sempat masuk menjadi nominator Festival Film Indonesia tahun 2010 walaupun pada akhirnya film ini gagal menjadi yang terbaik dalam ajang penghargaan tersebut.


RATE : 3.5 / 5

4

The Mirror Never Lies (2011)

Labels: , ,


Wakatobi, salah satu kabupaten berbentuk kepulauan yang berada di wilayah provinsi Sulawesi Tenggara. Nama Wakatobi sendiri berasal dari kependekan pulau-pulau besar yang berada di kepulauan tersebut, yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomea dan Binongko. Wakatobi terkenal dengan keindahan alam bawah lautnya yang masih natural dan terjaga kelestariannya. Oleh karena itu, Wakatobi dijadikan salah satu taman nasional untuk menjaga keanekaragaman hayati laut. Dengan keindahan alam bawah laut nan eksotis tersebut, Wakatobi menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan asing maupun wisatawan dalam negeri. Penduduk Wakatobi sendiri terdiri dari beberapa suku, salah satunya adalah suku Bajo yang mendiami sedikit bagian dari kepulauan Wakatobi. Suku Bajo menetap di atas perairan Wakatobi dengan tinggal di rumah-rumah panggung. Oleh karena itu, mereka menjadikan perahu sebagai alat transportasi utama untuk berpindah dari satu pemukiman ke pemukiman lainnya atau ke tempat-tempat umum seperti sekolah dan lainnya. Mata pencaharian utama suku Bajo adalah nelayan, pria suku Bajo akan pergi melaut selama beberapa hari kemudian kembali dengan hasil tangkapan mereka.


Itulah sedikit gambaran tentang Wakatobi dan suku Bajo yang menempati kepulauan tersebut. The Mirror Never Lies mengangkat kehidupan suku Bajo dalam skala kecil dan juga memperkenalkan keindahan pesona alam Wakatobi. Cerita dari The Mirror Never Lies sendiri berkisar pada Pakis (Gita Lovalista), seorang anak perempuan suku Bajo yang selalu menunggu ayahnya untuk kembali. Ayah Pakis meninggalkan sebuah cermin untuknya yang selalu dibawa Pakis kemana pun ia pergi. Tayung (Atiqah Hasiholan), ibu Pakis berusaha menutupi dan mengingkari suaminya yang hilang tersebut dengan selalu menggunakan bedak pupur yang merupakan tradisi wanita suku Bajo. Di saat yang bersamaan hadir Tudo (Reza Rahadian), seorang peneliti lumba-lumba yang datang dari Jakarta. Tudo yang selama berada di Wakatobi menempati rumah yang dimiliki Tayung. Kehadirannya justru menimbulkan konflik antara Tayung dan juga anaknya Pakis, mengingat rumah itu pernah ditinggali oleh ayahnya dan Pakis tidak ingin rumah itu ada yang menempatinya.


The Mirror Never Lies merupakan sebuah karya sutradara muda Kamila Andini, anak dari Garin Nugroho, sutradara kenamaan Indonesia yang telah menelurkan karya-karyanya seperti Opera Jawa, Under the Tree dan masih banyak film lainnya. Kali ini dalam The Mirror Never Lies, Garin hanya berperan sebagai produser. The Mirror Never Lies merupakan karya debut dari Kamila Andini. Di sini ia dibantu oleh beberapa nama seperti Rachmad Syaiful sebagai sinematografer, Tomy D. Setyando sebagai art director, Khikmawan Santosa sebagai sound designer dan beberapa nama lainnya yang mungkin sudah tidak asing lagi di dunia perfilman. Walaupun membawa nama besar ayahnya, Kamila Andini tidak serta merta memanfaatkan sosok ayahnya demi mendongkrak popularitasnya. Justru dengan film ini, Dini begitulah ia disapa ingin menunjukkan bahwa kualitasnya sebagai sutradara tidak kalah dibandingkan sang ayah. Dalam The Mirror Never Lies, ia menggandeng WWF Indonesia dan pemerintah kabupaten Wakatobi dimana mereka sangat mendukung dengan membantu pendanaan film ini.

The Mirror Never Lies menghadirkan cerita dengan alur yang lamban tapi terasa mengalir dengan baik. Dalam bercerita, secara tidak langsung film ini juga mengeksploitasi keindahan kepulauan Wakatobi baik itu pemandangan di atas laut maupun pemandangan bawah laut tak heran bila ketika usai menonton film ini anda akan berkeinginan untuk menikmati keindahan Wakatobi secara langsung. Selain itu film ini secara tidak langsung juga membawa kita ke dalam kehidupan masyarakat suku Bajo. Masyarakat yang masih kental dengan budaya adat istiadatnya dan juga kehidupan suku Bajo yang kental dengan unsur maritim, seperti bagaimana mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya menggunakan perahu atau pun saat anak-anak suku Bajo pergi ke sekolah yang juga menggunakan perahu. Secara dialog, The Mirror Never Lies menghadirkan dialog yang sebagian besar didominasi bahasa asli suku Bajo. Bahkan Atiqah Hasiholan, pemeran Tayung dituntut untuk bisa berbahasa Bajo. Segmentasi sebagai film tentang keindahan dan pelestarian alam cukup terlihat dari dialog-dialog yang disajikan di film ini, beberapa sindiran halus cukup terasa. Tidak heran bila WWF Indonesia terlibat dalam produksi film ini.

Film ini didukung oleh dua artis ternama yaitu Atiqah Hasiholan dan Reza Rahadian. Atiqah yang dalam film ini berperan sebagai seorang wanita suku Bajo dituntut untuk bisa berbahasa Bajo. Tidak mudah bagi Atiqah untuk bisa berbicara bahasa bajo dan dengan logat bajo. Tetapi nyatanya Atiqah berhasil melakukan itu semua dengan cukup baik. Selain Atiqah Hasiholan dan Reza Rahadian, The Mirror Never Lies juga didukung oleh pemeran asli dari suku Bajo yaitu Gita Lovalista yang berperan sebagai Pakis. Walaupun ini merupakan penampilan pertamanya di dunia akting, tapi ia berhasil memerankan perannya sebagai Pakis dengan cukup baik tanpa terlihat kaku. Selain Gita ada dua pemeran lain yang juga berasal dari suku Bajo yaitu Eko yang berperan sebagai Lumo dan Zainal yang berperan sebagai Kutta. Keduanya adalah sahabat Pakis yang selalu menemani Pakis ketika mereka bermain. Lumo selalu hadir dengan kelucuannya dan diam-diam Lumo memiliki perhatian tersendiri terhadap Pakis. Sedangkan Kutta adalah sahabat Pakis yang pandai berpuisi dan suka bernyanyi lagu-lagu Melayu. Jangan salah, Zainal sang pemeran Kutta pun ini aslinya memiliki suara yang bagus lho.

