The Hunger Games (2012)

Labels: ,


Dari novel dengan judul yang sama karya Suzanne Collins, The Hunger Games berkisah tentang kehidupan di masa depan di negara yang dikenal dengan Panem. Setiap tahunnya dipilih masih-masing satu laki-laki dan perempuan dengan usia antara 12-18 tahun dari 12 distrik berbeda di negara itu untuk mengikuti permainan yang dinamakan The Hunger Games. Permainan untuk merayakan bagaimana setiap distrik di negara tersebut pernah melakukan pemberontakan yang pada akhirnya distrik 13 dihancurkan. Urutan distrik menggambarkan tingkat kemakmurannya dan distrik 12 merupakan distrik yang bisa dikatakan paling miskin dan terbelakang. Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) adalah seorang perempuan berumur 16 tahun dari distrik 12. Memiliki kemampuan untuk memanah dan berburu berteman dengan Gale (Liam Hemsworth) yang ayahnya juga tewas dalam sebuah kecelakaan di tambang. Katniss memiliki seorang adik Primrose (Willow Shields) yang berusia 12 tahun. Dalam pemilihan tersebut, Prim terpilih dan untuk menyelamatkan adiknya, Katniss memilih untuk menjadi sukarelawan menggantikan adiknya. Bersama dengan laki-laki yang terpilih Peeta Mellark (Josh Hutcherson), Katniss mewakili distrik 12 mengikuti The Hunger Games.



Tentu tidak mudah bagi Gary Ross yang dipercaya untuk mengadaptasi novel The Hunger Games menjadi sebuah film yang diterima penggemarnya ataupun orang awam yang sama sekali belum pernah membaca novelnya. Cukup menarik ide dari Suzanne Collins menciptakan permainan yang dinamakan The Hunger Games ini. Peraturan dari The Hunger Games sebenarnya cukup sederhana, masing-masing yang terpilih yang disebut Tribute diharuskan untuk bertarung di arena yang dibuat khusus untuk permainan ini dengan bermodalkan senjata dan bahan makanan yang disediakan oleh penyelenggara, mereka diharuskan bertahan hidup sampai tersisa hanya satu dari mereka. Mungkin bagi beberapa atau banyak orang The Hunger Games mengingatkan pada Battle Royale, film asal Jepang yang juga diadaptasi dari novel menceritakan survival game yang diikuti oleh anak-anak sekolah yang terpilih. Kemiripan inilah yang membuat sebagian besar penonton membandingkan Battle Royale dengan The Hunger Games. Tapi jangan harap anda dapat menemukan pertarungan yang penuh darah seperti yang dilihat dalam Battle Royale. Kali ini Gary Ross bermain aman terhadap rating filmnya, daripada mendapatkan R rating, ia lebih memilih PG-13 agar film ini bisa dinikmati oleh kalangan yang lebih luas.


Dua tokoh utama yang menjadi Tribute dalam The Hunger Games ialah Katniss dan Peeta yang masing-masing dibintangi oleh Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson. Jennifer Lawrence yang pernah berperan dalam X-Men First Class sebagai Raven kini beradu akting dengan Josh Hutcherson. Keduanya harus membangun chemistry yang baik lantaran dalam film ini akan banyak drama yang terjalin diantara dua karakter yang mereka perankan. Sayangnya kalau anda mengharapkan romantisme seperti dalam Twilight Saga pastinya anda akan menyesal. The Hunger Games terlihat seperti percintaan remaja pada umumnya dan tidak berlebihan semacam dalam Twilight Saga. Jadi bisa dikatakan film ini jauh lebih baik dalam hal romantisme, walaupun begitu kegagalan Gary Ross dalam menyelami lebih jauh hubungan yang lebih dekat antara Katniss dan Peeta yang padahal chemistry antara keduanya masih bisa dieksplorasi lagi. Selain dua tokoh di atas, ada beberapa tokoh pendukung lain seperti Haymitch yang diperankan oleh Woody Harrelson dan Cinna yang diperankan oleh Lenny Kravitz dimana keduanya menjadi pendukung bagi Katniss dalam permainan ini.

The Hunger Games yang bersetting di masa depan yang pastinya dinanti adalah kecanggihan macam apa yang terjadi di masa itu. Di awal film ketika kita dibawa ke distrik 12 pastinya yang dilihat kehidupan di masa itu tidaklah jauh berbeda. Tapi begitu pemilihan kemunculan wanita Effie dengan gaya nyentrik dan fashion yang membuat kita mengerutkan dahi membuat seolah pemikiran kita berubah tentang dunia masa depannya. The Capitol inilah yang menjadi gambaran masa depan dunia The Hunger Games. Sebuah kota modern tapi dengan gaya hidup penduduknya yang terlihat nyentrik dan fashionable sekilas mengingatkan pada kehidupan bangsawan masa lalu. Ya mungkin ini bisa jadi suatu bahasan tersendiri bagi mereka yang peduli pada desain kostum sebuah film.

The Hunger Games menjadi sebuah sisi lain dari Battle Royale atau Battle Royale versi remaja dengan unsur drama dan percintaan remaja pada umumnya. Gary Ross membuka trilogi novel The Hunger Games dengan cukup baik. Bagi penggemar novelnya tentu tidak sabar menunggu kehadiran sekuelnya Catching Fire dalam kurun satu tahun ke depan. So, Happy Hunger Games and may the odds be ever in your favor...


RATE : 3.5 / 5

3 comments:

  1. jogjalover said...:

    haha,,ternyata bukan cuma saya yg kaget dengan dandanan ala capitol di film ini. Selama ini di mindset saya, film yg bersetting futuristik tu pasti pakaiannya yg simple dan mungkin hanya black and silver color aja ya. Tapi mungkin emang harus kayak di film ini kali ya seharusnya gambaran fashion di masa depan itu,,haha..meskipun saya akan berpikir ulang jika di masa depan harus memakai kostum yg konyol seperti itu (in my opinion, they look like dumb-weird clowns,,oopps)
    Secara keseluruhan, filmnya bagus,,,(better than twilight I think)

  1. flik_kenni said...:

    hahaha, agree much better daripada adaptasi twilight :)

    dan thanks udah mampir :D

  1. aasas said...:

    tolong buatkan kaya ceritaxa pake bhs enghlish biar ngerti smua

Post a Comment