The Mirror Never Lies mengingatkan saya pada Jermal, film Indonesia produksi tahun 2009 yang diperankan oleh Didi Petet. Kedua film ini sama-sama bersetting di atas laut dan memiliki konflik yang hampir mirip. Apa yang dilakukan oleh Kamila Andini dalam membuat The Mirror Never Lies patut diacungi jempol, selain sebagai film perdananya, ia cukup berhasil membangun film ini bukan hanya sebagai film yang berseni tapi juga menghibur, tidak hanya dalam cerita tetapi caranya mengeksploitasi keindahan alam Wakatobi benar-benar mengagumkan.


RATE : 4 / 5

0

Rio (2011)

Labels: , ,


Blu (Jesse Eisenberg) adalah seekor burung Spix's Macaw. Bertahun-tahun sudah Blu menemani Linda (Leslie Mann) yang menemukannya di dalam kotak yang terjatuh dari sebuah truk yang membawa burung-burung liar yang ditangkap secara ilegal untuk diperjualbelikan. Selama tinggal bersama Linda, Blu tidak pernah keluar dari rumah ataupun kadangnya selayaknya burung-burung lainnya. Hal inilah yang membuat Blu tidak bisa terbang. Suatu waktu, Tulio (Rodrigo Santoro), seorang ornithologist dari Brazil  datang kepada Linda dan Blu lalu mengatakan bahwa Blu adalah pejantan terakhir dari spesiesnya. Untuk tetap menjaga kelangsungan spesiesnya, Blu akan dikawinkan dengan seekor betina yang berada di Rio de Janeiro, Brazil. Pada awalnya Linda menolak karena ia tidak mau dipisahkan dengan Blu yang telah menemaninya selama 15 tahun. Tapi demi kebaikan Blu juga, akhirnya Linda pun menyetujuinya.


Blu bersama Linda dan Tulio kemudian bertolak ke Rio de Janeiro, Brazil. Di sebuah konservasi burung milik Tulio, Blu dipertemukan dengan Jewel (Anne Hathaway), seekor betina dari spesies Spix's Macaw. Alih-alih mengawinkan mereka berdua, Jewel malah menyerang Blu dan hanya mementingkan bagaimana caranya agar bisa keluar dari tempat itu. Sayangnya mereka berdua oleh Fernando (Jake T. Austin) yang dibantu oleh Nigel (Jemaine Clement), seekor kakatua jahat yang berpura-pura sakit agar bisa menyusup ke konservasi tersebut. Fernando membawa mereka berdua ke sekelompok penyelundup untuk dijual. Blu dan Jewel yang akhirnya berhasil lolos dari tempat tersebut, sayangnya ketidakmampuan Blu untuk terbang memberikan masalah bagi mereka. Blu dan Jewel pun memulai petualangan mereka di Rio bertemu dengan hewan-hewan lain yang membantu mereka agar bisa bebas dari kejaran Nigel dan pembantu-pembantunya.

Rio diproduksi oleh Blue Sky Studio, studio animasi yang telah sukses menelurkan seri Ice Age. Dalam Rio, bertindak sebagai sutradara adalah Carlos Saldanha, seorang sutradara kelahiran Rio de Janeiro, Brazil yang menghasilkan dua karyanya Ice Age 2: The Meltdown dan Ice Age 3: Dawn of the Dinosaurs. Berdasarkan pengalaman dari dua filmnya itulah Carlos berangkat untuk membuat Rio. Dengan konsep cerita yang mirip dengan film-film produksi Blue Sky Studio, kali ini Rio menghadirkan petualangan Blu di Rio de Janeiro. Carlos sendiri mengambil Rio de Janeiro mungkin karena dirinya berasal dari kota tersebut, seolah-olah Carlos ingin memperkenalkan kota tempat kelahirannya tersebut. Terlihat sekali dengan bagaimana ia menggambarkan detail kota Rio dari berbagai sudut, mulai dari patung Cristo Redentor yang cukup terkenal hingga daerah pemukiman kumuh yang ada di Rio ia tampilkan dalam film ini.

Memang dari segi cerita Rio tidak memiliki keistimewaan bahkan bisa dibilang tipikal film animasi petualangan, tetapi urusan visualisasi lain cerita. Rio jauh berkembang dibandingkan film-film produksi Blue Sky Studio sebelumnya. Sepertinya kali ini mereka lebih memperhatikan detail animasi yang mereka buat. Mulai dari detail kota Rio yang hampir mirip dengan aslinya hingga detail masing-masing karakter yang terlihat lebih berwarna. Tidak hanya visualisasi yang memukau, Rio juga didukung oleh musik pengiring yang ciamik. Lagu-lagu yang mengisi film ini pun juga dinyanyikan langsung oleh pengisi suaranya, seperti Jesse Eisenberg atau Anne Hathaway turut bernyanyi dalam film ini. Dengan animasi yang memukau tersebut sayangnya Rio tidak didukung dengan kualitas komedi yang lebih baik atau pun setara dengan film garapan Carlos Saldanha lainnya. Tak seperti seri Ice Age yang hampir selalu mempertontonkan kejenakaannya, Rio tidak memiliki banyak momen-momen tersebut.

Dari segi cerita, Rio memang tidak menghadirkan sesuatu yang baru tetapi film ini bisa memberikan kualitas animasi yang cukup memukau. Keindahan kota Rio de Janeiro yang menjadi latar petualangan Blu dan teman-temannya serta detail masing-masing karakter pastinya akan memanjakan mata siapapun yang menontonnya. Rio juga didukung oleh beberapa nama yang sudah tidak asing lagi seperti Jesse Eisenberg, Anne Hathaway, Will I Am dan beberapa nama lainnya. Walaupun diisi dengan unsur komedi yang masih berada di bawah film produksi Carlos Saldanha lainnya, Rio tetap hadir sebagai salah satu tontonan yang menghibur.


RATE : 3.5 / 5

0

Justin Bieber: Never Say Never (2011)

Labels: , ,


Bayangkan seorang anak laki-laki yang lahir dan tumbuh dewasa di kota kecil bisa menjadi bintang besar. Itulah yang terjadi pada Justin Bieber, penyanyi yang lahir dan dewasa di sebuah kota kecil Stratford di Kanada ini sekarang tumbuh menjadi bintang besar yang memiliki jutaan fans di seluruh dunia. Awal karir Bieber bermula ketika Scooter Braun yang secara tidak sengaja melihat ia menyanyi lewat Youtube. Dari situlah Scooter yang tertarik pada Bieber menemuinya dan menjadikannya bintang besar dalam kurun waktu yang cukup singkat. Justin Bieber: Never Say Never ini mengisahkan bagaimana perjalanan Justin Bieber dalam kurun waktu 10 hari sebelum penampilannya di Madison Square Garden, New York. Selain itu film yang disutradarai oleh Jon Chu ini akan membawa anda untuk menyimak perjalanan Justin mulai dari kecil hingga ia kini berubah menjadi bintang besar.


Siapa sangka kalau bakat musik Justin sebenarnya sudah terlihat sejak ia kecil. Dari rekaman video yang ditampilkan, menggambarkan bagaimana Justin sudah bisa memainkan drum dan gitar sejak ia kecil dan mulai belajar bermain Piano ketika ia mulai tumbuh dewasa. Justin sendiri pernah "ngamen" ketika ia kecil. Justin yang berbakat ini kemudian mengikuti sebuah kontes menyanyi yang diadakan di kotanya walaupun dalam kontes ini Justin hanya bisa menduduki peringkat kedua. Namun begitu ibunya, Pattie Mallette kemudian memasukkan video Justin ke dalam Youtube. Dari sinilah Scooter Braun melihat bakat yang dimiliki anak ini kemudian membawanya ke Atlanta. Karir Justin pun tidak begitu saja langsung berada di puncak. Sejak dibawa oleh Scooter, Justin memulai karirnya dengan bernyanyi di radio-radio dan menghadiri konser-konser kecil dengan menyanyikan lagu debutnya 'One Time' yang kemudian memuncaki tangga-tangga lagu di radio yang membuatnya memiliki banyak fans dan juga membawanya ke Madison Square Garden.

Sutradara Jon Chu cukup pandai dalam mengemas Never Say Never. Ia tidak hanya fokus kepada satu plot saja tetapi memainkan dua plot cerita sekaligus. Plot yang pertama adalah perjalanan 10 hari menuju Madison Square Garden dan yang kedua adalah kehidupan masa kecil Justin hingga ia bisa menjadi bintang seperti saat ini. Dan di antara dua plot tersebut, Chu menyisipkan penampilan Justin di panggung selama konsernya di Madison Square Garden. Dalam pembuatan Never Say Never, selain menggunakan footage-footage mereka sendiri, Chu juga melibatkan fans. Dalam hal ini, ia meminta para fans ini untuk mengirimkan video mereka ketika menyanyikan lagu Justin dan dengan caranya sendiri Chu menyisipkan video-video ini ke dalam film dan menampilkannya ketika Justin menyanyikan lagu yang bersangkutan. Selain menampilkan kejadian-kejadian di backstage, Never Say Never juga mengungkap kehidupan pribadi Justin. Walaupun bintang besar, Justin juga masih sama seperti anak-anak lainnya, ia memiliki teman bermain dan disela-sela menuju konser di Madison Square Garden, Justin menyempatkan diri untuk bermain bersama teman-temannya. Di sini menunjukkan bagaimana kepiawaian Justin dalam bermain basket.

Konser Justin di Madison Square Garden ini seolah-olah sangat besar hingga dibuat dokumenternya. Sebenarnya bukan konsernya yang besar tapi untuk bisa menggelar konser Madison Square Garden tidaklah mudah. Beberapa bintang besar yang pernah menggelar konser di tempat ini seperti The Rolling Stones atau Michael Jackson. Dan kini, Justin Bieber dalam kurun waktu yang cukup singkat selama karirnya di dunia musik berhasil menggelar konser di tempat ini yang tentunya merupakan suatu kebanggaan baginya. Dalam konsernya di Madison Square Garden, Justin juga ditemani oleh beberapa musisi yang menjadi featuring dalam lagu-lagunya seperti Usher, Boyz II Men, Ludacris, Miley Cyrus dan Jaden Smith. Di luar itu semua, sebagai film dokumenter tentang seorang bintang, Never Say Never juga menampilkan pendapat para fans tentang bintang yang mereka suka ini.

Sebagai seorang bintang yang masih terbilang baru, mungkin banyak orang mengatakan lumrah untuk membuat sebuah film biografi tentangnya. Tapi tidak ada salahnya bagi mereka untuk mengetahui lebih jauh latar belakang sang bintang, daripada hanya mengomentari sang bintang secara sepihak. Jon Chu berhasil mengemas Never Say Never dengan baik, bukan hanya sebagai dokumenter tentang konser biasa tapi ia juga memasukkan biografi dari Justin itu sendiri. Bagi pecinta Justin Bieber, Never Say Never mungkin menjadi tontonan wajib dan bagi mereka yang tidak menyukain Justin Bieber atau malah membencinya, tidak ada salahnya untuk sedikit membuka mata sebelum memberikan komentar negatif padahal sama sekali belum menyaksikan film ini.


RATE : 3.5 / 5

0

Insidious (2011)

Labels: ,


Keluarga Lambert baru saja menempati rumah baru mereka, hari-hari pertama Renai (Rose Byrne) mengalami kejadian aneh, ia menemukan buku-buku yang sudah ia tata dengan rapi di lemari tiba-tiba kembali berantakan dan tidak satu pun dari anaknya yang melakukan itu. Pada malam harinya, Dalton (Ty Simpkins) mendengar suara aneh dari loteng. Dalton yang kemudian menaiki loteng tersebut jatuh dari tangga ketika akan menyalakan lampu. Anehnya keesokan harinya Dalton tidak bangun dari tidurnya, bahkan ketika Josh (Patrick Wilson), ayahnya membangunkannya. Di rumah sakit pun dokter mengatakan tidak ada yang aneh pada tubuh Dalton, mereka pun tidak mengerti kenapa Dalton tidak bangun. 3 bulan kemudian, Dalton masih dalam keadaan koma, mereka memutuskan untuk merawatnya di rumah. Beberapa hari setelahnya, kejadian-kejadian aneh menghampiri rumah itu, mulai dari suara-suara hingga masuknya orang ke dalam rumah pada tengah malam yang membuat beberapa kali alarm rumah berbunyi. Renai yang tidak sanggup lagi menghadapi segala kejadian-kejadian ini akhirnya meminta Josh untuk pindah ke rumah lain. Ternyata bukan rumah mereka yang selama ini berhantu, saat di rumah baru pun Renai masih mengalami kejadian-kejadian aneh. Ibu dari Josh pun menyarankan mereka untuk memanggil Elise (Lin Shaye), seorang paranormal untuk mengetahui permasalahan dibalik kejadian-kejadian aneh yang selama ini menghantui mereka.


Akhir-akhir ini tema horor tidak jauh-jauh dari Exorcist atau Mockumentary horror yang kini sudah menjamur di perfilman Hollywood bahkan ketidakmampuan membuat horor-horor berkelas seperti dahulu membuat banyak film horor asal Hollywood yang merupakan remake dari film asia, eropa ataupun film horor klasik Hollywood yang dibuat ulang. Insidious seolah-olah ingin membangkitkan kembali premis 'rumah berhantu' yang telah lama hilang. Insidious dibuka dengan adegan yang sudah cukup mencekam dan juga menakutkan, sedikit mengingatkan pada serial horor klasik seperti Friday the 13th. Dari segi cerita Insidious mungkin mirip dengan 'Poltergeist' yaitu kejadian-kejadian aneh yang menimpa sebuah keluarga. Tema horor klasik sepertinya cukup melekat dalam film ini. Mulai dari setting rumah tempat tinggal mereka yang berkesan tua, kemudian sound effect yang masih menggunakan denting piano hingga formula menakuti Insidious yang sangat khas dengan film horor klasik, seperti suara-suara menakutkan atau penampakan wanita dengan dress panjang. Tapi yang terpenting adalah bagaimana Insidious berhasil menghadirkan suasana horor yang konsisten mulai dari awal hingga akhir film.

Insidious sendiri disutradarai oleh James Wan, seorang sutradara asal Australia yang lahir di Malaysia. Dalam Insidious, ia kembali bekerja sama dengan Leigh Whannell yang dalam film ini bertindak sebagai penulis skenario. Sebelumnya Wan dan Whannell juga pernah bersama dalam pembuatan Saw dimana Wan bertindak sebagai sutradara dan Whannell sebagai penulis skenarionya. Insidious diproduseri oleh Oren Peli, seorang produser yang berada dibalik kesuksesan Paranormal Activity, jadi jangan heran bila nanti menemukan sedikit gaya Paranormal Activity dalam Insidious. Dari segi pemeran sendiri mungkin tidak perlu diragukan lagi, duet Patrick Wilson dan Rose Byrne cukup berhasil memerankan sepasang suami-istri keluarga Lambert. Apalagi Rose Byrne, aktris yang juga pernah berperan dalam film Knowing dan 28 Weeks Later ini dengan sukses memerankan peran seorang ibu yang dipenuhi dengan rasa takut akan hal-hal gaib. Di luar itu, peran Ty Simpkins dan Lin Shaye juga patut diacungi jempol, walau peran keduanya lebih banyak menjelang akhir film.

James Wan dengan cukup baik memvisualisasikan naskah yang ditulis oleh Whannell, peran keduanya berhasil menghidupkan Insidious menjadi sebuah film yang menakutkan. Sepanjang film, Insidious tak henti-hentinya memberikan ketakutan bagi para pecinta horor. Tetap setia dengan premis yang sudah disajikan sejak awal film, konflik yang mengalir dengan baik membuat film ini enak untuk dinikmati. Sekali lagi, Insidious berhasil membangkitkan gairah horor klasik yang sudah lama memudar. Jadi bersiaplah untuk berteriak mengalami ketakutan-ketakutan yang disajikan dalam... Insidious.


RATE : 4 / 5

6

SuckSeed (2011)

Labels: ,


Fenomena kesuksesan film bergenre rom-com yang masih merajai box office di Thailand membuat GTH salah satu rumah produksi film yang pernah sukses dengan film-film horor seperti Shutter, Alone atau Phobia kembali memproduksi film bergenre rom-com. Sebelumnya mungkin kita dibuat tertawa sekaligus menangis dengan film-filmnya seperti Hello Stranger, Bangkok Traffic Love Story atau Little Comedian. Kali ini SuckSeed sebuah kisah cinta remaja yang akan membuat kita tertawa. Film berdurasi 125 menit ini sedikit berbeda dengan film rom-com kebanyakan, SuckSeed mengusung unsur musikal rock, persahabatan dan impian dalam temanya. SuckSeed merupakan film pertama bagi sang sutradara Chayanop Boonprakob berdasarkan film pendek berjudul Suck3/2Seed yang dibuat sebagai proyek thesisnya. Bercerita tentang sebuah band yang selalu "suck" tetapi tak patah semangat demi menjadi band yang terbaik. Didukung oleh bintang muda Thailand seperti Jirayu Laongmanee (Phobia 2, The Love of Siam) yang berperan sebagai Ped, lalu Pachara Chirathivat sebagai Koong dan Thawat Pornrattanaprasert sebagai Ex serta aktris cantik Nattacha Nauljam yang berperan sebagai Ern.

Ped, seorang murid sekolah menengah selalu menggangap dirinya "looser". Bersahabat dengan Koong yang tidak jauh berbeda nasibnya dengan dirinya. Semasa kecil Ped selalu dianggap kurang beruntung, bahkan saat ia menyukai Ern, salah satu gadis di kelasnya yang sangat menyukai musik rock. Tetapi karena malu, ia gagal menyatakan bahwa ia menyukai Ern hingga Ern pindah ke Bangkok. Sedangkan Koong selalu dibayangi Kay, saudara kembarnya. Ped dan Koong bersama Ex kemudian membentuk sebuah band bernama Koong and Friends demi menarik perhatian para gadis dan untuk menyaingi Kay. Tanpa diduga mereka bertemu kembali dengan Ern yang ternyata sangat pandai bermain gitar, kemudian Koong merekrut Ern untuk bermain bersama mereka dan bersaing dengan band milik Kay, Arena dalam Hot Wave Music Award, sebuah kompetisi band yang diikuti oleh murid-murid sekolah. Dengan bergabungnya Ern ke dalam band membuat mereka lebih bersemangat dalam mengikuti kompetisi. Tak hanya itu, kehadiran Ern juga melibatkan cinta segitiga antara Ped dan Koong yang sama-sama menyukai Ern.


Dibanding film yang menceritakan kisah cinta remaja, SuckSeed mungkin lebih cocok jika disebut film tentang persahabatan. Film ini menggambarkan bagaimana persahabatan antara Ped, Koong, Ex dan Ern dimana musik mengikat mereka. Di saat tahun terakhir mereka di sekolah, persahabatan mereka harus diwarnai dengan konflik internal serta impian mereka dalam bermusik. Sedangkan kisah cinta segitiga antara Ped, Koong dan Ern bisa dibilang hanya sebagai pelengkap film ini. SuckSeed juga menghadirkan visualisasi yang unik seperti komik, sedikit mengingatkan pada film Scott Pilgrim. Sayangnya durasi film yang cukup lama, yaitu sekitar 125 menit memberikan kebosanan pada beberapa orang. Pemerannya sendiri mungkin bagi pecinta film Thailand akan mengenal dan pernah melihat Jirayu Laongmanee ketika bermain dalam The Love of Siam atau Phobia 2. Sedangkan para pemeran lain merupakan pendatang baru di perfilman Thailand. Pachara Chirathivat selain berperan sebagai Koong, ternyata ia juga memerankan Kay, saudara kembarnya di film ini. Sepertinya kepandaian dalam make-up juga berbicara di sini. Sedangkan Nattacha Nauljam, satu-satunya pemeran wanita utama di film ini yang ternyata bernyanyi dan memainkan sendiri gitarnya dalam film ini. Ya, kemampuan menyanyi dan memainkan gitarnya boleh diacungi jempol. Nat, begitu ia biasa dipanggil, ternyata adalah anak dari salah satu personil Carabao. Band rock Thailand yang legendaris dan sudah cukup terkenal di mancanegara. Jadi tidak heran bila ia pandai dalam bernyanyi dan memainkan gitarnya. Sedangkan Thawat Phonratprasert yang juga seorang pendatang baru, walaupun ia tidak banyak berperan dalam film ini, tetapi aksi-aksi konyolnya cukup membuat tertawa.

Sebagai sebuah film yang mengusung tema musikal, SuckSeed pastinya didukung dengan musik-musik rock yang mengiringi perjalanan film ini. Beberapa band rock Thailand yang berada di bawah bendera GTH turut serta dalam mengisi soundtrack film ini. Bodyslam, band rock yang mengawali karir mereka dalam Hotwave Music Award dan band lain seperti Paradox, Big Ass, Modern Dog, No More Tear dan beberapa band lainnya. Selain itu ada juga lagu lain yang ditampilkan di film ini tetapi tidak masuk ke dalam soundtrack film ini, yaitu lagu dari band Loso yang cukup berperan penting dalam cerita film ini. Ada hal yang unik dari film ini ketika lagu-lagu ini diputar. Adalah kemunculan atau cameo dari band-band pengisi soundtrack film ini. Seperti pada saat Ped yang sedang patah hati diiringi musik kemudian muncul cameo yang menyanyikan lagu tersebut dan menghilang bersamaan dengan habisnya lagu. Bisa dibilang ini adalah sebuah ide yang mungkin terlihat aneh tetapi cukup unik. Untuk ukuran film musikal rock, jika dibandingkan dengan film serupa seperti Beck atau Detroit Metal City jelas lagu-lagu yang dibawakan dalam film ini masih kurang 'nendang'. Tapi setidaknya beberapa lagu yang disajikan cukup catchy dan memorable.

Seperti biasa, unsur komedi yang disajikan dalam film Thailand selalu saja pandai mengocok perut. Unsur komedi yang disajikan memang terkadang berlebihan tetapi tetap terasa natural. Kali ini kita akan dibuat tertawa dengan berbagai kekonyolan yang dilakukan Ped, Koong dan Ex. Aksi-aksi kocak mereka akan menemani sepanjang film ini berjalan. Tentunya tanpa mereka mungkin film ini akan terasa membosankan mengingat durasinya yang cukup lama. Tidak berbeda dengan komedi Thailand kebanyakan, aksi-aksi kocak dalam SuckSeed juga diiringi oleh backsound yang akan pastinya akan menambah unsur komedi ini menjadi lebih konyol.

SuckSeed mengingatkan pada 'Beck', film Jepang yang juga mengusung tema musik rock, persahabatan dan juga impian. Sebagai film pertamanya, Chayanop Boonprakob cukup berhasil mengemas SuckSeed sebagai film yang cukup inspiratif, dalam hal ini tentang persahabatan dan impian dan juga menghibur dengan segala unsur komedi yang disajikan. Tak heran jika film berdurasi 125 menit ini tetap tidak terasa membosankan untuk dinikmati. Ide unik Chayanop dalam menampilkan cameo musisi terkenal Thailand juga patut diacungi jempol, sekaligus bisa memperkenalkan band-band Thailand ini ke mancanegara. Jadi, bersiaplah anda dibuat tertawa oleh SuckSeed.


RATE : 3.5 / 5

0

Of Gods and Men / Des Hommes Et Des Dieux (2010)

Labels: , ,


Of Gods and Men atau judul aslinya Des Hommes Et Des Dieux adalah film Perancis dari sutradara Xavier Beauvois. Film ini mengingatkan saya dengan salah satu film Indonesia yang sedang hangat dibicarakan saat ini yaitu '?'. Memang tema yang diangkat oleh Of Gods and Men hampir sama, yaitu mengangkat tentang masalah perbedaan agama. Of Gods and Men bersetting di Algeria dimana terdapat sebuah biara yang dihuni oleh 9 pendeta. Mereka hidup berdampingan dan harmonis dengan warga muslim di sekitarnya. Of Gods and Men dibuka dengan kutipan sebuah ayat dari alkitab "I have said, Ye are gods; and all of you are children of the most High. But ye shall die like men, and fall like one of the princes.". Ayat tersebut seolah-olah ingin menggambarkan apa yang dialami oleh para pendeta ini. Sebuah biara bertempat di pegunungan di Algeria. Pendeta di biara ini hidup berdampingan dengan penduduk sekitar yang mayoritas beragama Islam. Sayangnya kedamaian itu harus terusik ketika warga asing yang berada di negara itu dibantai oleh sekelompok Islamis. Di tengah ancaman tersebut, kini mereka berada dalam sebuah pilihan, bertahan di tempat tersebut atau meninggalkan tempat tersebut. Sebuah pilihan yang tidak mudah apalagi bagi pendeta yang masih memiliki saudara. Hari demi hari pun berlalu dan ancaman kelompok militan Islamis ini pun semakin dekat.


Of Gods and Men diangkat berdasarkan kisah nyata yang terjadi pada 7 pendeta yang diculik dan dibunuh oleh kelompok separatis Islam di Tibhirine, Algeria. Film yang disutradari ini masuk ke dalam daftar film yang ditayangkan dalam Festival Cannes 2010, selain itu Of Gods and Men juga menjadi Official Submission Best Foreign Language Academy Awards 2011 mewakili Perancis. Of Gods and Men dibuka dengan berbagai adegan yang menggambarkan kegiatan yang dijalani para pendeta ini, bagaimana mereka memenuhi kebutuhan mereka sendiri serta peran mereka dengan masyarakat sekitar dengan membantu mengobati orang yang sakit. Selain itu mereka juga ikut dalam berbagai kegiatan keagamaan dengan masyarakat sekitar yang jelas-jelas berbeda agama dengan mereka. Seluruh adegan ini seolah-olah menggambarkan apa yang disebut toleransi. Sebuah harmonisasi kehidupan yang sayangnya dirusak oleh kelompok yang tidak menghargai toleransi beragama ini. Di bagian awal, film ini berjalan dengan cukup lambat. Menggambarkan bagaimana kehidupan di pegunungan tersebut. Namun ketika konflik agama mulai terjadi, di sinilah ketegangan mulai meningkat ketika para pendeta ini menolak untuk pergi dan tetap bertahan.

Walau berjalan dengan alur yang cukup lambat, tapi film ini sama sekali tidak membosankan. Dengan kematangan skenario dan sinematografi yang memukau menjadikan setiap momen dalam Of Gods and Men bisa dinikmati dengan sangat baik. Dari sinematografi sendiri ditangani oleh Caroline Champetier. Ia sepertinya cukup tahu bagaimana ia harus memainkan kameranya. Alhasil setiap gambar yang dihasilkan begitu memukau. Dari setiap sudut pemukiman dan kegiatan penduduk serta sudut-sudut dalam biara, ketika semua ini dikombinasikan menjadikan suatu alur tersendiri. Ditambah landscape serta latar yang indah selalu berhasil membuat saya terkagum-kagum. Dari jajaran pemainnya sendiri seperti Lambert Wilson yang berperan sebagai Christian, Olivier Rabourdin sebagai Christophe, Philippe Laudenbach sebagai Celestine serta beberapa pemain lain yang berperan sebagai pendeta biara, hampir semuanya berhasil memainkan peran mereka dengan sangat baik. Wajah depresi dan kebimbangan tergambarkan dengan cukup baik. Ya, mereka terlihat sangat natural ketika memainkan peran para pendeta ini.

Pada awalnya Of Gods and Men terlihat ingin menggambarkan bagaimana para pendeta ini bisa hidup berdampingan dengan penduduk muslim dan bagaimana mereka bisa saling tolong menolong, kemudian setelah suatu konflik agama film berubah menjadi sebuah survival serta bagaimana mereka mengambil keputusan. Film ini menghadirkan sebuah drama yang kental dengan unsur-unsur religius. Hampir setiap momen dalam film ini begitu berharga untuk dilewatkan apalagi sebuah adegan yang dilakukan oleh para pendeta ini ketika mereka berkumpul dalam suatu ruangan menikmati makanan mereka diiringi oleh alunan musik seolah-olah menggambarkan apa yang disebut 'The Last Supper'. Akhir kata, Of Gods and Men adalah sebuah drama perwujudan toleransi dan keharmonisan hidup beragama yang 'well-made', dengan representasi yang memukau, pastikan anda tidak melewati berbagai momen yang berharga ini.


RATE : 4.5 / 5

0

Welcome (2009)

Labels: , ,


Ketika seseorang sedang jatuh cinta, pasti segala cara dilakukan demi bisa menemui orang yang dicintainya tersebut. Sejauh apapun dan sesulit apapun rintangan yang ia hadapi pasti ia tidak akan menyerah demi menemui cintanya tersebut. Itulah yang dialami oleh Bilal Kayani (Firat Ayverdi), seorang remaja Kurdish asal Irak yang menelusuri perjalanan yang cukup jauh demi menemui kekasihnya Mina (Derya Ayverdi) yang berada di Inggris. Bilal berjalan sejauh ribuan kilometer menelusuri Eropa hingga ke Perancis demi bisa menemui Mina. Sesampainya di Perancis, ia hanya tinggal selangkah lagi untuk bisa bertemu dengan Mina tapi kali ini rintangan besar berada di depannya. Ia harus menyebrangi selat yang memisahkan antara Inggris dan Perancis. Karena ia imigran gelap, maka ia tidak bisa dengan bebasnya menyebrang selat tersebut. Bilal kemudian bertemu dengan Zoran (Selim Akgul), temannya yang juga ingin pergi ke Inggris. Mereka mencoba untuk menyebrang secara ilegal dengan menyusup ke dalam sebuah truk kontainer yang akan menyebrang. Sayangnya usaha mereka gagal karena kesalahan yang dilakukan Bilal akibat trauma yang dialaminya.

Usaha Bilal tidak hanya sampai di sini saja. Di sebuah kolam renang, Bilal bertemu dengan Simon (Vincent Lindon), seorang mantan perenang yang menjadi instruktur renang di tempat itu. Bilal kemudian meminta Simon untuk mengajarkannya cara berenang. Dengan berenang inilah Bilal akan mencoba menyebrang menuju Inggris. Simon sendiri adalah seorang suami yang diambang perceraian dengan istrinya. Bagi istrinya, Simon tidak pernah melakukan sesuatu yang berharga. Maka dengan inilah Simon kemudian memutuskan untuk membantu Bilal berenang demi bisa menyebrangi lautan agar bisa menemui Mina. Selain itu Simon juga memberikan perlindungan bagi Bilal berupa tempat tinggal. Sementara itu waktu yang dimiliki Bilal untuk bisa menemui Mina tidak banyak, karena ayah Mina memiliki rencana lain baginya, yaitu menikahi Mina dengan seorang pria yang menjadi pilihannya ketimbang harus mengizinkan Mina berhubungan lagi dengan Bilal.

Welcome merupakan sebuah film karya sutradara Perancis Philippe Lioret. Film yang dirilis pada tahun 2009 di negara tersebut ini berhasil meraih penghargaan di berbagai Festival Film. Beruntung film ini masuk dalam daftar film yang ditayangkan pada Festival Sinema Perancis 2011. Welcome menceritakan kisah perjuangan dua insan yang memiliki tujuannya masing-masing. Bilal seorang warga Irak yang berjuang menelusuri ribuan kilometer dengan berjalan kaki demi bertemu kekasihnya. Sedangkan Simon adalah seorang pria Perancis yang pernikahannya diambang perceraian. Simon sendiri sebenarnya masih mencintai istrinya. Oleh karena itu, dengan membantu Bilal ia berharap bisa menunjukkan kepada istrinya bahwa sebenarnya ia pun bisa melakukan sesuatu yang berarti. Maka dari itu ia pun membantu Bilal agar bisa menemui Mina. Di Perancis sendiri memberikan bantuan bahkan melakukan kontak dengan imigran gelap ilegal. Jadi beberapa kali Simon harus berurusan dengan petugas keamanan. Lucunya saat berurusan dengan mereka, Simon selalu menghadapi mereka dengan santai. Dalam film ini menggambarkan kedekatan antara Simon dan Bilal yang semakin kuat waktu demi waktu. Chemistry yang dibangun antara keduanya cukup baik walau bagi saya masih kurang 'greget'.

Selain itu para pemeran dalam film ini patut diacungi jempol. Vincent Lindon yang lagi-lagi saya melihatnya di Sinema Perancis tahun ini setelah tahun lalu ia juga tampil dalam Pour Elle dan lagi-lagi ia menampilkan performa yang cukup baik. Vincent sepertinya memang pantas memainkan peran seperti ini. Lalu pemeran lain adalah Firat Ayverdi yang dalam film ini merupakan pertama kalinya ia bermain dalam layar lebar. Walau begitu, ia cukup berhasil memerankan karakter Bilal. Begitu pula saat ia membangun chemistry dengan Simon, saat ia menceritakan pengalamannya dan saat ia bercerita bagaimana kecintaannya pada Manchester United. Pada bagian inilah yang menurut saya chemistry antara keduanya digambarkan. Setiap adegan Welcome diiringi oleh alunan denting piano yang mendayu-dayu, terkadang membuat ngantuk tetapi benar-benar pas mengiringi hari-hari Simon dan Bilal.

Welcome merupakan sebuah drama sederhana yang menceritakan kisah seorang imigran gelap yang melalui berbagai rintangan dan jauhnya jarak demi bisa menemui kekasihnya. Sebuah perjuangan yang bisa menjadi inspirasi sekaligus sedikit membuka mata kita tentang realita kehidupan imigran gelap di Perancis. Performa dari para pemain yang kuat turut mendukung Welcome menjadi karya yang cukup baik dari Philippe Lioret. Walaupun dengan alur yang lambat, bukan berarti membuat Welcome sebagai tontonan yang membosankan.


RATE : 4 / 5

0

? (2011)

Labels: , ,

 
Ketika mendengar judulnya, pasti penasaran mengapa film ini hanya diberi judul '?'. '?' memang bukanlah judul sebenarnya dari film ini. Justru kita sebagai penonton diajak untuk menebak apa judul yang tepat untuk film ini. Bahkan sampai dijanjikan hadiah sebesar 100 juta bagi siapa yang bisa memberikan judul yang tepat untuk film ini. '?' adalah film ke-14 dari Hanung Bramantyo, seorang sutradara yang dikenal dengan karya-karyanya seperti Sang Pencerah, Ayat-Ayat Cinta, Jomblo atau Get Married. '?' adalah sebuah film yang terinspirasi dari kehidupan nyata masyarakat Indonesia saat ini. Ketika konflik-konflik beragama mulai bermunculan di negeri ini mulai dari teror bom hingga pelarangan mendirikan tempat ibadah suatu agama, Hanung justru dengan cukup berani mengambil isu-isu tersebut dan memasukkannya menjadi bagian dari film '?'. Keberanian Hanung ini bahkan mendapatkan pertentangan dari 'ormas' yang mengatakan ada unsur negatif dari film ini sehingga tak pantas untuk ditonton. Justru '?' seolah ingin menggambarkan bahwa tidak perlu konflik-konflik beragama itu terjadi bila memang ada toleransi dalam kehidupan masyarakat kita ini.


'?' dibuka dengan sebuah adegan penusukan pada seorang pendeta. Adegan ini jelas sekali menggambarkan sebuah fakta yang terjadi akhir-akhir ini. Yap, anggap saja adegan ini bagian dari konflik agama dalam '?' walau sebenarnya tak terlalu berhubungan dengan cerita keseluruhan. Cerita '?' berkisar pada kehidupan masyarakat Pasar Baru di Semarang yang cukup beragam. Dalam '?' ini Hanung menyisipkan 3 agama yaitu Islam, Katolik dan Budha. Menuk (Revalina S. Temat), seorang wanita muslim yang bekerja di sebuah rumah makan Cina milik Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman). Tan adalah seorang yang sangat menghargai apa yang dinamakan perbedaan. Di rumah makannya saja ia membedakan peralatan memasak antara babi dan non babi, begitu juga dengan peralatan makannya. Bahkan ketika bulan Ramadhan ia tidak memperbolehkan rumah makannya untuk menjual babi. Ia sendiri mempunyai seorang anak yaitu Hendra/Ping Hen (Rio Dewanto) yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Hendra sendiri dulu juga pernah mencintai Menuk, tetapi Menuk lebih memilih Soleh (Reza Rahadian) yang seorang muslim. Soleh sendiri adalah seorang pengangguran. Menuk juga berteman dengan Rika (Endhita) yang merupakan seorang janda beranak satu. Rika adalah seorang Katolik, sebelum berpindah ke Katolik, ia sendiri adalah seorang muslim. Anak Rika sendiri, Abi (Baim) masih tetap beragama Islam. Rika sendiri cukup dekat dengan Surya (Agus Kuncoro) yang juga seorang muslim. Surya sendiri bekerja sebagai aktor, sayangnya selama ini peran yang ia dapatkan tidak jauh dari penjahat atau figuran.


Seluruh tokoh ini terikat dalam sebuah konflik agama dan juga konflik pribadi. Rika yang pindah dari Islam ke Katolik sering kali mendapat cemoohan dari warga sekitar. Bahkan anaknya sendiri menganggap ibunya telah berubah. Hendra yang merupakan seorang Cina selalu dicemooh beberapa warga muslim bahkan ia membalas mereka yang mencemoohnya dengan mengatakan mereka adalah teroris. Hendra sendiri juga mempertanyakan kenapa ayahnya selalu menghargai mereka yang berbeda agama dengannya. Soleh yang ingin berarti bagi Menuk dan adiknya, serta Surya yang tidak pernah mendapatkan peran baik saat ia bermain film. Surya sendiri juga memiliki hubungan dengan Rika dari sinilah Surya mendapatkan tawaran untuk bermain drama pada acara gereja memperingati Paskah dan Natal. Berbagai konflik yang dibangun tidak hanya mengedepankan permasalahan mereka saja tetapi juga mengangkat nilai-nilai moral yang bisa dipetik.

Keberanian Hanung menggarap film ini memang patut diacungi jempol. Film bertema toleransi agama memang cukup jarang mengingat setiap ada film dengan tema tersebut selalu saja menuai kontroversi. Kalau kita melihat siapa saja yang berada dibalik pembuatan '?' tentu tidak perlu meragukan kualitas film ini. Skenario '?' ditulis oleh Titien Wattimena, film-film yang ditulis olehnya hampir selalu berkualitas, sebut saja seperti Minggu Pagi di Victoria Park, Love atau Mengejar Matahari. Lalu pada sinematografi adalah Yadi Sugandi yang juga pernah terlibat dalam Minggu Pagi di Victoria Park. Sedangkan untuk penata musik dipegang oleh Tya Subiakto. Dari cerita sendiri, Titien cukup berhasil membangun cerita yang menggabungkan berbagai konflik baik itu agama maupun konflik pribadi. Dengan banyaknya karakter dalam film ini tapi tidak begitu saja hanya fokus pada satu karakter dan melupakan karakter yang lain, tapi semuanya mendapatkan porsi yang hampir berimbang. Sinematografi dari Yadi Sugandi yang cukup memukau, adegan demi adegan yang ditampilkan benar-benar ciamik. Yadi telah menyelesaikan tugasnya dengan cukup baik. Satu lagi yang bisa patut diacungi jempol adalah musik pengiring dari Tya Subiakto yang dengan baik menempatkan pengiring yang sesuai dengan adegan bahkan suasananya. Seperti ketika adegan di rumah makan masakan Cina yang berlatarkan musik khas Cina atau suasana ketika berada dalam gereja. Yang cukup menarik lagi adalah munculnya lagu dari Sheila on 7 dipertengahan film yang dimainkan oleh pengamen menggambarkan 'kegalauan' yang dialami karakter dalam '?'. Keberanian akting para pemerannya pun tidak kalah pentingnya. Lihat saja Agus Kuncoro yang selama ini kita lihat di film-film religi Islam kali ini harus mendalami peran Yesus dalam sebuah drama atau Endhita yang menjadi seorang wanita Katolik. Berperan menjadi sesuatu yang berbeda memang tidak mudah tetapi mereka berhasil melakukannya dengan baik.

Hanung bisa dibilang cukup berhasil membangun konflik yang bertingkat dan kompleks. Keseluruhan cerita berjalan dengan cukup mulus walaupun pada bagian akhir memang terasa sedikit dipaksakan, tetapi hal tersebut tidak mengurangi penilaian saya terhadap film ini. Beberapa orang mungkin berkata bahwa '?' terkesan preachy, tetapi tidak bagi saya. Film ini justru menggambarkan sebuah fakta kehidupan beragama masyarakat kita saat ini yang tidak mungkin kita menutup mata atas apa yang terjadi akhir-akhir ini. Yap, '?' adalah sebuah film yang mengangkat kehidupan sosial yang digarap dengan baik, diluar kontroversi-kontroversi yang terjadi tentunya cukup banyak pesan moral yang dapat diambil. Well made...


RATE : 4 / 5

0

Battle: Los Angeles (2011)

Labels:


Bayangkan bagaimana jadinya jika perang seperti yang terdapat dalam Black Hawk Down atau Saving Private Ryan digabungkan dengan film-film sci-fi seperti Alien atau film bertemakan invasi makhluk asing seperti War of the Worlds atau Independence Day. Yap, Battle: Los Angeles mengggabungkan kedua elemen tersebut kedalam satu film. Film ini menceritakan invasi makhluk asing ke Bumi secara serempak di beberapa kota besar dunia. Selama bertahun-tahun berbagai dokumentasi memperlihatkan penampakan UFO atau pesawat asing yang ditemukan di berbagai belahan dunia. Hingga pada 12 Agustus 2011, bermula dari jatuhnya benda yang dianggap meteor di pesisir pantai yang ternyata adalah makhluk asing mulai menyerang kota-kota tersebut hingga banyak korban sipil yang berjatuhan. Los Angeles, salah satu kota yang mendapat invasi makhluk asing tersebut, militer pun mulai bergerak demi menyelamatkan penduduk sipil yang masih berada di kota itu. Salah satu dari pasukan yang diperintahkan untuk menyelamatkan warga sipil adalah tim yang dipimpin oleh Lt. William Martinez (Ramon Rodriguez) yang terdiri dari Staff Sgt. Nantz (Aaron Eckhart) dan anggota tim lainnya. Sgt. Nantz sendiri memiliki pengalaman buruk dengan pernah meninggalkan anggota timnya hingga mereka semua tewas. Berdasarkan pengalaman ini Martinez tidak begitu mempercayai Nantz. Tugas mereka kali ini adalah menyelamatkan warga sipil yang terjebak di sebuah kantor polisi di Los Angeles dalam waktu 3 jam sebelum dijatuhkan bom di kota itu untuk menghabisi para makhluk asing.

Tugas mereka ini tidaklah mudah. Para alien ini ternyata dilengkapi dengan persenjataan yang lebih canggih dan juga kemampuan militer yang tidak kalah dengan pasukan marinir ini. Satu per satu korban dari pihak mereka pun berjatuhan dan di tengah perjalanan mereka juga bertemu dengan tim lain yang juga tersisa hanya tinggal beberapa orang saja. Salah satunya adalah Elena Santos (Michelle Rodriguez) yang sebelumnya mendapatkan tugas khusus menyelidiki keberadaan musuh. Sampai di tempat tujuan dan menemukan warga sipil yang selamat, kini mereka harus menelusuri jalan kembali untuk sampai ke daerah aman di Santa Monica Airport. Pasukan makhluk asing itu sudah menanti sepanjang perjalanan mereka apalagi ternyata mereka juga mempunyai angkatan udara yang tak kalah berbahayanya, sementara waktu yang mereka miliki semakin berkurang sebelum dijatuhkannya bom di kota itu.

Battle: Los Angeles sebenarnya terinspirasi dari kejadian yang terjadi di kota tersebut pada masa perang dunia II dimana pada waktu itu alarm kota Los Angeles sempat dibunyikan akibat serangan yang ditujukan pada pasukan Jepang pada masa itu, tetapi ada rumor bahwa itu sebenarnya adalah pesawat UFO. Battle: Los Angeles sendiri merupakan bagian dari World Invasion yang rencananya akan dibuat beberapa film berkaitan dengan "invasi alien" ini. Untuk Battle LA sendiri disutradarai oleh sutradara asal Afrika Selatan, Jonathan Liebesman. Sedangkan untuk skenario sendiri ditulis oleh Christopher Bertolini. Dijajaran visual effect terdapat dua nama yaitu Colin Strause dan Greg Strause. Keduanya memang sudah tidak perlu diragukan lagi dalam hal visual effect. Cukup banyak film-film dimana mereka berdua terlibat dalam visual effect yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Yang menarik adalah salah satu film karya mereka Skyline yang memiliki plot bisa dibilang hampir mirip, bahkan disebut-sebut bahwa mereka mencuri ide dari Battle LA ini untuk membuat Skyline. Mungkin inilah salah satu penyebab jadwal rilis Battle LA yang sempat diundur. Untungnya apa yang mereka lakukan untuk Battle LA ini cukup baik. Sepanjang film kita memang disajikan dengan berbagai visual effect. Mulai dari para 'makhluk asing' termasuk dengan pesawat dan persenjataan mereka, ledakan-ledakan sepanjang film hingga gambaran kota Los Angeles yang hancur akibat invasi makhluk asing ini.

Ketika menyaksikan film ini seperti merasakan sensasi bermain game Battlefield dengan "makhluk asing" sebagai musuhnya. Serunya pertempuran antara pasukan marinir US dengan para alien seolah-olah membawa kita ke dalam pertempuran tersebut. Liebesman cukup berhasil menggabungkan suasana perang seperti pada Black Hawk Down dan menyisipkan unsur sci-fi dengan menjadikan makhluk asing sebagai musuh para marinir ini, sayangnya kalau di Black Hawk Down kita merasakan bagaimana para marinir itu terjebak di antara musuh dan disini suasana seperti itu masih kurang. Walau mereka berada di kota LA yang sudah dikuasai makhluk asing tapi seolah-olah makhluk asing ini tidak mengetahui keberadaan mereka. Jadi unsur survival yang sebenarnya bisa lebih ditekankan di film ini. Dari plot sendiri sedikit de javu dengan plot Black Hawk Down yang bisa dikatakan hampir mirip. Memang tidak ada yang istimewa, bahkan terdapat plot hole di beberapa bagian dan terkesan klise. Untungnya aksi perang yang intense bisa menutupi kekurangan dari sisi cerita.

Battle LA memang jauh dari kata sempurna. Kekurangan yang terdapat pada ceritanya untung saja bisa ditutupi dengan aksi-aksi pertempuran seru melawan makhluk asing yang tetap bisa menjadi sebuah tontonan yang menarik dan pastinya menghibur. Jika membandingkan film ini dengan Skyline karya Strause bersaudara, tentu Battle LA masih jauh lebih baik. Walaupun film ini mendapatkan banyak review buruk dari kritikus film, setidaknya saya masih bisa menikmatinya. Well, This is only the beginning...


RATE : 3.5 / 5